BLANTERWISDOM101

Cermin dan Sudut Pandang

31 May 2020
Pagi ini, di sebuah rumah kecil yang berdiri puluhan tahun. Saya berada di titik paling belakang rumah tersebut. Di dapur, di sinilah saya dan kedua orang tua saya saling ketemu setelah selesai ubyek sendiri-sendiri. Mamak selesai masak untuk sarapan pagi ini, bapak selesai beresan kebun sedangkan saya baru saja selesai desain produk.

Saya ke dapur hendak mengisi ulang botol minum yang sudah habis. Bapak sudah berada di meja belakang untuk sarapan. Ibu yang sudah selesai berkarya mengombinasikan genjer dengan tempe menjadi sayur penuh cinta, kini ia pergi ke ruang depan bersama adik saya yang sibuk ngemil jajanan lebaran.

Sembari menunggu penuhnya air yang saya isi, mata saya tertuju pada sebuah cermin besar pada lemari. Lemari tersebut terletak tepat di belakang meja makan yang bapak tempati. Bapak yang kini sedang asyik menikmati sarapan tanpa menggunakan bantuan sendok, tampak begitu jelas dari cermin tersebut.

Cermin, apa yang menarik dari cermin itu? Kita semua tahu bahwa cermin adalah kaca bening yang salah satu mukanya di cat dengan air raksa dan sebagaiannya memperliatkan bayangan setiap objek yang ditaruh di depannya. Kebetulan bapak sedang di depan cermin, dan saya menemukan dunia lain yang berada di balik cermin itu. Dunia terbalik.

Sebuah fakta yang umum diketahui, cermin selalu membalikkan realita. Sederhananya, bapak sedang sarapan menggunakan tangan kanannya, nikmat sekali, begitupun dengan minumnya. Tapi, ketika di lihat dari cermin semuanya terbalik. Bapak terlihat menikmati makanan dengan tangan kirinya.

Ada nilai etika yang berbeda di antara keduanya. Pada dunia cermin, bapak secara etika jelas kurang baik karena makan menggunakan tangan kiri. Etika pada dunia cermin ini mengingatkan saya pada persoalan sudut pandang. Kenapa? Karena dalam sudut pandang semua bisa di bolak-balik, yang harusnya biasa saja jadi luar biasa (berlebihan). Sebab sudut pandang selalu tergantung pada selera, tergantung pada cermin apa yang digunakan.

Pada suatu waktu kita berada di dunia sebenarnya, pada dunia yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Nah, semua persoalan yang ada di dunia tersebut kita, kita pikirkan dan tafsirkan dengan sudut pandang, untuk mendapatkan sebuah pemaknaan pada setiap peristiwa.

Misalnya cermin di dapur saya ini, saya sebut sebagai sudut pandang orang lain, bukan sudut pandang saya selaku individu. Saya lihat langsung bahwa bapak makan dengan tangan kanannya, tapi datang atau ada sesuatu yang memberi saya sudut pandang berbeda, si cermin ini. Bapak ternyata makan dengan tangan kiri.

Fakta satu, mata saya melihat bapak makan dengan tangan kanan. Fakta dua, mata saya melihat (dan dirangsang cermin) bahwa bapak maksn dengan tangan kiri. Keduanya jelas benar. Tapi bagaimana kalau saya taklid pada pemaknaan atas apa yang ditampilkan cermin? Akan jadi masalah tentunya

Pada keadaan saya tersebut, saya baru berurusan dengan cermin datar, yang hanya menampilkan objek secara 180 derajat. Bagaimana jika dengan cermin cekung atau cermin cembung? Tentu ini akan menghasilkan pandangan yang lebih berbeda lagi, ada persoalan jarak dan perbedaan ukuran objek dengan bentuk-bentuk yang nyleneh.

Persoalan sudut padang memang menarik. Bagaimana akhirnya saya juga mengerti bahwa dalam kehidupan ini, orang yang punya sudut padang beragam, ada yang cekung (terlalu jauh dalam menilik persoalan), dan ada yang cembung (terlalu dekat dalam menilik persoalaan), atau datar dengan rasio beda 180 derajat tersebut. Yang jelas, setiap orang, bahkan diri kita sendiri pun punya sudut pandang itu, semua bisa dipergunakan sesuai seleranya masing-masing.

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."