BLANTERWISDOM101

Manusia

18 January 2020
Perkara apa yang tak pernah selesai dibicarakan oleh manusia? Sebuah pertanyaan yang kerap kali membuat kami sering berdiskusi bahkan debat tak berujung. Sampai pada akhirnya kami berada di satu titik dimana kami sama dalam menjawab pertanyaan tersebut, bahwa yang tak pernah habis dibicarakan oleh manusia adalah manusia itu sendiri.

Aku pernah mengatakan pada Salman perihal tulisan Pram di buku Bumi Manusia, bahwa, "Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput."

Salman mengangguk saja saat itu, tanda ia memang percaya. Tak mau menambahkan argumen ngototnya lagi. Entah memang sudah lelah, atau entah apalagi, yang pasti tak diragukan, ia sudah sama denganku perihal ini. Tapi lambat laun aku tahu dia memang orang yang gila pada karya-karya Pram. Ia juga mengatakan bahwa ia suka liberal, ia adalah liberal, itu diakuinya. Padahal menurutku ia hanya sok liberal. Tapi yang pasti, yang ku suka darinya sejauh ini adalah skeptisnya pada pengetahuan, pada setiap narasi yang ia ketahui, ia selalu menyangsikannya.

Seperti pada pernyataan yang sudah ku lontarkan tadi, ia menanggapi, dengan pertanyaan yang justru menyangsikan dirinya sendiri, "Manusia.., ohh, manusia. Apa aku ini manusia?"

"Apa lagi kalau bukan?"

"Kita hidup sebagai manusia. Manusia yang hidup. Hidup dengan penuh perkara, bahkan saban detik datang masalah-masalah baru. Semakin kita banyak tahu tentang sesuatu, semakin pula kita menemui banyak masalah baru."

"Man, hidup itu tak serumit yang kau bayangkan. Semakin banyak kita tahu, semakin banyak pula kita peka terhadap sesuatu. Menemukan hal-hal baru, termasuk perihal masalah. Wajar."

Salman grusak-grusuk, berganti posisi badan, yang tadi duduk di pojok pintu kini merebahkan badannya dan bergaya sok seperti Sherlock Holmes, jari-jari tangannya disatukan dan ditempelkan di dagu, "Hidup memang sederhana, tapi apa kau menyadari, dimana bagian paling mewah nan indah dari hidup yang kita jalani ini?"

"Hmm," sejenak ku berpikir. "Menikmatinya? Mensyukuri?"

"Yang kau ucap barusan adalah hasil pemaknaanmu sendiri tentang hidup, sedangkan yang lebih dasar, atau bagian paling mewah dari hidup itu sendiri adalah tafsirannya. Kau boleh menafsirkan terserah seperti apa hidup ini. Karena itulah hak mu, cara pandangmu untuk tahu tentang hidup dan menghidupi. Mau kau nikmati bahkan sesali sekalipun, bebas. Bagiku terserah, sebebasmu."

Aku mengangguk, lalu berpaling dan meninggalkannya ke Dapur untuk kemudian membuat secangkir Kopi.

"Man," teriakku. "Setiap manusia berhak atas tafsirnya masing-masing, tafsir yang menghasilkan sudut pandang masing-masing. Semakin banyak manusia menafsirkan hidup, semakin banyak pula cara pandang tentang hidup. Hidup adalah tentang cara memandang. Urip iku sawang sinawang, begitu kata orang Jawa, Man."

Beberapa menit berlalu, terasa sunyi, sedari itu juga tak ada tanggapan darinya. Apa ia sudah tak mau berbicara lagi? Aku kembali ke depan dan ternyata ia telah pergi, entah kemana, tanpa permisi.

Salman, kerap kali begitu, tiba-tiba datang, tiba-tiba pergi. Semaunya. Dasar manusia.

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."