BLANTERWISDOM101

Catatan Hari Kamis (Pengendara)

12 January 2020
Kamis lalu (09/01), setelah selesai dari acara pernikahan saudara, saya pamitan pulang, sebab adik sudah kelelahan dan ingin segera rebahan. Dari Pekalongan, Adirejo, menuju Metro Utara, Purwosari. Kalau dihitung dengan waktu, maka jarak yang ditempuh memakan sekitar 15 menit.

Saat itu saya sedang malas mengendarai motor. Akhirnya, saya tawarkan ke adik saya, “Kamu nyetir ya, Mron?” dan adik saya yang baru saja kelas VII dan baru bisa mengendarai motor pun sangat senang. Padahal jalan yang harus dilewatinya adalah jalan lintas yang menghubungkan Metro-Lampung timur.

Bagi orang-orang yang baru saja bisa mengendarai motor tentu siapapun yang mengerti akan merasa was-was. Sebab di jalan lintas, kendaraan besar dan kecil lalu lalang. Tapi tetap saja saya memberikan motor untuk dikendarai dengan tetap mengawasinya.

Tak hanya dibiarkan saja mengendarai sesukanya, pada intinya saya juga mengajari bagaimana dia harus bisa memberikan kode-kode yang umum untuk memberi tanda ke pengendara lain, seperti timing menggunakan sen untuk berbelok, kapan mengondisikan posisi di tengah untuk kemudian berbelok, dan bagaimana ia harus menggunakan klakson untuk memberi kode pada orang-orang di sekelilingnya.

Memang pada akhirnya saya juga was-was, ia masih minim pengalaman dalam berkendara, keragu-raguan yang ia utarakan membuat saya merasa apakah ini bahaya? Pada akhirnya saya membelokan motor ke arah yang lebih minim lalu-lalang kendaraannya. Lalu ia pun kembali menikmati profesi dadakannya sebagai sopir motor pribadi saya.

Saya menilai bagaimana ia berkendara selama dari pekalongan hingga sampai di rumah dengan selamat. Intinya ada di pengalaman, ia sangat minim pengalaman karena belum terbiasa dalam berkendara, dan itu membuat ia merasa ragu-ragu. Seperti ragu harus dengan kecepatan berapa ketika berkendara pada volume kendaraan yang ramai dan sepi, serta ragu bersikap apa untuk berbelok ketika kendaraan sedang ramai.

Satu kejadian di tikungan patung 21 Yosomulyo yang saya kira menjadi pengalaman sangat berharga baginya. Di sebuah jalan simpang tiga, saya perintahkan ia untuk berbelok ke kanan menuju komplek 22 Hadimulyo Timur yang lebih sepi kendaraan.

Saat itu kendaraan sedang lalu-lalang. Adik saya bingung, ia menurunkan kecepatan laju motornya dan berada di tengah jalan, sangking ragunya ia lupa memberi kode sen, tapi saya tetap memberi kode berbelok dengan tangan (secara manual) ke pengendara yang lain.

Ada pengendara yang mengklaksonnya, adik saya pun kaget, bingung, lalu saya perintahkan dia untuk tekan sen, ia malah bingung, gagap, kaku harus berbuat, bahkan mau menarik gas motor saja juga ragu. Seketika itu saya ambil alih kendali dan membelokkannya menuju jalan yang kian sepi kendaraan. Dan ia pun mengendarainya lagi dengan damai.

Pengalaman Berkendara

Menarik sekali kejadian sederhana ini bagi saya, perihal mengendarai motor saja, saya belajar bahwa dalam menentukan sesuatu, harus ada pertimbangannya, mereka yang tak berpengalaman akan bingung mau melakukan apa, seperti adik saya tadi. Dan di sinilah pengalaman punya peran yang sangat penting dalam hal pengambilan keputusan tersebut.

Saya langsung membandingkan, adik saya dengan saya sendiri. Dia yang baru saja bisa mengendarai sebuah kendaraan dengan saya yang sudah bisa bahkan sering menggunakan kendaraan. Adik saya merasa bingung harus bagaimana ia berbelok, sedang jika itu saya, tentu saya akan membuat kode dengan sen beberapa meter sebelum belok dan membunyikan klakson bahwa saya akan melakukan perubahan arah. Pada intinya agar tak ada miskomunikasi dengan pengendara lain.

Dalam hal ini pengalaman teknis sangat diperlukan untuk mengetahui bagaimana kondisi dan situasi lapangan (alias jalan raya) agar bisa tepat dalam melakukan sesuatu. “Iso Jalaran Soko Kulino,” begitulah kata orang jawa, bisa karena biasa. Mengendarai motor memang perlu pengalaman teknis agar tidak semena-mena dalam berkendara. Semua dilakukan dengan cara pembiasaan.

Selain itu, pengalaman emosi juga menjadi hal  yang wajib dalam berkendara,  sebab juga menentukan sebuah keputusan untuk melakukan tindakan. Saya jadi ingat bagaimana prosedur pembuatan SIM (Surat Izin Mengemudi—yang sebenarnya), salah satunya ada psikotes. Tes ini dilakukan dengan tujuan melihat bagaimana kondisi psikis si calon pengendara. Perlu diketahui, dalam berkendara, hal-hal sepele sering terjadi dan harus disikapi dengan santuy, sebab tak jarang orang emosi di jalan karena hal yang, ahh, saya pikir itu receh sekali.

Dalam berkendara harusnya seorang pengendara juga pintar dalam mengendalikan emosi. Banyak orang tak mampu mengendalikan ini dan justru stress bahkan marah-marah sendiri. Pernah suatu ketika teman saya baku kata dengan pengendara lain hanya karena klakson. Ceritanya, teman saya ini diklakson karena posisi berkendaranya radak menengah (padahal ini hal biasa yang ia lakukan, sebab dia sedang berada di dekat rumahnya sendiri dan jalanan memang bukan jalan lintas yang ramai, ia pun sedang tidak melaju dengan kecepatan tinggi, alias santai sekali). Spontan teman saya teriak, “Santai aja kalo jalan, woyyy.” Pengendara yang diteriakinya pun mendengar, lalu berhenti dan menghampiri, lalu mereka tatap-tatapan muka dan baku kata.

Barangkali kalau ada satu diantara mereka memukul duluan, jadilah baku hantam. Beruntung saya meleburnya dengan klaim kami memang salah. Akhirnya selesai sudah, meski berujung saling tunjuk dengan kata, “Inget muka saya!”. Ini hal sepele sekali, tak perlu sampai segitunya. Kita memang harus belajar mengendalikan emosi. Santai, santun dalam berkendara itu memang perlu.

Hal-hal kecil lainnya seperti, di ciprati air saat jalanan tergenang air, di klakson tiba-tiba oleh mobil truk, di kebulin oleh kendaraan-kendaraan solar, di kecengin oleh kendaraan-kendaraan lain, di tipu pengendara yang sen kanan beloknya kiri, dan lainnya lagi. Kalau bisa diselesaikan dengan santai, ya santai saja, tak harus baku kata seperti teman saya, atau sudahlah biarkan saja, save your energy.

Sebagai pengendara, kita memang harus paham perihal teknis di jalanan, serta harus mampu menguasai emosi untuk hal-hal yang kadang tidak perlu. Dua hal sederhana yang setidaknya menentukan bagaimana kita dalam bertindak, atau dalam hal ini berkendara. Saya justru menarik lebih jauh lagi perkara ini dalam sebuah konteks kehidupan yang lebih komplek, lalu berkata, "Sebagai pengendara yang berjalan di jalan kehidupan, sudah semestinya saya belajar dengan berbagai pengalaman (sudut pandang), lalu menikmatinya dengan penguasaan diri atas emosi yang sering meronta. Dan selamat sampai tujuan."

Metro, 12 Januari 2020
Purwosari

Foto hanya pemanis. Ini di Sumbersari, Bantul (11/01)

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."