BLANTERWISDOM101

Ruang Lebar dan Rokok

13 December 2019
Jadi, malam ini (12/12), dalam balutan tema merawat silaturahim edisi malam Jumat, saya disibukan dengan dua momen, pertama kumpul makan-makan di forum pemuda (tapi ternyata anak-anak dan ibu-ibu juga ada), lalu setelahnya acara Yasinan bapak-bapak di rumah saya.

Di forum pemuda tersebut, saya ada di rumah pak RT.10 (Supiyo). Makan bareng, cerita bareng, sambil arisan kecil-kecilan. Rumah pak RT ini sepenglihatan saya adalah rumah dengan bentuk model versi lama (yang seumuran dengan rumah saya), tapi sudah di modif sedikit-sedikit jadi lebih kekinian.

Rumah-rumah model lama tersebut terlihat selalu punya ruang yang lebar di depan. Saya pernah dibilang sama bapak waktu SMP dulu, "Omah iki ngarepe ombo ben nek pas ono Yasinan iso muat akeh." (Rumah ini depannya lebar biar kalau ada Yasinan bisa muat orang banyak). Rumah pak RT, pun begitu. Termasuk beberapa rumah warga di sini yang seumuran dengan rumah saya (Ehh, rumah bapak saya ding).

Sebegitu pentingnya pertemuan langsung sampai menjadi semacam budaya bahwa rumah (seminimalisnya) harus di desain punya ruang yang lebar untuk berkumpul (masyarakat). Kalau desain rumah sekarang gimana ya?

Selain rumah dengan ruang depan yang lebar. Ada hal lain yang tak luput dalam pentingnya pertemuan (silaturahim) malam ini, khususnya laki-laki, adalah Rokok. Di sini, Purwosari (bahkan saya yakin di seluruh Indonesia) Rokok adalah hal yang wajib ada dalam setiap event/pertemuan.

Di yasinan bapak-bapak inilah, rokok selalu disediakan. Saya yang tidak merokok selalu geser (alias pindah) lebih dulu. Padahal sebenarnya di dalam kubangan asap rokok (karena mayoritas bapak-bapak yang yasinan di rumah perokok), ada banyak cerita keadaan sosial terkini yang terjadi.

Saya sangat tertarik sebenarnya, untuk guyup, dan menyimak cerita keadaan sosial (lingkup masyarakat sekitar) tersebut, tapi saya selalu menghindar dengan kepulan asap Rokok yang masif, bukan berarti saya benci Rokok, tapi karena saya memang sayang pada diri sendiri.

Ohh, ya, ada semacam diskriminasi sepertinya. Mosok laki-laki selalu disamakan, dalam maksud sama-sama perokok, selalu disediakan rokok, sedang yang tidak merokok tidak diberi opsi lain. Bukannya rokok sama halnya dengan cemilan (alias teman ngobrol)? Nah, yang nggak ngrokok kok nggak dikasih cemilan beneran gitu ya? Atau apa di suruh untuk ngunyah rokok?

Suasana yasinan malam jumatan (12/12) di rumah.

Suasana kumpul arisan kecil-kecilan @BiangKerox28 di rumah pak RT (Supiyo)

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."