BLANTERWISDOM101

Persepsi dan Fakta: 2 Hal yang Sering Lupa Dibedakan

16 December 2019
Foto hanya pemanis, meski saya tahu, Jus Alpukatnya jauh lebih manis. Lanjut baca!
Ada dua hal sederhana yang kadang kita sendiri lupa membedakan. Tentang persepsi dan fakta. Jadi dua hal ini seringkali menjadi sebab dari masalah karena kita tak mampu membedakan. Apa itu persepsi dan apa itu fakta?

Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses yang dilalui seseorang untuk mengetahui beberapa hal dari pancainderanya. Sedangkan fakta adalah keadaan atau peristiwa yang merupakan kenyataan, sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi.

Untuk lebih mudah membedakannya, saya akan berikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saya adalah seorang warga pendatang yang baru saja hadir di sebuah kampung yang masih mayoritas dihuni warga asli.

Di kampung tersebut warga asli memiliki karakter yang pendiam, ramah, lembut, menunduk tak mau menatap orang yang diajak bicara, dan tidak mau bersentuhan ketika bertemu orang baru. Maksud warga asli ini tak lain adalah menjaga atau menghormati para pendatang.

Sedangkan saya adalah kebalikan dari tipe warga asli. Saya orangnya jojong (enjoy), vokal ngomong asal njeplak, dan gampang untuk bersentuhan alias mudah melakukan hal yang disebut ngakrab kepada orang baru (misal: mengajak salaman).

Anggap saja di dalam kampung tersebut ada warga asli bernama Yono, lalu bertemulah saya dengannya. Saya, menyentuh pundaknya, “Halo, mas Yono, gimana kabarnya? Saya Taqim dari kampung B.” Lalu saya hendak menyalaminya. Yono sebagai warga asli membalasnya dengan menunduk, tak mau menatap dan tak menyentuh/menyambut tangan saya.

Saya selaku orang baru pasti heran, merasa beda, bahkan aneh. “Ini kenapa, kok gini?” Dari hal ini, persepsi mudah sekali muncul. Saya bisa saja salah, menyimpulkan, atau memberi tanggapan bahwa Tono ini orangnya pemalu banget, orangnya nggak asyik, orangnya penakut, nggak sopan mengabaikan orang yang mau kenalan dan lain sebagainya.

Bahkan, Yono pun bisa saja punya persepsi yang lain juga tentang saya, misalnya saya ini orang yang: nggak sopan asal senggol/sentuh saja, sok ngakrab, nggak tau diri, nggak tau krama, orang yang keras, lantang provokatif dan lain sebagainya.

Anggapan-anggapan itulah yang disebut persepsi. Padahal yang merupakan fakta dari contoh di atas cukuplah sederhana; Tono adalah warga asli, tipenya lembut dengan maksud sopan-santun, sedangkan saya warga pendatang, tipenya enjoy bersentuhan dan lantang dengan maksud agar mudah akrab.

Kadang justru karena persepsi kita tentang sesuatu terlalu berlebihan malah membuat diri kita makin kesusahan. Maksudnya sederhana atau biasa saja, ehh persepsinya berlebihan malah bikin semua jadi nggak karuan. Mana fakta mana persepsi, mari kita memahaminya mulai dari hal-hal kecil yang ada di dalam diri kita, misal di lingkup keluarga, teman, sahabat, pacarnya dan lain sebagainya. 

Pada akhirnya sikap apa yang perlu diambil agar kita tidak masuk dalam lorong persepsi yang berlebihan itu? Ya, ngobrol, cerita, terbuka dengan caranya masing-masing, atau jika dalam sebuah informasi, tabayyun.
Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."