BLANTERWISDOM101

Menikmati Jalan Pulang 2 (#MariBercerita)

03 December 2019
Hari ini (03/12), saya melakukan rute perjalanan pulang yang lebih jauh dari biasanya. Saya pulang selepas Ashar, lebih dari pukul 16.00 Wib. Entahlah, kali ini saya ingin saja memanjakan diri dengan keliling kota, menikmati segala sesuatu yang saya pandang sembari diiringi musik yang terdengar lewat earphone.

Saya melintasi daerah Imopuro, bertemu dengan orang yang berpakaian kotor di balik pagar tempat bimbelan. Saya menglaksonnya, ia pun tersenyum dan melambai tanda merespon. Saya tak kenal, namanya saja saya tak tahu. Rambutnya berantakan, bajunya hitam kusut. Kalau boleh didefinisikan secara umum, dia adalah orang gila atau kalau menurut saya, dia adalah orang yang sedang bertingkah beda.

Jadi, rute perjalanan pulang saya dari tempat bekerja adalah lewat bedeng 15, 21, 38, 22, 29 lalu tiba di rumah, di 28. Pertama lewat Imopuro, lalu lewat Yosomulyo, belok ke arah Pekalongan, lalu memilih jalan yang menembus Griya Kebuh Batanghari (lewat Yosodadi), lanjut melewati Kampus, Iringmulyo, Masjid Taqwa, Kali Bunut, Jl. Tomo dan sampailah di rumah.

Di Yosomulyo (21), ada area sawah yang menurut saya adalah tempat yang pas untuk menikmati senja. Ada di sawah sekitaran tempat makan bernama Bengkel Perut. Agaknya di sini masih lapang, Matahari dan langit kecoklatan akan terlihat jelas di Kota yang kini mulai banyak ditanami bangunan ketimbang padi. Perihal senja, katanya memang indah, bahkan mampu membawa suasana tenang. Tapi apa memang begitu? Bagaimana dengan mereka yang tuna netra, apa merasakan hal yang sama? Kalau tidak, berarti indahnya senja hanya milik beberapa orang.

Masih di 21, tapi kali ini di Yosodadi, saya melintasi lapangan sepak bola milik tim Porsyd, sebuah tim sepak bola khusus di Yosodadi. Sore ini, anak-anak sedang berlatih, saya lihat mereka sedang senang-senangnya. Saya teringat masa kecil yang ingin jadi pemain sepak bola, tapi karena keterbatasan uang untuk membeli sepatu, akhirnya tidak kesampaian, ada rasa minder juga kala itu. Wajar, dulu masih manutan, anak kecil belum luas cara pandangnya, kalaupun dipaksa harus luas, kasihan, karena menurut saya memang belum saatnya.

Padahal dulu saya sudah punya modal fisik  yang luar biasa, saya bisa lari super cepat. Kata kawan-kawan saya, lariku ini mirip Kijang. Barangkali kalau dulu mereka mengenal Cheetah, bisa jadi saya disamakan dengan itu. Tapi, itu dulu, sekarang saya kira saya tak secepat dulu. Perihal cita-cita atau keinginan, apa masih ada di sekitar kita anak yang ingin serius main sepak bola tapi minta punya sepatu bola nggak kesampean?

Lewat 38, jalan ke arah area kampus di Metro. Sudah lama sekali tak lewat sini, bahkan baru tahu kalau ternyata jalanan di sini sudah halus, sudah nyaman. Dulu saya sempat gelisah, sambat, kenapa ini jalan tidak diprioritaskan untuk dibenahi padahal merupakan jalan utama atau pusat arus lalu lalang mahasiswa (dari Lamtim ke Metro dan sebaliknya). 

Setibanya di Iringmulyo tepatnya di area Kampus, ternyata sore ini adalah waktu yang pas. Banyak mahasiswa berhamburan, sepertinya baru selesai jam perkuliahan. Ada yang naik motor sendiri, berdua dengan teman atau mungkin kekasihnya. Raut mukanya pun macam-macam, ada yang terlihat enjoy karena tertawa, datar atau flat, bahkan ada yang besengut juga, yang saya lihat besengut ini perempuan, berjalan di trotoar kampus dengan jilbab orange-nya. Barangkali ia sedang bosan.

Saya pun melanjutkan perjalanan pulang, lewat bedeng 15 samping Kali Bunut. Saya melihat duka, ketika bendera kuning di kibarkan sebagai tanda ada yang wafat. Lalu lanjut mengitari Kali dan belok menyebrang dan menembus area persawahan, melihat sepasang kekasih sedang duduk di atas motornya, menikmati sore bersama sang buah hati sembari tertawa bersama dan minum es plastikan. 

Kemudian melihat penjual buah yang mulai beres-beres. Melihat jalanan aspal yang dicat dengan kapur putih (di wilayah 22) sehingga tampak menarik. Hingga  area sawah dekat dengan SMP saya dulu (di wilayah 29) yang sudah banyak ditanami rumah hingga menjadi perumahan, yang direkturnya adalah kawan saya sendiri, kawan SD yang dulu saya ajak berkelahi karena hina-hinaan nama bapak.

Lanjut lagi menarik gas, pelan, sembari menikmati musik, saya lewat juga di Jl. Tomo, Banjarsari, masih area bedeng 29, sebuah jalan lintas untuk kendaraan Pabrik Minyak yang umum disebut pabrik Tomo. Jalan ini bertahun-tahun tidak pernah diperbaiki, seingat saya memang pernah diperbaiki tapi langsung rusak lagi. Tak lama.

Tapi, perihal tak diperbaiki, pikir saya wajar, sebab yang lewat di jalan itu adalah kendaraan dengan bobot puluhan ton. Lagi pula, jalan itu dekat atau berdampingan dengan rumah warga lokal, warga asli bukan pendatang, kalau sampai jalannya bagus, justru bahaya, takutnya supir-supir bisa ngebut sesukanya. Sebab banyak anak yang bermain lalu lalang di jalan tersebut. Jadi, saya pikir biarlah ngronjal begitu saja.

Lewat dari situ, saya lanjut melewati jalan aspal arah Pasar Pagi Purwosari, pasar yang punya sejarah menarik. Sebuah pasar tradisional yang dulu banyak warga berjualan dengan meja-meja uniknya, kini lebih ruko-rukonya, beberapa pemodal benar-benar memanfaatkan tempat ini untuk dijadikan spot sewaan. Ya, begitulah pasar. Saya lewat begitu saja sampai tibalah saya di Jl. Bison, sebuah jalan lurus menuju rumah.

Se-sampainya di rumah, musik dan motor saya matikan. Lalu berpikir, "Saya barusan ngapain, jauh banget muter-muter, memanjakan diri? Karena apa?" Sejenak saya diam di motor, belum juga turun, bokong masih menempel dengan nyaman di jok. Lalu saya menjawab dalam hati, "Lagi memanjakan diri, sebab sedang tidak nyaman, efek interaksi tidak singkron antara jiwa dan fisik."

Foto di Simpang Kampus Kota Metro.

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."