BLANTERWISDOM101

Perihal Kamu #MariBercerita

09 November 2019
Baiklah…

Sebelum jauh bercerita, boleh kubaca kembali pesan-pesan awal bagaimana kita bisa seperti ini? Barangkali kamu perlu tahu bahwa aku adalah orang yang suka perkara masa lalu, tentang apa saja, sesuatu yang sudah terlewati. Darinya aku bisa belajar, aku bisa mengambil banyak hal dari sudut-sudut yang berbeda dan menemukan hal baru. 

Barangkali ketika aku membaca pesan-pesan awal itu, aku akan tertawa, akan bahagia, atau kembali pada puncak bagaimana aku jatuh cinta. Apalagi jika membacanya bersamamu, di hadapanmu dan dengan senyummu. Hehe, kamu pasti bisa mengira bakal jadi seperti apa. 

Wahyu Puji Astuti, begitulah namamu, Nama yang kuringkas dan mudah kupanggil dengan panggilan “Dek”. Atau sesekali juga dengan panggilan “Sayang”. Ohh ya, pernah kan suatu waktu aku bilang padamu bahwa kamu adalah perempuan yang berbeda. Sama halnya ketika kamu bilang aku orang yang unik, padahal ya memang beginilah aku. Kamu pun begitu, bagiku kamu itu beda, seperti yang kamu bilang sendiri (paling tidak lewat tulisanmu) bahwa kamu adalah seorang perempuan yang perempuan.

Bagiku, kamu adalah perempuan yang merdeka, merdeka karena cara berpikirmu yang luar biasa. Kamu memikirkan bagaimana perempuan harus menjadi perempuan yang tak tunduk pada dunia kelaki-lakian, yang merdeka dari sistem kelaki-lakian, bahkan sampai pada tatanan bahasa sekalipun.  Ohh yaa, ada hal yang sangat aku kagumi, terlebih sangat aku sukai darimu, Dek, yakni kebiasaanmu menulis. 

Sepertinya kita sama perihal ini, sama-sama suka menulis. Bedanya mungkin, tulisanmu penuh dengan pesan, makna, dengan sisipan ideologisnya, sedang aku hanya orang yang menulis sesukanya, semaunya, yang entah jadinya seperti apa, yang bahkan mungkin tulisan itu hanya bisa aku pahami sendiri. Bagiku menulis adalah sebuah kemerdekaan dan salah satu cara untuk merawat ide serta menyimpan keyword-keyword kehidupan.

Dek, berapakali kita sudah bertemu? Aku tak pernah menghitungnya. Sebab kalau dihitung mungkin bisa terbilang banyak, tapi banyaknya pertemuan itu toh terasa sebentar kan bagi kita? Ohh ya, katanya pertemuan kita itu untuk melepas rindu, padahal nyatanya setiap pertemuan justru menabung rindu-rindu yang baru. "Ohh rindu, seperti apa sebenarnya wujudmu itu?" Hehe. Dek, apa kamu percaya kalo asbabul rindu itu muncul karena cinta?

Dalam setiap pertemuan waktu memang tak pernah terasa ya, Dek. Kalau dihitung seakan lama, tapi nyatanya terasa sangat sebentar. Sampai-sampai kita bilang, "Waktu itu fana, yang abadi? Kita." Ohh ya, Dek, ternyata kamu itu orang yang detil juga. Ini kuingat ketika kita kencan, ketika berjalan menuju bioskop untuk nonton film Joker. Kamu kok ya detil-detilnya menghitung banyaknya polisi tidur di jalan (yang aku lupa namanya) yang menuju gang Abri itu. Perihal sesuatu yang detil, sepertinya kamu haru nyoba baca atau nonton Sherlock Holmes.

Dek, awal kita bercanda, awal kita saling serang kebaperan, mungkin kamu sadar kalau aku menyisipkan sesuatu yang entah itu hal baru atau bukan bagimu, yakni tentang #MariBercerita. Jujur saja itu baru kutemukan setelah beberapa hari chatting denganmu. Menerapkan dan yakin bahwa dalam setiap hubungan harus di isi cerita.

Aku percaya, setiap aku dan kamu punya cerita yang berbeda, cerita yang menarik tentang apapun. Kita percaya kan kalau setiap orang adalah guru? Aku percaya, terlebih juga tentang salah satu guru terbaik adalah yang sering berbagi (cerita) pengalaman. Kadang aku tuh yang perlu berguru denganmu.

Tapi #MariBercerita bukan hanya sekedar untuk belajar dengan saling berbagi pengalaman (seminimalnya tentang bagaimana harimu tadi?), tapi lebih kepada ruang bagi kita untuk menjaga kesalingan. Kamu paham kan, Dek, kalau setiap insan adalah subjek, jadi aku dan kamu adalah dua subjek yang ada di dalam satu ruang, yang punya banyak hal berbeda untuk diceritakan, wabil khusus menyelaraskan perbedaan untuk kita jalani dengan saling beriringan.

Ohh, ya, Dek, #MariBercerita itu sebenarnya juga merupakan ruang bagi kita untuk saling mengisi tentang apa saja,  kecuali tentang kehilangan ya, setuju? (Iyalaahh...). Jadi, kalau sewaktu-waktu kamu atau aku marah, ya cerita saja, seneng ya cerita, mau ngalem ya cerita, mau misuh ya cerita, mau sambat ya cerita, mau guyon ya cerita, pokoknya apa pun. Dari bercerita toh kita juga belajar untuk saling memahami kan?

Dek, kamu harus tau, di dunia imaji aku punya Salman, Maryani, Doni, Mahar, Flow, bu Lasmi, si Penjual Narkotika, dan lainnya lagi. Mereka adalah ruangku berbagi cerita dalam khayal. Lalu, dalam realitas ternyata Tuhan menurunkan sosok yang luar biasa, yang tak hanya sekedar untuk jadi ruang bercerita, dia adalah kamu, Dek, sosok perempuan yang memang pas untuk kupeluk dalam santuy dengan kalimat, "Aku menyayangimu."

Otw kemana? Hha

Founder dua gingsul 'lebih baik'

Gimana, udah ketawa belum?

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."