BLANTERWISDOM101

Menikmati Jalan Pulang (#MariBercerita)

07 November 2019
Cerita saya yang tak begitu waah ini hanya catatan harian yang ingin saya tulis begitu saja. Sebagai bahan kenangan yang mungkin di 5 sampai 10 tahun kemudian akan membuat saya tertawa ketika membacanya lagi, atau seminimalnya tersenyum. Saya melakukan hal yang, yaa, sebenarnya biasa saja, tapi entah kenapa ini membuat saya merasa nikmat, tepatnya bagi pikiran saya.

Jadi, Rabu kemarin (06/11), saya lelah dari pekerjaan. Padahal tak ada hal-hal berat yang dikerjakan. Entah kenapa pikiran berasa kurang nyaman. Sampai akhirnya saya menghiburnya dengan musik instrumental, musik-musik epic documentary yang biasa saya simak, yang biasa membawa saya pada dunia imaji di luar kotak ini, dunia untuk memikirkan detail-detail realitas.

Sambil menikmati musik, saya juga menulis-nulis sesuatu yang akhirnya lebih banyak membuat jemari saya menekan CTRL+A kemudian DELETE, menulis lagi lalu DELETE lagi. Tak pernah selesai satu tulisan, hanya berakhir sebagai draft. Saya sudah berusaha untuk curhat dengan Salman, tapi ia tak muncul. Barangkali memang suasana ruangan yang tak mendukung.

Jam kerja telah usai, ohh, ya padahal di ruangan itu sedang sunyi. Orang-orang sudah pergi dengan sibuknya masing-masing. Saya pun menelpon kolega, memberi kabar bahwa saya akan pulang. Selepas itu, saya keluar ruangan menuju parkiran, mengenakan helm, lalu duduk di atas motor. 

Musik Instrumental itu masih menyala lewat earphone yang menancap ditelinga kiri saya. Yang ternyata membawa saya atau menggiring untuk memilih Jalan Pulang yang berbeda. "Saya tak ingin pulang ke rumah lewat jalan yang biasanya. Bosan. Tak ada yang baru." Entah, memang sedang ingin. Tiba-tiba saja. Harusnya saya bisa pulang lebih cepat dari 10 menit, tapi kemarin justru lebih dari 30 menit.

Saya keliling, dari 15 lewat arah 21, 23, 35, sampai akhirnya tiba di rumah saya, di 28. Angka-angka itu adalah nama bedeng atau nama daerah di Kota Metro yang didirikan sejak masa Kolonialisme. Yang kini sudah tak digunakan lagi, sebab lebih umum dengan nama-nama kelurahan.

Saya menyisiri jalan-jalan yang jarang saya lewati. Lewat Kali Bunut 15, melihat anak-anak sedang asyik mandi di Kali. Mereka saling tertawa satu sama lain seperti hidup tanpa beban. Lalu saya melanjutkan rute lewat 21. Tepat di gapura selamat datang Yosomulyo, atau sebelum patung pahlawan di pertigaan itu. Di sebelah kiri, saya melihat pemuda penjual es degan sedang sibuk dengan Smartphonenya sebab saat itu tak saya lihat ada yang membeli.

Lalu di depan ada bapak-bapak yang diterjang teriknya matahari setengah sore sembari membawa jaring, berharap ada orang-orang 'baik' memasukan uang ke dalamnya, untuk program pembangunan tempat ibadah. Saya beri sebotol air mineral kecil saja, yang sebenarnya itu saya sediakan untuk teman perjalanan pulang.

Musik instrumental terus menjadi teman perjalanan pulang saya yang saya tempuh dengan pelan-pelan. Setiap lantunan musiknya saya nikmati sembari melihat sekeliling, memastikan ada hal-hal menarik yang bisa saya simpan di dalam kening. Pikiran saya pun terus mencari.

Saya sudah melewati 15, 21 dan kini ke 23, di pojok saya buran atau di pojok TK yang berada di 23 Polos, saya lihat bapak-bapak sedang asyik mengobrol dengan rekannya sembari membenahi tanaman. Sekilas saya lihat ada tawa setelah rokok yang dihisap itu dihembuskan.

Lalu, ibu-ibu di warung yang melihat saya serius entah kenapa, saya pun menglakson tanda sopan santun di jalanan sembari berkata ,"Buukkk". Teman saya pernah bilang memang begitu etika di jalan raya. Salah satu dari mereka pun menjawab, "Monggo, lee."

Jalan terus saya susuri, sampai saya temukan lagi sebuah Kali. Sebuah batas antara Metro dan Lampung Timur. Saya tiba di 35. Memang kontras melihat perbatasan ini. Terutama di jalannya. Di 23 sudah halus, di 35 masih berlubang dan batu-batu berceceran. Tak panjang jalan rusak itu, hanya ratusan meter saja sampai akhirnya saya tiba di Pasar Templek.

Pasar ini kini mulai dibangun ruko-ruko, persis seperti bagaimana Pasar Pagi Purwosari berkembang. Yang dulunya banyak pedagang berdagang dengan meja-meja klasiknya. Barangkali kedepan akan banyak ruko-ruko besar yang justru akan membuat mereka menyewa lebih besar pula. Di Purwosari sudah begitu.

Selain itu, saya juga dikembalikan pada sebuah memori masa lalu, ketika saya lihat sebuah rumah berwarna coklat di pojok Pasar. Teringat tentang bagaimana dulu tempat itu menjadi sekolah saya dibidang IT, tempat saya bolos sekolah formal, demi sebuah game yang memberi saya kemenangan palsu. Tapi sebab saya cinta pada game, saya menyukai segala bidang yang berkaitan dengan IT. Ohh, sial, memang, ternyata bolos saya bermanfaat juga.

Keduanya telah saya lewati, hingga saya temukan dua buah Masjid yang besar, jaraknya tak jauh sekitar 150an meter. Masjid pertama (searah jalan pulang saya—barat) ada di sebelah kanan berwarna cream, dominan putih. Lalu 150an meter selanjutnya di sebelah kiri, Masjid kedua berwarna Hitam. Jika waktu adzan tiba, kedua masjid ini pasti beradu nyaring suara. Tapi malah terlintas dipikiran saya, "Apakah ada dua aliran umat yang berbeda—rukunnya?" tanya saya penasaran. Dalam hal ini saya masih kurang informasi.

Motor saya tarik gasnya lebih dalam dan berjalan lebih cepat sampai saya tiba di wilayah 28. Saya kembali di Metro. Tapi, ini belum rumah saya masih di Purwoasri, tetangga kelurahan. Jadi bedeng 28 itu melingkupi 2 kelurahan, yakni Purwosari dan Purwoasri. Dan saya ada di Purwosari. Ohh ya, di bedeng 28 itu dibagi lagi 3 tempat, ada 28A, 28B dan 28 Polos. Saya berada di 28 Polos.

Musik sejenak berhenti, sebelum 3 detik kemudian kembali berbunyi. Hanya satu musik instrumental ini saya ulang berkali-kali sejak tadi. Dan beberapa detik kemudian saya tiba di Purwosari. Gerak motor pun saya percepat, hingga sampai pada perempatan (simpang Kelurahan). Di sana, saya memilih untuk masuk ke jalan di bawah bambu. Tepat setelah saya pilih jalan itu. Saya temukan sesuatu, kenangan.

Bambu-bambu berserakan, daun-daun bambu juga berserakan, beberapa diantaranya beterbangan. Ada gubuk bertuliskan bahasa Arab, 'Iqra', yang dulu saya tulis dan pasang di sana. Kini remuk. Tapi saya kira pesan itu tetaplah hidup. Tak lama-lama saya melewatinya hingga sampai di sebuah gapura kecil yang terbuat dari bambu, saya lewati dan saya menoleh ke belakang, ada tampah-tampah kreatif bertuliskan Pasorpring.

Hanya sekejap, lalu saya kembali melihat ke depan, meluruskan niat untuk pulang. Saya pun memilih jalan yang beda. Saya belok ke kanan, tak lagi di bawah bambu-bambuan. Di jalan yang saya kira lebih tepat, sebab tinggal lurus saja akan tiba di rumah saya. Tanpa harus belak-belok.

Sebelum saya sampai rumah. Di sebuah lapangan yang tak begitu lebar. Lapangan yang sering dipakai untuk bermain bola, padahal seharusnya ini tak pas dengan ukuran lapangan bola sesungguhnya. Saya di bawa pada sebuah memori masa kecil yang harus berlarian sekuatnya untuk mengejar bola, sampai terjatuh, bahkan sampai keseleo berbulan-bulan, tapi nyatanya sampai sekarang saya masih tetap mengerjar 'Bola' dan berusaha untuk mencetak 'Goal'.

Di sebelah lapangan, ada pemakaman umum. Saya tak mau berimajinasi lebih dalam. Saya hanya membatin saja, "Assalamualaikum, ya, ahli kubur." Lalu saya tarik gas motor lebih dalam. Motor bergerak semakin cepat. Dan saya pun tiba di rumah. Saya tersenyum ketika melihat anak-anak sekitar ada di depan rumah, sibuk memainkan sebuah game tradisional yang dulu pernah membuat saya jadi jawara, Ingkling.

Motor sya matikan, musik berjudul "Emotional Cinematic Piano Background Music For Videos & Presentations" yang saya dapat dari Youtube juga saya matikan. Sesampainya di dalam rumah, saya rebahan sejenak. Memikirkan perjalanan pulang tadi yang ternyata semakin berkesan jika memilih jalan yang berbeda dari biasanya. Lalu saya lanjut memikirkan sesuatu yang seharusnya tak perlu dipikirkan atau malah ditebak. Tentang hari Esok.

#MariBercerita
Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."