Hari Guru dan Ingatan Tentang Guru TK

Apa yang menarik di perayaan Hari Guru Nasional yang jatuh tiap tanggal 25 November? Sebuah seremonial yang karikatif, atau bertaburnya pesan-pesan inspiratif di berbagai media? Pada akhirnya setiap individu atau kelompok memang berhak mengekspresikan sesuai kebutuhannya masing-masing. 

Tapi kita patut berterimakasih dengan ditetapkannya Hari Guru melalui Keppres nomor 78 tahun 1994, sebab ini bisa menjadi sinyal kuat bagi kita untuk kembali mengingat pesan para guru yang kemudian dibawa pada nuansa kenangan masa-masa suka dan duka bersamanya, bahkan masa-masa nakal ketika dikerjai atau mengerjainya. Sungguh menyenangkan.

Hari ini (25/11/2019), saya jadi teringat pesan salah satu guru saya yang masih terngiang dipikiran. Adalah Bu Maya salah satu guru TK saya yang mahir mendongeng. Darinya saya belajar bagaimana bercerita. Caranya bercerita dengan gaya yang sangat menghayati membuat saya terbawa pada dunia imaji yang luar biasa. Toh itu juga membuat saya jadi melakukan hal yang sama dengan adik saya, bercerita, tapi tentu dengan tema yang berbeda.

Ohh iya, buk Maya ini kalau cerita memang sangat menarik. Membuat saya menjadi pendengar yang serius. Tapi sayang, ia selalu membawa kisah-kisah dengan tema yang mistis, yang membuat saya jadi takut. Tapi setelah saya pikir kembali, mungkin begitulah caranya agar para muridnya tetap fokus dan mungkin juga agar kami mudah mengingatnya.

Salah satu narasi yang selalu saya ingat darinya adalah, "Tiba- tiba pagar bambu yang dilewati Budi itu berbunyi dengan sendirinya, tek, tek, tek, seperti ada yang memukul...," sesederhana ini saja membuat saya jadi takut, bahkan saya kembali menceritakannya pada ibu saya. Tapi hebatnya, buk Maya, selalu saja memberi ending yang membahagiakan, dan selalu diberinya pesan apik nan menarik. 

"Ternyata, ada kucing yang menyenggol pagar itu," lanjutnya. Hanya begitu, tapi bagi anak kecil seperti saya tentu sudah membuat suasana jadi tenang. Lalu saya diberinya satu ending kisah kasih manusia kepada makhluk bernama kucing tersebut, "....Budi membawa pulang kucing itu dan merawatnya dengan baik, di sayang dan diberi makan sampai kucingnya jadi gemuk."

Bagi anak TK seperti saya dulu tentu baru bisa sebatas mengingat pesan atau ceritanya saja, belum pada bagaimana makna dari cerita yang bisa dimaknai jauh lebih dalam. Tapi sekali lagi, buk Maya adalah guru yang mahir dalam mengondisikan suasana, mengendalikan ruang dan waktu kala itu menjadi begitu menarik dan murid jadi fokus.

Kini ketika saya merasa pada level pemikiran yang lebih berbeda dari yang dulu. Ada banyak makna yang bisa saya ambil dari kisah-kisah yang diceritakannya. Bahkan saya juga menangkap hal penting lain yang bukan hanya pada kisah ceritanya, tapi pada tingkah atau caranya menghayati dalam bercerita, kenapa? Caranya bercerita dengan lakon atau tingkah aneh yang menghayati itu, ternyata, menurut saya adalah salah satu media agar apa yang diceritakan gampang dikenang oleh anak-anak.

Seminimalnya anak kecil atau muridnya akan ingat dengan tingkahnya itu. Kelak ketika besar, muridnya akan teringat dan menerka kembali dengan masuk pada ruang dan waktu di masa kecilnya itu (meski dalam dunia imaji), dan di situ sang murid akan menemukan banyak hal, yang jauh lebih keren lagi dari sekedar cerita yang diceritakan.

Terimakasih, buk.

**
Bu Maya apa kabarnya ya? Apa masih ingat dengan saya, buk? Saya sudah beda, tambah ganteng kali ini, buk. Ohh ya, kabar terakhir yang  saya dengar tentangmu itu waktu saya masih SMA, buk. Kabar bahwa sudah pindah dan tak lagi di Metro. Saya sendiri tak tahu di mana tepatnya sekarang. Meski begitu buk, saya yakin paket doa yang saya kirim untukmu tak pernah nyasar.

Buk, Muridmu makin ganteng....

0 Response to "Hari Guru dan Ingatan Tentang Guru TK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel