BLANTERWISDOM101

Bahasa

06 November 2019

Kali ini hari masih pagi, liburan memang. Aku dan Salman bersantai ria. Berbaring di Lincak dan berteman dengan lapar yang sedari malam belum juga kita usir.

Lapar makin meronta, terdengar suara kemerucuk dari perutku. Perut Salman pun menyusul tiga menit kemudian. Alhasil, aku kembali ke dapur dan membuat segelas Kopi untuk membohongi perut.

"Kopi lagi, kopi lagi," Salman bersuara.

"Kalau memang tak mau, biar kuhabiskan saja, Man."

"Kau pikir dirimu saja yang mau mengelebui perut?"

"Oke, jadi kita bagi dua."

Suasana pagi ini tak ada yang indah, baik aku dan Salman sudah mendefinisikan pagi tanpa semangat. Letih, lesu dan teman-temannya merasuk dalam tubuh bahkan menguasai.

Ku lirik Salman, biasanya ia membaca koran-koran bekas. Tapi pagi ini ia hanya tidur-tidur saja. Badannya mungkin lemas, tapi jemarinya tetap menunjukan gerak-gerik yang khas.

Namun, tiba-tiba ia bangun dan berulah, "Ahh, pagi ini luar biasa!!!."

"Sudahlah, jangan kau habiskan energimu hanya untuk teriakan yang tak ada gunanya, Man."

"Bahasa!!, sedari tadi kita bicara. Aku kepikiran, bagaimana kalau manusia ini tak mengenal bahasa?"

"Man, jangan kau ajak aku berlogika dulu, urusan logistik perut ini saja belum selesai."

Ia pun meminum setengah Kopi yang ku buat, "Setengahnya selesaikan padamu." Lalu aku menghabiskannya.

"Manusia tanpa bahasa tentu tak akan bisa menyampaikan maksud dan tujuan, Man. Bahasa itu kunci komunikasi. Manusia tak bisa hidup tanpa komunikasi."

"Tapi, coba kau pikir lebih dalam. Di manapun tempat, pasti punya bahasa, dan setiap harinya pasti ada bahasa baru. Bahasa yang diciptakan dengan maksud tersendiri."

"Sudahlah, Man. Aku malas bicara panjang. Enak tidur saja pagi ini. Mari kita hibernasi sampai ada bantuan nasi."

"Bahasa, dibuat oleh Manusia kan?"

Aku hanya diam, akan lelah jika meladeni bicaranya. Lapar sudah luar biasa meronta. Bahkan ku kira setengah jam lagi mungkin aku akan pingsan. Tapi Salman tetap saja berbicara.

"Bahasa, hmm, ada kata-kata di dalamnya. Manusia yang menciptakannya sendiri. Tapi lama-lama kupikir selanjutnya malah justru Bahasa yang menciptakan manusia. Menciptakan kesadarannya."

"Hmmm...," Aku mendeham. Kali ini hampir tidur, atau mungkin ini sudah berada pada tahap setengah pingsan. Salman pagi ini semacam pendongeng bagiku.

"Bahasa membentuk kesadaran. Di Inggris, ada kata Brother yang maksudnya saudara laki-laki, lalu Sister yang maksudnya saudara perempuan. Kesadaran orang Inggris dibentuk oleh kata-kata itu. Bagi mereka, perkara saudara, hal terpentingnya adalah apakah dia saudara laki-laki atau perempuan."

Ia pun berhenti sejenak mendongeng, barangkali melihatku yang hendak pingsan ini, atau memang sedang melanjutkan pikirannya. Aku tak tahu pasti, hanya menerka saja sebab mata tak kuat lagi untuk melanglang buana.

"Beda lagi kalau di Indonesia," ia melanjutkan. "Nenek moyangnya membuat kata Kakak dan Adik. Jadi bagi orang Indonesia, perkara saudara, hal terpentingnya adalah apakah dia itu jauh lebih tua atau lebih muda."

"Hmmm..," lanjutku.

"Jadi begini rupanya, bahasa awalnya merupakan kendaraan untuk mengantar manusia pada maksud dan tujuan, tapi bahasa juga mengemudikan manusia sebagai kendaraan untuk mencapai maksud dan tujuan yang akan dicapai oleh bahasa itu sendiri."

Dan dongeng selanjutnya dari Salman tak lagi ku dengar. Sebab aku siuman sekitar 3 jam setelah kalimat terakhirnya.

__


Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."