BLANTERWISDOM101

Garut, Situ Bagendit, dan Cerita Legendanya

21 October 2019

Sebuah Tanah Surga dengan Surga Wisata di Dalamnya


Garut, satu kata penting untuk mengawali semua yang akan kutuliskan di sini. Apa yang kita pikirkan jika mendengar kata Garut? Oke, pasti terpikir tentang sebuah tempat. Ya, benar, tapi untuk seterusnya tentu akan bermacam-macam jawaban panjang dari satu pertanyaan tersebut. Sebab rambut boleh sama warna, tapi isi kepala tetap berbeda. 

Mari awali saja dengan santai bersama lirik lagu milik Koes Plus, “Bukan lautan hanya kolam susu, Kail dan jala cukup menghidupmu, Tiada badai tiada topan kau temui, Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Ada yang menarik pada lirik tersebut, khususnya tentang Tanah Surga yang membuatku yakin untuk menyebut Garut merupakan salah satu tanah surga di negeri ini, di negeri yang kita sepakati bernama Indonesia.

Gapura Selamat Datang di Kabupaten Garut - Situsbudaya.id

Dari sebuah provinsi di pulau Jawa yang punya bahasa khas Sunda, yakni Jawa Barat, sebuah Kabupaten bernama Garut berdiri. Satu tanah surga dengan keadaan geografis alam pemandangannya yang indah. Garut memiliki luas wilayah 3.065,19 Km2 dengan pembagian wilayah 42 Kecamatan, 21 Kelurahan dan 424 Desa. Sebuah kabupaten yang kondisi fisiknya dikeliling pegunungan ini dalam sejarah dikenal dengan julukan Swiss Van Java, sebuah tempat yang mirip dengan indahnya negara Swiszerland.

Sejauh mata memandang, orang yang datang ke Garut akan dimanjakan dengan alam pegunungan yang indah. Deretan gunung-gunung yang berada di Swiss Van Java ini diantaranya ada Gunung Gandapura, Gunung Rakutai, Gunung Kamasan, Gunung Guha, Gunung Kendang, Gunung Puntang, Gunung Nangklak, Gunung api Papandayan, Gunung api Cikuray, Gunung Peti, Gunung Mandalagiri, Gunung Puncakgede dan Gunung api Kracak.

Bahkan dari balik keindahan alam pegunungan ini, Garut dengan tanah surganya menjadi salah satu dari empat tempat di Indonesia yang ditumbuhi indahnya bunga-bunga Edelweis. Pemandangan keindahan bunga ini bisa kita nikmati di area Gunung Papandayan. Sebuah keindahan yang tak boleh kita lepas untuk dokumentasi momen perjalanan.

Pesona Padang Edelweiss di Gunung Papandayan

Mengagumkan memang jika berbicara tentang alam, tentang sebuah keindahan yang sudah Tuhan berikan. Garut yang indah, bahkan jika kita semua sepakat untuk menyebutnya tanah surga, maka sudah sejak dulu itu benar. Dalam Encyclopedie van Nederlands-Indie (Ensiklopedia Hindia-Belanda) terbitan tahun 1917, sebuah catatan tertulis, "....Garut adalah salah satu tempat terindah di Jawa dengan iklim nyaman (tinggi 700m) dengan lingkungan yang sangat indah, tempat pesiar yang sangat disukai orang Batavia yang banyak datang di musim kemarau.” Bahkan Charlie Chaplin, komedian ternama asal Inggris tersebut sampai dua kali mengunjungi Garut pada 1932 dan 1936.

Pada akhirnya, Garut tak hanya melulu tentang keindahan pegunungan, ia menyimpan surga-surga yang lain. Surga dari balik kekayaan budaya, wisata, sejarah, kuliner, dan gaya hidup masyarakatnya yang menarik. Misalnya pada sebuah tempat yang terletak di Desa Begendit, Kecamatan Banyuresmi. Sebuah surga wisata yang tak boleh dilewatkan jika kita singgah di Garut, Danau Situ Bagendit.

Danau Situ Bagendit, Wisata Alam Garut nan Elok


Sebuah objek wisata alam menjadi titik perhatian bagi siapapun yang datang ke salah satu tanah surga di Jawa Barat ini. Situ Bagendit, begitulah dikenalnya, sebuah danau alami yang akan memanjakan mata dengan segala keindahannya. Terletak di Desa Bagendit, kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. Secara administrasi Danau ini disebelah utara berbatasan dengan Desa Banyuresmi, disebelah selatan berbatasan dengan Desa Cipicung, disebelah barat berbatasan dengan Desa Sukamukti, dan disebelah timurnya berbatasan langsung dengan Desa Bina Karya.

Danau Situ Bagendit - Wikipedia

Sejak zaman Belanda, Situ Bagendit sudah dikenal sebagai tempat wisata nan elok. Kala itu tak hanya wisatawan lokal yang berkunjung, turis mancanegara pun juga kerap mengunjungi Situ Bagendit. Sebuah hotel lengkap dengan fasilitasnya yang didirikan pada tahun 1920 merupakan bukti bahwa Situ Bagendit memang tempat yang ramai wisatawan. Namun akibat Perang Dunia II, kawasan wisata ini rusak dan terbengkalai selama beberapa tahun. Hotel yang sempat berdiri pun hanya tersisa puing-puingnya saja.

Pada tahun 1980-an pihak pemerintah kembali melirik kawasan ini untuk dijadikan obyek wisata, sehingga dimulailah upaya pembenahan. Danau seluas 125 hektar ini kemudian dibersihkan dari eceng gondok dan tumbuhan liar. Berbagai fasilitas ditambahkan serta kegiatan wisata dihidupkan. Bahkan melansir Cnnindonesia.com, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam kunjungannya menyampaikan dukungan untuk mengembangkan objek wisata danau tersebut agar lebih banyak diminati dan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat.

Sampai pada saat ini, Situ Bagendit merupakan objek wisata alam yang paling prioritas dan menjadi ikon di Garut. Seperti yang diposting relawan Gerakan Pesona Indonesia (Genpi), yang menempatkan Situ Bagendit di urutan nomor 2 wisata populer dan wajib dikunjungi di Garut. Situ Bagendit memang tempat yang cocok untuk menghabiskan liburan bersama anggota keluarga. Pemandangan yang indah dan beragam aktivitas dapat dilakukan. Sebab tempat wisata ini memiliki kelengkapan fasilitas dan kemudahan layanan wisata.

Src: @GenpiGarut

Beberapa hari yang lalu (19/10/2019), aku mencoba menghubungi teman yang juga merupakan relawan wisata di Situ Bagendit, namanya Yusuf. Ia adalah relawan yang membantu branding Situ Bagendit di media digital. Seorang admin, pengelola akun sosial media instagram @SituBagendit.ofc, darinya inilah segala informasi fasilitas dan dokumentasi kutulis serta dilampirkan.

Situ Bagendit, akses jalannya begitu mulus dan terhitung dekat dengan pusat Kota Garut, suatu keunggulan dibandingkan dengan obyek wisata alam lainnya. Danau alami ini dikelilingi persawahan, perkampungan penduduk dan memiliki latar belakang pegunungan yang menjulang tinggi serta berselimutkan awan. Sungguh pemandangan elok yang memanjakan mata.

Pemandangan Gunung Guntur di Situ Bagendit - Dok by: Yusuf (IG: @SituBagendit.ofc)


Dari kejauhan tampak beberapa rakit bambu dengan atap warna-warni yang penuh wisatawan. Rakit tersebut bisa disewa untuk mengarungi danau. Selain itu, tersedia juga jasa penyewaan becak air berbentuk angsa, perahu kecil, serta kano. Pengunjung hanya tinggal memilih apa yang menurutnya nyaman dan aman untuk dinaiki. Bahkan pengunjung bisa bersantai di warung terapung di tengah Danau.


Selain mengarungi danau, ada sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan di tempat ini. Salah satunya adalah memancing. Sembari menunggu umpan termakan oleh ikan, pengunjung dapat menggelar tikar di bawah rindangnya pepohonan dan bercengkerama bersama keluarga. Memancing di Situ Bagendit, pengunjung bisa memperoleh banyak Ikan Gabus dan Ikan Nila. Selain memancing, juga terdapat taman bermain anak, orang tua bisa mengajak anak-anaknya untuk naik kereta mini dan foto-foto selfie ria di spot-spot foto.

Spot Foto di Situ Bagendit - Dok by: Yusuf (IG: @SituBagendit.ofc)

Spot Foto di Situ Bagendit - Dok by: Yusuf (IG: @SituBagendit.ofc)
Setiap tahunnya di kawasan ini pasti diselenggarakan event-event yang meriah, baik dari pemerintah ataupun relawan. Misalnya Festival Begendit. Pada Festival tersebut berbagai pertunjukan disajikan, baik kesenian tradisional maupun yang modern. Kesenian tradisional misalnya, pengunjung akan dipertontonkan dengan kesenian Lais, Debus, dan Hadro. Bahkan tak hanya pertunjukan, berbagai perlombaan pun digelar untuk  memeriahkan Festival ini. Selain itu belum lama ini, telah launching Pasar Wisata Digital Situ Bagendit. Maka tak heran, saat Festival Bagendit maupun pada event-event lain berlangsung, Situ Bagendit akan penuh sesak wisatawan.

Festival Bagendit - Koran-fakta.com

Ramai Pengunjung saat gelaran Pasar Wisata Situ Bagendit - Indonesiatravel

Pada kenyataannya, surga wisata alam Situ Bagendit yang bisa kita datangi dengan tiket masuk Rp.5000 ini tak hanya keistimewaan fisik, kemeriahan, dan indahnya pemandangan saja. Danau tersebut juga dikenal dengan keistimewaan cerita legendanya yang syarat akan nilai-nilai edukatif.

Legenda Situ Bagendit dan Nilai Edukatifnya


Menceritakan tentang sebuah tempat biasanya juga tak lepas dari asal-usul adanya tempat tersebut, atau bahkan nama yang disematkan pun bisa jadi memiliki cerita tersendiri. Seperti pada Situ Bagendit. Danau yang berada di Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Garut ini memiliki latar belakang sebagaimana kemudian, danau tersebut di namai dengan Danau Situ Bagendit.

Src: Youtube/DongengKita

Kisah ini sudah turun-temurun dari generasi ke generasi, tetap populer sebab memberi nilai edukasi kepada siapapun yang membaca dan memahaminya. Kisah legendanya berawal dari hidupnya seorang janda kaya di suatu desa bernama Bagendit. Kekayaan janda tersebut merupakan warisan yang ditinggalkan suaminya. Semasa hidup, sang suami berprofesi sebagai rentenir. Dan profesi itu menurun ke istrinya.

Dalam kisah legendanya, sang janda di ceritakan sebagai seorang rentenir dengan sikap antagonis. Hal ini digambarkan ketika dimana beberapa warga setempat yang memiliki kesulitan ekonomi akan menemui sang janda untuk meminta bantuan berupa pinjaman.

Namun, pinjaman terkadang sangat sulit ia berikan, sang janda seperti enggan memberikan pertolongan, sekalipun ia mau memberikan pinjaman, pinjaman yang diberikan akan dikenakan bunga lebih besar, sehingga terkadang, warga desa harus menyerahkan sebidang sawah atau kebun untuk melunasi pinjaman tersebut. Karena hal tersebutlah sang janda ini dipanggil dengan sebutan Baginda Endit, yang tidak lain artinya adalah orang kaya yang pelit.

Sikap antagonisnya sebenarnya tidak berhenti sampai titik dimana ketika ia memberikan bunga yang besar kepada si peminjam. Pada saat musim kemarau tiba, dimana seluruh sumur di desa tersebut mengalami kekeringan, -- namun tidak di sumur Baginda Endit. Warga berbondong-bondong datang ke rumah Baginda Endit dan berniat meminta air secara baik untuk kebutuhan sehari-hari, alih-alih diberikan, yang dilakukan Baginda Endit sendiri malah mengusir warga untuk mengambil air di tempat lain.

Hingga pada suatu ketika, tidak lama dari setelah ia mengusir warga, datang seorang kakek tua, ia renta, tertatih dengan tongkatnya. Rasa haus telah menuntun kakek tua itu mendatangi rumah Baginda Endit. Kakek tua berharap, barang sedikit, ia bisa mendapatkan seteguk air untuk minum karena setelah berkeliling, tidak satupun warga yang ia temui memiliki air.

Hal yang kemudian dilakukan oleh Baginda Endit bukan hanya serupa penolakan atau mengusir untuk mencari air pada tempat lain, lebih dari itu, Baginda Endit merebut tongkat sang kakek dan memukulkannya hingga tersungkur, lalu dilemparkanlah kembali tongkat itu kepada sang kakek.

Kakek meraih tongkatnya, berkali-kali mencoba bangun dari hadapan Baginda Endit. Setelah berhasil berdiri, kakek tua melontarkan beberapa perkataan yang kemudian membuat Baginda Endit begitu murka. Sebelum akhirnya ada serangan kedua yang dilakukan Baginda Endit, tapi sang kakek lebih dulu menancapkan tongkatnya pada tanah. Saat dicabut, dari lubang bekas tongkat tersebut keluarlah sumber air. Air terus keluar, semakin banyak dan semakin banyak, hingga hampir menenggelamkan rumah Baginda Endit. 

Menyadari hal buruk akan menimpa Baginda Endit beserta hartanya, ia meraih sekotak emas dan mencoba berenang menuju tepi. Namun air semakin lebih cepat meninggi, sedang kakek tua sudah tak lagi nampak. Saat itu, tak satupun ia dapati sebagai penolong, warga setempat sibuk menyelamatkan diri, sampai akhirnya desa tersebut tenggelam, Baginda Endit tak juga nampak. Ia tenggelam bersama harta-hartanya. 

Dari cerita legenda inilah, air yang menenggelamkan desa tersebut dinamakan Situ Bagendit. Membentuk sebuah Danau yang kini menjadi surga wisata di Garut. Kita bisa belajar banyak, sembari berwisata menikmati indahnya Situ Bagendit, kita juga belajar dari kisah yang sudah melegenda ini. Bahwa, keburukan selalu ada balasnya, entah apapun dan bagaimanapun bentuknya.

Kisah Baginda Endit yang kikir menjadi pelajaran penting bagi kita agar senantiasa mudah membantu sesama. Kisahnya yang juga tak sopan kepada orang tua menjadi nilai pelajaran berharga, betapa orang tua harus benar-benar dihargai dan dikasihi. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah tersebut, tapi kita semua harus sepakat, bahwa "Dimanapun tempat adalah sekolah dan siapapun orang adalah guru." 

Kita berwisata, dimanapun, sejatinya itu adalah sekolah, tempat bagi kita untuk belajar. Dengan siapa? Tentu dengan alam dan segudang cerita dibaliknya. Di Situ Bagendit, kita belajar dengan alam yang indah, bahwa alam mengajarkan kita untuk senantiasa merawatnya agar tetap menjadi surga yang elok, dan kisah dibaliknya menjadi nilai lebih untuk belajar bagaimana hidup bersama, wabil khusus bermasyarakat.[]

__
Referensi:

  • Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Garut
  • Wikipedia: https://id.wikipedia.org/wiki/Situ_Bagendit
  • Youtube Dongeng Kita: https://www.youtube.com/watch?v=A5orbZ5OFAY
  • Wawancara dengan Yusuf, Relawan IG: @SituBagendit.Ofc
  • 7 Julukan Populer untuk Garut: https://www.kompasiana.com/agungsavero/552fc50d6ea83446368b4571/inilah-7-julukan-terpopuler-untuk-garut
  • Koran Fakta: http://www.koran-fakta.com/festival-bagendit-2018-akan-tingkatkan-jumlah-wisatawan/
  • Indonesiatravel: https://www.indonesiatravel.news/pariwisata/potensi-luar-biasa-dan-hebohnya-pasar-wisata-situ-bagendit-di-garut/ 
  • Situsbudaya : https://situsbudaya.id/sejarah-kabupaten-garut/

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir"