BLANTERWISDOM101

Review Film Suara April: Pemilih Berdaulat Negara Kuat

18 April 2019
Film ini di rilis ke Youtube beberapa hari jelang Pemilu (Pemilihan Umum) Serentak 2019 dilaksanakan. Suara April merupakan ajang sosialisasi dari KPU RI yang dikemas dalam bentuk film dengan target kaum millenial. Film ini berkisah tentang perjuangan Chandra, sosok Relawan Demokrasi Komisi Pemilihan Umum. Chandra bertugas di salah satu daerah yang minim partisipasi masyarakat dalam Pemilu, yakni Desa Rampang.


Desa Rampang ini merupakan desa yang minim partisipasi dalam Pemilu. Desa yang justru ramai dalam urusan dangdut ketimbang pesta demokrasi. Bukan tanpa alasan, desa ini diceritakan kecewa pada dinamika politik yang justru membuat masyarakat Rampang terpecah. Sebab inilah tugas Chandra berat, bahkan dalam dialog terakhir ia mengatakan KPU Pusat tidak yakin untuk menugaskan dirinya di sini.

TOKOH CERITA/FILM:

Selain Chandra sebagai tokoh utama, ada juga sosok Nurlaela. Nur (Panggilan Nurlaela) merupakan guru SMA di Sekolah Yayasan desa Rampang yang punya masalah ketika sekolahnya hendak ditutup. Envy merupakan sosok biduan dangdut di bawah naungan Johari (Tokoh Masyarakat desa Rampang yang sangat disegani, juga ayahnya Nur). Ada pula Jimmy dan Rosalina, dua Calon Legistalif (Caleg) desa Rampang. Pun ada Anifa, siswa disabilitas yang sekolah di Yayasan. Dan beberapa tokoh lainnya yang saya pikir tidak terlalu dominan dalam film ini.

ALUR CERITA/FILM:

Jadi, awalnya si Chandra ini datang ke kelurahan dan bertemu dengan Kepala Desa, ia meminta izin untuk melakukan penyuluhan tentang Pemilu. Dialog antara Chandra dan Kepala Desa berakhir dengan usulan agar menemui tokoh masyarakat untuk sepenuhnya meminta izin. Pergilah si Chandra menemui Johari.

Ketika Chandra bertemu Johari, ia memperkenalkan diri sebagai Relawan Demokrasi, kemudian meminta izin untuk melakukan penyuluhan. Namun, dijawabnya singkat, “Gak!”. Mendengar itu pulanglah Chandra dengan kepala tertunduk. Di depan rumah Johari, ia disapa Nurlaela yang menceritakan karakter ayahnya dan desa Rampang. “Desa ini sukanya dangdut, cocok itu untuk penyuluhan,” ujar Nurlaela.

Namun usaha Chandra untuk melakukan penyuluhan tentu barang sulit, sebab Johari selaku bos dangdut di Rampang tak menginzinkan. Dalam salah satu pertemuan, Chandra dan Nurlaelah saling curhat, kalau Chandra pusing harus bagaimana melakukan penyuluhan, Nurlaela pusing sekolahnya mau ditutup karena minim biaya. Dalam curhatan tersebut, Chandra nyeletuk solusi permasalahan sekolah Nurlaela, bahwa bisa diusahakan atau disuarakan ke wakil rakyat. Dari situ, mereka mulai gerak melakukan penyuluhan.

Pertama mereka melakukan penyuluhan ke Pemilih Pemula, yakni murid-murid Nurlaela. Ini berhasil, poin-poin pesan yang disampaikan Chandra mudah diterima. Namun pada akhirnya berita penyuluhan itu sampai kepada wali murid. Masyarakat Rampang yang sudah bertahun-tahun tidak aktif dalam Pemilu atau trauma Pemilu ini pun demo ke sekolah, menuntut tidak mau ada politik-politik di sekolah. Selain di sekolah, Chandra bersama Nurlaela terus mencoba/mensiasati untuk mengedukasi para masyarakat Rampang terkait pentingnya partisipasi pada Pemilu.

Di satu momen, Nurlaela, yang juga punya suara bagus dalam menyanyi, manggung di salah satu pesta dangdutan milik ayahnya. Kesempatan ini dilakukan sekaligus untuk penyuluhan, dan berhasil. Meski hampir saja Chandra dipukul oleh ayahnya sebelum akhirnya kabur karena diam-diam menyebar brosur pendidikan Pemilu ke penonton.

Singkat cerita, nuansa politik kian memanas di desa Rampang sebab dua Caleg saling bersaing, yakni Jimmy dan Rosalina. Bahkan dalam sekolah pun terbagi menjadi kubu dari kedua caleg tersebut. Kedua caleg itu berusaha dan saling berebut suara di Rampang, terkhusus di Rampang Selatan (tempat Johari). Berbagai usaha dilakukan dari dua caleg tersebut, bahkan hal-hal seperti gratifikasi pun dilakukan. 

Chandra melihat hal-hal tersebut menjelang akhir masa tugasnya, salah satunya di sekolah Nurlaela. Ia pun menemui sang Caleg yang ia pikir melakukan kampanye dengan cara-cara usang. Ia menemui Rosalina dan berkata, “Saya kira masyarakat saja yang perlu di edukasi, nyatanya wakil rakyat perlu di edukasi!”

Banyak drama dalam film ini, permasalahan individu, kelompok, caleg dan asmara juga dibalutkan manarik disini. Layak untuk di tonton, bahkan tentang bagaimana kedua caleg yang tadi berseteru untuk mencari suara rakyat itu akhirnya duduk bersama, berbicara dihadapan rakyatnya dan berdialog bersama untuk kemajuan desanya.

KESAN/PELAJARAN:

Film ini di dedikasikan untuk Relawan Demokrasi (sebagaimana diakhir film di tuliskan). Dari film ini banyak hal bisa dipelajari mengenai pemilu dan demokrasi. Belajar dari Chandra, ia semangat betugas melakukan edukasi pemilu, pendidikan pemilih. Ia mengajak masyarakat untuk berani menggunakan hak pilihnya, menyuarakan suaranya kepada wakil-wakil rakyat. Seperti halnya Nurlaela yang berani bersuara keluh kesahnya tentang pendidikan.

Hal tersebut juga dilakukan tak lain bagi kami, para Relawan Demokrasi. Saya juga merupakan Relawan Demokrasi yang bertugas khusus di Kota Metro bersama 54 rekan lainnya. Hal-hal layaknya Chandra memang perlu dilakukan: Relawan Demokrasi KPU Kota Metro misalnya melakukan penyuluhan ke ibu-ibu arisan, komunitas-komunitas, pasar-pasar, disabilitas bahkan kaum waria sekalipun. Tugas ini perlu, terlebih agar masyarakan cerdas dalam memilih dan menggunakan hak suaranya.

Cara-cara usang seperti gratifikasi yang dilakukan Caleg layaknya Jimmy dan Rosalina di film ini pun patut menjadi pelajaran. Bahkan statement Chandra di film ini menjadi pukulan, “Saya kira masyarakat saja yang perlu di edukasi, nyatanya wakil rakyat perlu di edukasi.” Lebih dari itu, bagi saya, minimal film ini menyadarkan untuk menjadi pemilih yang berdaulat, pemilih yang sadar, memilih siapa yang patut menjadi wakil dan mengawal setiap kebijakannya. Bukan menjadi pemilih yang hanya sekedar coblos lalu tak mau peduli sesudahnya. Jadilah Pemilih Berdaulat, maka Negara Kuat. Silakan tonton filmnya.


Segmen Netizen, Relawan Demokrasi KPU Kota Metro


Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."