BLANTERWISDOM101

Surat yang Tak Kau Baca

27 March 2019
Apa kau tak menyukai apapun yang serba tertulis? Aku pikir tidak, lagi pula mana mungkin, sosok seperti dirimu yang katanya suka membaca karya-karya sama sekali tak menyukai tulisan. Sedikitnya dari membaca karya itu kau belajar bagaimana cara menghargai sebuah tulisan. Bukan menganggurkan macam sepucuk surat yang kutulis pekan kemarin. Bahkan tak kau sentuh sama sekali. Apa karena aku bukan sosok sastrawan? Tapi mana mungkin kau berpikir begitu.

Baiklah mungkin tulisanku tak menarik, tapi coba kau lihat dari cara yang berbeda. Bukan satu sudut yang memang kau anggap itu tak menarik. Lain cara melihat lain pula rasa yang kau dapat. Tapi, ahh, percuma, percuma aku memberi saran padamu, kau pun tak mau menyentuh tulisanku itu. Mana mungkin dibaca.

Apa karena caraku yang terlalu sederhana, yang tak menarik sehingga kau tak peduli. Memang hanya sepotong kertas putih yang kujadikan bahan curahan. Tapi apa kau perlu semacam surat-surat berstempel resmi dengan bahasa yang sama sekali (kubilang) tak menarik. Yang kadang berisi abu-abu. Sebab kau sering membaca yang begitu, meski hanya hitungan detik, lalu kau buang.

Surat pekan lalu yang tak kau baca kini sudah menjadi debu, kau menyuruh seseorang untuk memusnahkannya. Raut mukamu tak enak di pandang saat melihat suratku yang datang di mejamu itu, “Man, singkirkan benda ini!,” ujarmu pada anak buahmu. Lalu anak buahmu yang hidup hanya bergantung pada perintahmu itu pun juga sama sekali tak mau membuka atau membacanya sedetik pun.

Ahh, biarlah, mungkin kau suka memusnahkan setiap surat yang datang dariku. Tapi kau tak tahu, surat-surat yang datang padamu, yang tak pernah kau baca itu bukan berisi tentang pesan. Itu hanya kertas biasa yang berisi satu huruf tak bermakna, yang tak membentuk kata dan bukan berarti pesan, tapi aku lebih memberimu suatu hal yang lebih dari sekedar pesan, yakni kesan.
_
#Sandallll
_
Ditulis pas lagi hujan, di ruang depan rumah idaman, sambil ditemani musik yang tak karuan, hingga membuat pikiran berantakan, disambilah menulis yang ujungnya jadi beginian. (27/03/2019 | 20:50 WIB)


Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir"