BLANTERWISDOM101

Mispersepsi Tentang Teks

04 March 2019
Ini adalah catatan harian saja, sifatnya pribadi, tapi jika bermanfaat buat kalian juga silakan dibaca sesukanya. Pun kalau catatan ini mengundang kalian untuk meninggalkan jejak gagasan, silakan komentar saja. Ini tentang satu kata yang harus saya ingat dan pahami agar tidak menjadi biang masalah dikemudian hari. Kata itu adalah Mispersepsi.

Mispersepsi, mis artinya salah dan persepsi artinya anggapan, jadi Mispersepsi adalah salah anggapan atau salah pemahaman. Hal ini sering terjadi, bahkan bisa saya bilang lucu jika hal ini terjadi di forum diskusi/publik. Ya, harusnya pembahasannya tentang A dengan metode B, tapi justru karena Mispersepsi orang malah membahas Z yang tidak ada hubungannya dengan A.

Dalam dunia yang serba cepat ini (baca: digital), manusia hidup di dua dunia secara langsung, yakni dunia nyata yang real dengan segala fakta pengalaman indera dan dunia maya yang penuh dengan panggung sandiwara. Era digital memang sangat positif, sebab banyak orang makin mudah berinteraksi tanpa harus bertemu secara langsung. Tanpa ribet tinggal meninggalkan pesan/messenger ke orang lain, maka interaksi pun terjadi.

Namun, disinilah, di sebuah pesan singkat digital itu orang sering Mispersepsi, terutama tentang teks, memahami teks pesan tanpa ruang dan waktu, hanya mengobjekan dengan hasil tafsir pikirannya sendiri. Misalnya begini, saya berada di forum publik (sebut saja grup khusus messenger/pesan singkat) yang mengharuskan menulis kata: WOYY KALIAN!!!. Ternyata Ada yang marah, ada yang ketawa, ada yang hanya sekedar membacanya saja.

Pada dasarnya, saya menulis itu hanya untuk sekedar memancing suasana agar grup makin ribut, makin berbunyi dari suasana mati suri. Padahal saya menulis itu sambil tertawa dan menikmati suasana yang santai nan syahdu. Tapi ada yang marah hanya karena tertulis kapital semua dengan bumbu tanda seru seakan dalam suasana emosi akut.

Nah, yang kadang dilupakan, orang memahami teks tersebut hanya berdasarkan kesimpulan pikirannya tanpa mencari sebab atau kenapanya, seperti kenapa si (penulis teks) subjeknya menuliskan hal itu. Memang teks itu multipersepsi, bisa ditafsir sekarep pembacanya, tapi kalau hanya mengerucutkan teks menjadi satu persepsi (pemahaman), yo, alangkah mubazirnya. Ya kalau hasil persepsimu sama dengan si penulis teks, lah kalau tidak? Mungkin kalian akan masuk dalam kategori yang marah itu.

___
Purwosari, 04/03/2019 
Di atas kamar dengan mata yang masih mengantuk.



Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."