BLANTERWISDOM101

Menulis Itu Nggak Sesusah yang Kalian Bayangkan

11 January 2019
Kalau ditanya: “Menulis itu mudah atau susah, sih?” Apa yang bakal kalian jawab. Pasti ada yang bilang mudah dan ada juga yang bilang susah. Kenapa? Yohalah, kan yang jawab banyak cuy. Oke, yang bilang mudah, tentu itu orang-orang yang sudah terbiasa atau memang dirinya dilahirkan dengan bakat menulis yang luar biasa. Orang-orang seperti itu, sekali duduk, nemu ide, ditulis, jadilah tulisan menarik.

Kalau yang bilang susah, nah, ini, sama seperti saya dahulu. Menulis itu susah. Tapi dulu. Ehh, sekarang juga kadang masih susah kok, tapi nggak sesusah dulu. Kalau dulu saya nemu ide, lalu pengin nulis, lalu duduk dan niat menulis, sejam-duajam-tigajam, baru dapat satu paragraf. Sekarang, sekitar satu jam bisa lah buat satu cerpen. Kok bisa? Loh, bukanya yang namanya sesuatu itu bisa karena memang terbiasa, jadi biasakanlah.

Dulu pernah dapat omongan kalau membaca adalah kebiasaan yang dipaksakan, sebab membaca itu kebiasaan yang punya godaan luar biasa, misal: sewaktu baca buku, ehh ada notif pesan dari si dia, ohh yeaahh, auto read dulu pasti, atau virus-virus lain yang membuat kita malas membaca buku. Nah, makanya perlu dipaksa kebiasaan membaca itu, punya porsi khususlah.

Sama halnya dengan menulis, menulis juga kebiasaan yang harus dipaksakan. Kalian harus punya porsi khusus untuk kegiatan menulis. Menulis itu seni loh gaes, seni mikir. Satu paragraf bijak yang biasa kalian tulis di sosial media, itu kalau bukan dari renungan pikiran yang dalam hingga nemu satu kalimat luar biasa, ya dari mana lagi (ehh, atau copas dari Google juga banyak deng ya, wkwkwk).

Saya mulai menyadari kalau menulis itu nggak susah-susah amat salah satunya adalah ketika membaca buku karya Nassim Nicholas Thaleb dengan judul Ranjang Prokrustes, buku ini saya beli di obralan Gramedia, harganya cuman 5k. Dalam buku ini ada satu kalimat yang membuat saya jadi ngeh: “Menulis adalah seni mengulang-ulang tanpa disadari orang.”

Why? Yoi gaes, menulis itu cuman seni mengulang saja. Mengulang bagaimana? Dalam pemahaman saya adalah mengulang apa yang sudah dibahas orang lain. Misalnya saya hari ini menulis artikel bahwa menulis itu ternyata nggak susah, ehh besok ada juga yang menulis artikel tentang betapa gampangnya menulis, keduanya toh sama saja kan bahas menulis, cuman pengulangan saja. Tapi yang bikin beda adalah originalitasnya, versinya.

Duuh, by the way, kok jadi ngelantur gini ya bahasannya. Back to topic, menulis itu nggak sesusah yang kalian pikirkan gaes. Kalau kalian pernah punya ide, lalu pengin menulis dan ketika sudah majang di layar laptop untuk mulai mengetik tapi tiba-tiba bingung mau mulai dari mana atau stag di paragraf pertama, itu biasa, sama seperti saya dulu. Barangkali solusi saya ini cukup membantu.

  1. Anggaplah sewaktu menulis, kaliau akan berbicara pada sesuatu, entah tokoh fiktif buatan sendiri atau benda yang ada disekitar.
  2. Anggaplah bahwa kalian ini sedang curhat, luapkan saja semua yang kalian pikirkan atau resahkan itu pada lawan bicara yang kalian buat.
  3. Langsung tulis, buruan dicoba.

Contoh:

“Halo pintu kamarku yang malang, yang bisu, yang hanya diam ketika aku merasa pilu. Apa kabarmu hari ini? Dua hari aku tak bertemu denganmu. Apa kau masih sama seperti dulu, kian rapuh, kian berisik dengan suara engselmu yang butuh lumatan oli bekas, kau pun mulai hancur dimakan sekerumpulan rayap yang tak bertanggung jawab. Tapi kupikir deritamu itu biasa. Kamu tak sebanding denganku, hancur yang kamu rasakan tak ada apanya. Ingat kamu dengan lelaki kemarin, ingat kamu dengan tatapan indahnya saat memandangimu, yang kemarin berada di depanmu, membacakan satu kalimat indah hingga meluluhkan hatiku, itu kemarin, hari ini apa kamu tahu, dia.... dan bla bla bla seterusnya deh, pasti nanti ketemu sendiri.

Hal yang lain, coba kalian curhat kepada kertas, kepada sosok ibu tua yang bijak dan siapa saja pokoknya berandai-andai sama siapa gitu, sesuaikan dengan ide/gagasan yang akan dituangkan. Intinya kalian curhat saja, buat dialog-dialog yang menarik. Dan hal yang paling khusus, buat kalian yang sedang patah hati, coba saja lakukan tips di atas, saya kira tulisanmu bakal perfecto, muantaappp, nyastra banget.

Sekian. 
(Foto di bawah hanyalah pemanis, meski juga nggak manis, tapi bukan manisan.)

Biasa aja woy liatnya. wkwkwkwk

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."