BLANTERWISDOM101

Kendali

25 January 2019
Tulisan ini saya dapatkan dari web Qureta.  Salah satu tulisan yang saya bookmark sejak lama. Satu hal yang menarik dari tulisan ini sehingga saya suka untuk memposting ulang, adalah bahasa yang digunakan, yakni sangat mudah dipahami karena yang ditulis sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini saya post untuk dijadikan self reminder, pun buat kalian juga para pembaca yang setia.


_
Itu benar. Ketika ada yang berkata bahwa manusia dikendalikan oleh hal-hal yang di luar dirinya.

Itu benar. Bahwa manusia selalu terpengaruh oleh manusia lainnya. Membuat jiwa lumpuh. Tak bisa bergerak sendiri. Jalan pun perlu dipapah. Bahkan, untuk maju pun tersendat karena sesuatu dari luar diri kita.

Memang benar, manusia adalah makhluk sosial. Mau tak mau, ia butuh bersosial untuk hidup. Mau tak mau, ia harus 'bergantung' satu sama lain untuk menghadapi dunia.

Tapi, perlukah semua yang kita lakukan dikendalikan oleh yang lain?

Hal-hal dari luar diri yang mengendalikan kita seringnya adalah omongan orang lain. Tindakan orang lain terhadap kita. Membuat kita stuckdalam keadaan yang begini-begini saja. Selalu takut untuk mulai melangkah.

Jalan menuju kesuksesan, kita sendiri yang buat. Jalan menuju terciptanya sosok diri yang berguna di dunia, kita sendiri yang buat. Mahakarya, kita yang melahirkan.

Memulai tindak perubahan memang sulit dilakukan. Memulai, memang selalu sulit. Kadang, kita terlalu berperasaan. Ingin melakukan gerakan perubahan, takut dicemooh orang. Ingin mengkritik hal yang menurut diri salah, takut orang lain sakit hati. Harapan kita dipatahkan oleh orang-orang, kita langsung berhenti berharap. Ide kita dikritik banyak orang, kita berhenti kembali menuangkan ide.

Why? Kenapa kita harus peduli? Kenapa kita harus takut untuk maju hanya karena komentar orang-orang?

Kita adalah kita. Jiwa dan raga kita milik kita. Aku adalah aku. Mereka adalah mereka. Mereka tidak bisa meracuni aku dengan cemoohannya. Mereka tidak bisa mematahkan harapanku dengan pendapatnya. Dan mereka tidak bisa menguras habis ideku dengan kritik tanpa solusinya.

Kita yang membuat jalan untuk hidup kita. Selama kita yakin benar, kenapa harus takut untuk bertindak? Kenapa harus memikirkan orang lain untuk memulai dan mewujudkan mimpi?

Oke. Manusia memang tak mungkin luput dari kesalahan. Kebenaran yang diyakinkan pun bisa jadi hanya sebuah kebodohan. Adakalanya perlu mendengarkan perkataan orang untuk menampar kebodohan yang kita anggap benar. Maka, saran yang membangun adalah teman yang membantu dalam hal ini. Jangan buta dengan nasehat, jangan tuli dengan kritik yang positif. Butalah dengan nasehat yang menjerumuskan, dan tulilah dengan kritik yang merendahkan.

Kitalah yang mengetahui kemampuan diri. Kitalah yang patut menilai diri sendiri, bukan perspektif orang lain.

Pintar-pintarlah dalam melakukan suatu hal di depan banyak orang. Pintar-pintarlah dalam melangkah. Pintar-pintarlah dalam mengambil sebuah keputusan. Pintar-pintarlah dalam menanggapi orang-orang yang meragukan setiap hal yang ingin kau lakukan. Just be yourself, and don't let them control your work!
_
By: SZ
Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."