Sekolah

Bosan. Satu kata yang menggambarkanku saat ini. Tiga jam telah berlalu, dua mata pelajaran tak memberiku kenyamanan sekolah hari ini. Aku benci Matematika. Pada jam pertama aku harus bergelut dengan angka-angka dan rumus yang tentu saja sulit ku pahami, entah kenapa. Lalu baru selesai pelajaran menjengkelkan itu, datang Bahasa Inggris yang membuatku jadi ingin pulang ke rumah saja. Bukan perkara pelajarannya, tapi guru Bahasa Inggris itu yang bikin aku muak.

Bayangkan bagaimana jengkelnya dirimu, ketika mengucapkan satu grammar (kosa kata bahasa Inggris) dengan pronunciation (pengucapan) yang tak benar, kau dibentak dan dimarahi. Iya, mungkin itu bentuk peduli. Tapi, si guru itu bukan orang yang adil. Kenapa? Kalian harus tahu kalau aku ini sekelas dengan anaknya si guru. Anak si guru itu selalu dimanja, apapun yang salah, bahkan ketika sama salahnya seperti murid yang lain, sikapnya dibedakan. Kalau murid seperti aku ia marah, kalau murid idaman (anaknya sendiri) ia memanjakan. Guru macam apa ini.

Kata ibuku, guru itu adalah pengganti orang tua di rumah. Tapi kalau kupikir-pikir si guru bahasa Inggris itu sedang lupa. Iya, si guru lupa kalau anaknya di sekolah itu banyak. Si guru lupa kalau dia itu orang tua bagi anak-anak murid lain seperti diriku ini. Ahh, sudah, biar saja, lagi pula sudah berlalu. Setidaknya aku telah berhasil melawan rasa bosan dan jengkelku selama tiga jam tadi.

"Murung wajahmu, Har," Flow datang di waktu yang tak tepat. Waktu dimana aku memang harus sendiri, me-refresh semua perkara yang baru saja terjadi, setidaknya agar aku bisa segar lagi untuk menerima pelajaran selanjutnya.

"Kau selalu saja datang diwaktu yang tak tepat, Flow."

"Har, kau ini harusnya sadar. Satu-satunya teman yang mau dekat denganmu itu hanya aku. Kau itu terlalu suka hidup menyendiri."

"Sudah sifatku, Flow. Dalam kesendirian aku tak pernah sendiri. Aku selalu berdialog dengan diriku sendiri."

"Kau sedang bermonolog, Har. Mana ada berdialog dengan diri sendiri."

Sejenak aku merenungi ucapan Flow. Ada benarnya juga, aku hanya berdiam, merenung dan berpikir dengan diriku sendiri, dengan pemahamanku sendiri. Tapi aku bisa tak setuju juga, lagi pula alam sekitar kadang memberiku jawaban atas apa yang kurenungi. Apa itu bukan bentuk dari dialog dengan alam, setidaknya dialog batin? Tapi.., Ahh, entahlah. "Sudah habis uang jajanmu hingga kau datang kesini, Flow?"

"Ya, habis sejak tadi pagi. Semua ku tabung."

"Sepertinya kau mulai berubah."

"Sudahlah, lagi pula memang sedang malas jajan hari ini," ujarnya sambil membuka snack ringan yang dibawa dari rumah. Mungkin ini satu strategi dari ayah Flow agar anaknya ini mau menabung. Ya, dibawakannya satu bekal jajanan dari rumah agar uangnya bisa ditabung. Flow ini orang yang suka jajan atau sebut saja penikmat jajanan. Berapapun uang yang dibawanya sekolah, pasti habis.

Satu persatu isi dari snack yang dibawanya itu dimakan, sesekali juga ia menanyakan pertanyaan, mengajakku berdialog, ya, hal yang biasa terjadi ketika ia mulai merasa nikmat dengan apa yang dimakan. Meski sebenarnya aku malas menjawabnya.

"Kenapa Kevin bisa secerdas itu ya, Har?"

"Cerdas bagaimana?"

"Lihat saja. Dia bisa menjawab semua pertanyaan guru, menjawab benar soal-soal dibuku. Buktinya lagi, dia peringkat pertama di semester lalu."

"Ahh, Flow. Hal begitu cukup dengan berlatih saja," jawabku santai.

"Berlatih?"

"Iya, kau cukup latihan belajar. Tambah porsi belajarmu seserius Kevin."

"Kalau kau tahu begitu, kenapa kau tak coba? Kau pun butuh naik peringkat kan?"

"Tak mau aku, Flow. Aku tak butuh nilai-nilai itu. Aku hanya butuh ilmu yang bisa aku ambil untuk menikmati kehidupan, itu saja tak lebih. Lagi pula kalau aku harus mengejar untuk bisa disemua pelajaran, aku tak suka, untuk apa mati-matian demi hal yang tak disukai. Lelah saja yang didapat, Flow."

"Isi kepalamu ini memang selalu aneh, Har."

"Setidaknya ada isi, dari pada tak ada."

"Kau tak mau disebut cerdas layaknya Kevin?"

"Untuk apa?"

"Ya, mungkin dengan itu kau bisa dikenal banyak orang. Biar temanmu itu tak hanya aku seorang saja, Har."

"Flow, ku kira kau harus mengurangi porsi jajananmu."

"Ohh, itu tak bisa. Lagi pula kenapa?"

"Kau harus tahu. Setiap orang itu pada dasarnya cerdas. Cerdas pada bidang atau kemampuan masing-masing. Bukankah Tuhan menciptakan manusia salah satunya dengan kelebihan? Naah, tak ada manusia di dunia ini yang tak cerdas. Coba lihatlah sekolompok anak-anak itu," ku tunjuk sekolompok anak-anak jalanan yang tak mengeyam pendidikan formal sepertiku, "Apa kau berani jamin mereka itu tak lebih cerdas dari dirimu?"

"Mungkin, har. Dia pun tak sekolah."

"Kau harus buka pikiran lagi, Flow. Ingat, sekolah itu tempat untuk belajar dan belajar bisa dimana saja, dengan siapa saja. Maka setiap tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru, kau harus berpikir begitu. Bukan berarti anak-anak itu tak sekolah lantas tak secerdas dirimu, Flow. Jalan sekolah mereka itu beda, tak formal seperti kita, mereka bisa sekolah dimana saja. Dikala kita sibuk belajar di ruang kelas, mereka justru belajar di ruang terbuka, belajar dari orang-orang sekitar yang ditemuinya. Mereka belajar dengan orang-orang yang berbeda setiap harinya. Beda dengan kita yang hanya orang-orang itu saja."

"Dari mana aku tahu mereka itu cerdas, Har?" Flow kini bertanya dengan mata yang seakan serius.

"Kau mungkin paham cara menghitung Pitagoras, tapi apa kau paham bagaimana cara bertahan hidup dengan memulung layaknya mereka? Kau akan dikatakan bodoh dibagian itu olehnya."

Flow sejenak diam. Mungkin ia meresapi apa yang kukatakan. Agak kasar memang. Mungkin ini sindiran baginya yang hidup hanya menghabiskan uang orang tua, tanpa pernah tahu dan merasakan sulitnya mencari uang untuk bertahan hidup. Belum lagi Flow menambah kata-kata, bel sekolah sudah berbunyi. Tapi kali ini tiga kali, tanda yang kami kenal bukan masuk jam pelajaran, tapi waktu untuk pulang.

"Pulang, Flow?," tanyaku memastikan.

"Ahh, iya, lupa aku bilang, guru-guru akan ada rapat penting hari ini, jadi kita dipulangkan."

"Tahu begitu harusnya aku tak usah sekolah, hanya membosankan pelajaran tadi," ucapku lalu perlahan pergi meninggalkan Flow.

Belum ada sepuluh langkah aku berlajan, Flow menamparku dengan pertanyaan lagi, "Har, apa Kevin tahu tentang yang kau katakan tadi?" Namun tak kujawab, hanya kubiarkan saja dan kulanjutkan langkahku menuju kelas untuk berkemas.[]


Cerpen by: #Sandallll

0 Response to "Sekolah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel