BLANTERWISDOM101

Rencana Tuhan (Matinya Magio)

18 December 2018
Pagi yang berbeda dari biasanya. Tak ada lagi suara idaman yang membangunkanku dari tidur nyenyak atau justru yang mengganguku dari bunga tidur yang indah. Tak ada lagi dia, Magio. Dia telah mati. Magio telah merelakan nyawanya demi hidupku sekeluarga. Magio kini telah menjadi hidangan nikmat, menjadi sarapan bagi kami sekeluarga. Ohh, iya, Magio itu nama Ayam Jantan kesayanganku. Iya harus segera dibunuh secara halal karena tak bisa sembuh dari sakitnya. Kata ibuku, ia harus segera dibunuh, sebab jika mati karena alam, itu akan sia-sia, setidaknya bagi kami. Sebab, kami diajarkan untuk tidak memakan hewan mati alias bangkai, maka jika mati karena alam, tak akan bisa kami makan dagingnya Magio.

"Sarapan di meja, Nang," kata Emak ku pagi itu.

Sambil mengenakan dasi biru, ku iya kan perintahnya, "Iya, Mak."

Baru ku keluar dari kamar untuk menyantap sarapan, Flow malah datang menghampiriku. "Har, ayo cepat berangkat," suaranya dari pintu depan rumah yang terbuka.

Aku pun mendekatinya, "Flow, masih pagi begini, cepat sekali kau datang. Belum juga aku sarapan."

"Sudah, bawa saja ke mobil. Sarapan di mobil."

Tiba-tiba ibuku datang menghampiri dan memberikan satu bungkus sarapan yang hendak ku makan tadi. "Ini, Nang, bawa, cepat berangkat."

"Itu, sudah dibungkuskan Emakmu. Ayo, ku tunggu di mobil, Har," ucap Flow lalu kembali ke mobil bersama Ayahnya.

Tiap hari memang aku berangkat sekolah bareng Flow. Kami sekolah di tempat yang sama, sedang Ayah Flow bekerja tak jauh dari sekolah kami. Karena ketergantungan dengan tumpangan Flow ini membuatku harus ikut aturan mainnya. Seperti tadi, berangkat tiba-tiba karena Ayah Flow ada urusan penting pagi-pagi. Tak masalah, paling-paling aku harus merelakan sarapan pagi. Toh aku pun terbiasa tanpa sarapan, bahkan puasa.

"Jarang aku lihat kau bawa bekal begini, Har. Dimakan saja. Masih sekitar 15 menit lagi kita sampai."

"Tak biasa aku makan di mobil Flow, biar nanti saja."

"Kelaparan kau nanti, belajar tak konsentrasi."

"Tak begitu lah. Aku sudah terbiasa tanpa Sarapan. Lagi pula, aku lebih tau tentang diriku ketimbang tahunya dirimu tentang diriku. Aku tahu diriku sendiri, Flow."

"Hmm, yasudah."

"Kau tau apa isi yang kubawa ini?"

"Apa? Biar kucium aromanya," hidung Flow pun mulai mengendus bungkusan makanan yang kubawa.

"Sedaaapp, Har. Tapi apa?"

"Ini Magio."

"Lahh..., Kenapa harus Ayam kesayanganmu itu, Har? Padahal suara kokoknya unik. Langka ayam macam Magio itu."

"Kata Emak: Kalau kamu masih sayang, harus disembelih segera."

"Kenapa?"

"Katanya: Kalau mati karena alam, aku tak akan pernah bisa menikmati lezatnya Magio, justru hanya akan jadi santapan para bakteri pengurai."

"Sudah takdirnya Magio harus mati mungkin, Har."

"Ya, mau apa lagi, tak mungkin bisa melawan takdir Tuhan. Padahal, kalau aku tau Magio bakal mati, biar kulepas saja waktu itu dengan harga mahal. Ahh, menyesal aku."

"Kenapa tak kau lepas waktu itu?"

"Kupikir orang yang mau beli itu bakal kembali lagi dengan tawaran tinggi, tapi belum juga datang lagi, Magio harus mati. Padahal akan kupakai untuk bayar sekolah, Flow."

"Sudahlah, Har. Magio mati pun kau diberinya kenikmatan, nikmat gizi. Kau santap saja daging Magio itu. Rencana Tuhan itu jauh lebih baik dari apa yang sudah kau rencanakan. Makanlah, nikmatilah, ajaklah Flow makan daging Magio itu. Urusan sekolah biar kubayar sekalian dengan punya Flow nanti," timpal ayah Flow.

"Apa maksudnya, Pak?"

"Sudah, jangan kau pikirkan lagi biaya sekolah. Biar kubayari saja biaya sekolahmu."

"Pak, harus kubalas dengan apa kebaikan ini?" Meski kata yang akan ku ucap tak cukup untuk membalas kebaikannya, lantas apa lagi yang harus ku ucap selain kalimat, "Terimakasih, Pak, benar terimakasih sekali," ujarku sambil kucium tangannya.

Setibanya disekolah dan telah kusalami, Ayah Flow berucap, "Balas saja dengan sekolah yang benar, Har. Almarhum ayahmu ingin kau jadi peternak yang hebat," kalimat terakhir hari ini dari ayah Flow sebelum kami berdua pergi meninggalkannya dari gerbang.

Satu hal yang kupercaya dari ucapan Ayah Flow, Rencana Tuhan jauh lebik baik dari rencana makhluknya. Apa jadinya jika ayamku tak mati, entahlah. Tak mau aku berandai-andai, sebab aku hanya percaya segala hal yang terjadi adalah sebuah kebaikan dari Tuhan. Ya, apapun itu. Bahkan dari pelajaran agama hari ini, aku diajari untuk selalu bersikap huznuzon (prasangka baik) pada apapun.[] 


_
Cerpen by #Sandallll
Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."