Idiot

Di bawah pohon mangga kecil yang tak begitu rindang. Ditemani suara bising kendaraan yang melaju silih berganti dan indahnya pemandangan bintang di kanvas alam yang kusebut langit. Aku masih memikirkan apa yang baru saja Johan katakan padaku siang tadi, tentang manusia. Tapi tiba-tiba Flow datang menganggu kenyamanan berpikirku.


"Hai, Mahar, kenapa kau diam merenung seperti itu?"

"Ahh, kau lagi, Flow. Jangan ganggu aku disaat seperti ini," ujarku sedikit marah, "aku ini sedang serius."

"Haduh, apa aku ini jauh lebih mengganggu daripada suara bising kendaraan disekitarmu?"

"Ya, setidaknya kebisingan itu terpola dan aku terbiasa, daripada kedatanganmu. Pergi kau!!"

"Enak saja. Tak mau. Aku ingin disini, aku ingin bersantai juga ditempat ini."

"Ahh, kau pasti akan menggangu ketenanganku, Flow," aku mulai geram, "sana pergi!!"

"Mahar, jangan kau emosi, ini tempat bukan kau yang buat, Paman Moci yang buat. Ini tempat dibuat untuk siapapun yang ingin menikmati indahnya malam kota ini. Mangga ini pun dia yang tanam, bukan kau!!" Flow tetap ngeyel, "siapapun boleh, sudahlah aku juga mau disini."

Kubiarkan gadis seumuranku itu bersantai di kursi lebar yang mungkin bisa juga disebut meja. Disini, tepat di bawah pohon mangga, tempat ini dibuat oleh Paman Moci, seorang petani jagung yang suka menikmati indahnya bintang malam hari. Paman Moci adalah kakak dari Ayah Flow. Tak punya kuasa penuh aku mengusir gadis 14 tahun ini pergi dari sini. Kalau sudah sebut nama Paman Moci, aku selalu kalah.

"Kau masih dibuatnya bingung, ya, Har?"

"Sudahlah diam saja kau ini, Flow," gertakku.

"Ceritakan saja wahai Mahar."

"Hmm, baiklah. Jadi dia mulai berkata aneh lagi, Flow. Mau kau tahu?"

"Sebentar. Bukannya dia memang aneh dan itu kan sudah biasa?"

"Kali ini beda."

Flow yang tadi berbaring menatap langit dan menikmati gemerlap bintang tiba-tiba langsung duduk, lalu dengan tatapan mata serius ke arahku ia bersuara, "Katakan apa yang ia katakan, Har!"

"Begini: Manusia itu isinya cuman masalah, hei kamu, jangan mau hidup jadi manusia!!!; begitu dia bicara padaku tadi siang Flow."

"Hanya itu?"

"Ya, tak ada lagi. Apa kau masih menganggapnya biasa?"

"Biasa saja dan untuk apa dipusingkan omongannya itu."

"Hei hei hei, Flow, ingat!! Dia itu manusia, lalu kenapa ia berkata jangan mau hidup jadi manusia?"

"Dia itu idiot, Har, kenapa kau ambil pusing?"

"Bukannya Paman Moci selalu bilang pada kita untuk mempelajari segala apa yang dibicarakan bukan karena siapa yang berbicara."

"Lalu, kau sudah belajar apa dari perkataan si idiot itu?"

"Ada benarnya kata Johan. Bukankah hidup manusia memang penuh masalah?"

Flow membaringkan lagi tubuhnya di kursi lebar ini sambil kembali menatap bintang yang gemerlap. "Benar sekali wahai Mahar."

Sembari memejamkan mata Flow melanjutkan bicaranya, "Ya, tak usah dipusingkan kata Johan. Manusia memang isinya cuman masalah. Selagi manusia punya akal, maka hidupnya akan penuh masalah. Sebab akal adalah sumber masalah. Akal memang berguna untuk berpikir dan kadang pula akal memberi pikiran negatif pada kita yang terus menambah masalah pada hidup kita."

"Aku paham. Maka kalau manusia tak mau hidup penuh masalah, tak perlu lah ia hidup dengan akal."

"Jadilah ia manusia seperti Johan itu, Har. Idiot," ujarnya lalu tertawa, "Hahahaha."

Selepas dialog dengan Flow, aku pulang. Sebelum tidur, aku justru kembali berpikir, seidiotnya Johan, kenapa ia lebih bisa bicara cerdas seperti itu ketimbang diriku, siapa yang idiot sebenarnya, aku atau dia? Lama aku merenunginya, hingga tak sengaja sampai tertidur pulas.[]

_
Cerpen by #Sandallll

0 Response to "Idiot"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel