Metamorfosis Kecoa dan Sampah Kompos

Aku adalah daun.

Baru saja gugur dari pohon yang tak kuketahui akar sejarahnya.

Tubuhku terpelanting disasak angin sore yang belajar brutal.

Karena hanya daun.
Aku tak punya otak yang harus khukawatirkan ketika tubuhku terhempas di bawah sepatu pantopelmu yang pertama peduli nasibku.

Buka pemuka agama yang alim dan klimis itu.

Bukan sepanjang yang berseragam hijau dan cokelat itu.
Dan bukan juga orang-orang yang berlalu lalang di kiri dan kananku.

Yang pedulis denganku adalah seekor kecoa yang merambat ditubuh dan menjerit menceritakan banyak hal.

Tidak juga sepertimu yang gemar bertanya, tidak seperti matahari tadi pagi.

Tubuhku yang mengering diambil dan dimasukkan ke dalam akuarium tubuhku yang renta bergoyang-goyang diumat derita air yang bening, gelembung-gelembung, cahaya, dan ikan lauhan menaruh simpati kepadaku.

Untuk kali terakhir aku ceritakan kisah cinta kita kepada mereka.

Kebaikan-kebaikan kecoa sengaja kusimpan rapat-rapat demi kamu.

___
Puisi ini saya dapatkan dari buku "Hidup itu Harus Pintar Ngegas dan Ngerem" karya Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun pada halaman 44.

0 Response to "Metamorfosis Kecoa dan Sampah Kompos"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel