Aku, Karang Taruna dan Purwosari (Kegiatan Minggu Pagi)

Awalnya hanya wacana, pada akhirnya sampai juga pada pelaksanaan. Awalnya hanya sekedar omongan basa-basi, kapan begitu dan kapan begini, pada akhirnya sampai juga pada eksekusi. Setidaknya prolog (atau pembukaan) di atas bisa menggambarkan apa yang baru saja terjadi pada Minggu kemarin (25/11) di Kompleks Kelurahan Purwosari.

Minggu pagi, itu adalah waktu yang sangat kantuk bagiku setelah sehari-semalam tak tidur mengamankan alat-alat untuk kegiatan. Minggu tersebut adalah kali pertama dimana aku terlibat (dengan sedikit-sangat lebih sibuk) pada satu kegiatan Organisasi Kepemudaan (OKP) di desa kelahiranku, yakni Karnaval dan Lomba Mewarnai Tingkat PAUD-TK-SD, Karang Taruna Purwosari.

Mungkin terkesan sederhana. Hanya kegiatan Karnaval dan Lomba Mewarnai sebagai bentuk peringatan Hari Pahlawan dan Hari Guru Nasional. Apalagi diikuti oleh peserta  anak-anak. Tapi bagiku hanya mereka yang bermata biasa yang sekedar memandang kegiatan ini sesederhana itu. Sebab aku sendiri menemukan banyak hal. Tentang apa itu Karang Taruna dari akar (nilai yang terkandung) sampai pada kulturalnya (keadaan situasi SDM yang ada).

Aku dapat banyak hal dari segala kesalahan, baik itu teknis sampai pemikiran. Bukan hanya tentang bagaimana suksesnya kegiatan dilaksanakan, tapi bagaimana semua yang berbeda kepala bisa disatukan. Aku tahu bagaimana semua yang terlibat untuk Minggu pagi itu harus merasakan lelah yang luar biasa. Ada yang lelah hanya di hari Minggu tersebut saja, tapi ada juga yang lelah sejak jauh hari demi Minggu tersebut.

Banyak yang tersenyum bahagia, senang dan gembira bisa ikut di kegiatan hari Minggu itu. Tapi ada juga yang harus rela meluapkan puncak emosinya dengan rintikan air mata demi kegiatan tersebut. Ya, semua kusaksikan, sebab aku adalah bagian dari semua yang kusebutkan tadi. Setidaknya aku belajar dari cara mereka berkorban untuk kegiatan, bahwa berorganisasi itu bukan tentang "Apa yang bisa didapatkan, tapi apa yang bisa diberikan".

Acara tersebut memang singkat, tapi efeknya (semoga) jangka panjang. Bukan tentang senang, kesan atau pujian yang diterima sebagai sejarah di masing-masing pikiran setiap orang bahwa Karang Taruna Purwosari pernah ada kegiatan, tapi tentang bagaimana semua pemuda yang terlibat bisa saling komunikasi, sinergi dan dekat secara emosional. Mereka menjadi satu, saling support dan kuat.

Bukankah kekuatan Organisasi ada pada kebersamaan setiap orang di dalamnya yang saling support? Tentu. Maka tak heran hal pertama yang harus dilakukan pada proses organisasi adalah saling kenal dulu,  dengan saling komunikasi, lalu saling akrab hingga pada titik emosional. Ya, seperti kata Bung Ferry Handono (Sekretaris Karta Kota Metro) tempo lalu, "Sekecil-kecilnya di Karang Taruna kalian pemuda Purwosari itu bisa saling kenal." Memang semuanya butuh strategi, tapi salah satu strategi itu adalah kegiatan hari Minggu tersebut.

Sebenarnya sudah sejak tahun 2016 aku mencari OKP ini, setelah beberapa tahun sibuk dengan kegiatan di Kampus, menjalankan roda sistem miniatur masyarakat. Maka kupikir saatnya terjun di realitas Masyarakat. Tapi baru 2017 aku bisa menjadi bagian di OKP ini. Waktu berlalu tak ada gertakan (kegiatan) apa pun yang bisa ku ikuti dengan totalitas. Tak ada pendekatan emosional yang mantap kudapat saat itu. Hingga pada 2018 ini aku menemukannya, bahkan lebih dari itu.

Tentu motivasi yang membuatku kenapa harus aktif dan merasa untuk bisa ada di OKP ini. Teringat dengan apa yang sudah di tulis WS Rendra lewat karya Sajak Seonggok Jagung, yang mampu membuatku untuk bangun dari tidurku, untuk melawan arus dan terus menerbangkan raga ini pada kesibukan positif.

Semoga selanjutnya Aku, Karang Taruna, dan desaku Purwosari yang sudah berumur lebih dari 80 tahun ini bisa jauh lebih keren dan unik. Tentunya dengan dukungan para kreator, para warganya yang kreatif dan berani. 

_____

“Sajak Seonggok Jagung. WS Rendra”

Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran atau apa saja, bila pada akhirnya, ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata:
Di sini aku merasa asing dan sepi!



www.karangtarunapurwosari.blogspot.com 

0 Response to "Aku, Karang Taruna dan Purwosari (Kegiatan Minggu Pagi) "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel