Sebuah Catatan atau Sebuah Cerita, Entahlah

Jangan cari aku yang mana...
Ku awali tulisan ini dengan satu kalimat tanya. Apa yang berbeda di hari Minggu ini? Jawabku: Suasana. Meski pada dasarnya apapun suasana adalah bawaan dari pikiran. Pikiran tenang, suasana pun tenang. Pikiran ruwet, suasana pun akan semrawut. Hari Minggu biasanya aku sibuk dengan beberapa kode-kode perintah komputer yang jlimet untuk bertempur melawan mesin pencari Google, mengelola sebuah website dan menulis beberapa tulisan receh untuk media (online atau cetak).

Hari Minggu ini (28/10/2018) aku harus mandi lebih pagi. Tak seperti biasanya, ketika jarum waktu masih di angka 5, tubuh ini harus dipaksa menikmati dingingnya air bak. Hanya demi sebuah kebersamaan, aku datang ke lokasi pertemuan para pemuda yang terlibat dalam sebuah agenda. Beberapa menit kutempuh untuk tiba di lapangan bola, disitulah aku dan beberapa pemuda lainnnya berkumpul, menjadi bagian dari suksesnya agenda khusus para lansia.

Para pemuda yang sudah beberapa hari mempersiapkan untuk kontribusi di acara ini mulai berpencar dengan tugasnya masing-masing. Tak lupa kertas putih bertuliskan ‘Pengurus Karang Taruna Purwosari” dikalungkan di leher masing-masing pemuda sebagai identitas. Para pemuda ini adalah pengurus Karang Taruna Kelurahan Purwosari, mereka (termasuk juga aku) menjadi panitia di acara gebyar senam.

Ratusan peserta kegiatan yang dominan para lansia memenuhi lapangan dan meriah dengan gerakan senam. Selama sekitar satu jam, suara musik berirama satu sampai delapan itu menemaniku. Hingga pada akhirnya acara tersebut selesai, para pemuda yang tadi berpencar dengan tugas masing-masing berkumpul menjadi satu di atas panggung. Bukan untuk menampilkan sebuah seni, sebab lapangan sudah sepi, tak ada penonton. Tapi hanya untuk menyimpan moment indah di pagi hari, dengan beberapa foto selfie.

Sebelum acara tersebut selesai, setibanya aku di lokasi dan sibuk dengan tugasku sebagai panitia keamanan (atau sebut saja tukang parkir), aku melihat ibu-ibu dan bapak-bapak asyik bergoyang, berirama dengan musik, melupakan kami yang mungkin butuh kopi. Maklum, bangunnya terlalu pagi jadi lupa untuk ngopi. Bertugas sebagai panitia parkir tentu teman terbanyak disekelilingku adalah kendaraan, terhitung ada ratusan motor dan beberapa buah mobil.

Sesaat mataku melihat Mobil hitam yang terparkir dipinggir jalan, dekat dengan tempatku berdiam diri. Tak ada yang aneh, tapi mataku terus menatap detil Mobil tersebut. Tak ada juga yang berubah dan tak ada yang baru yang bisa menarik perhatianku lama-lama. Tapi secepat itu mata melihat, pikiran ini justru mampu melihat lebih jauh dan lebih dalam dari sebatas yang dilihat oleh mata.

Pikiranku menyelam, mencoba mencari hubungan antara mobil tersebut dengan aku disini (dengan kalung nametag Karang Taruna). Aku mulai memecah fakta-fakta dari Mobil tersebut. Mobil? Kukira itu hanya sebuah nama. Ya, nama yang memiliki arti (alat transportasi). Namun yang kusebut Mobil itu sebenarnya hanya beberapa kumpulan komponen seperti: stir, gas, rem, roda, lampu, body, kursi dan lainnya yang disusun secara tepat, sesuai pada porsi (fungsinya) masing-masing. Seperti stir yang ditempatkan pada tempat yang semestinya, bukan pada tempat yang semestinya untuk roda.

Semua komponen itu bersatu, menjadi kuat dan justru bermanfaat. Kumpulan komponen itu oleh manusia diberi nama Mobil. Lalu, bukankah Karang Taruna itu juga sama seperti Mobil? Karang Taruna hanyalah sebuah nama. Nama yang memiliki arti Organisasi Kepemudaan. Nama yang harus terus dirawat layaknya kita punya mobil. Karang Taruna sama dengan mobil, ia juga tersusun dari bagian-bagian atau komponen-komponen. Karang Taruna itu juga punya stir, punya roda, punya kursi, punya lampu dan lainnya lagi. Komponen-komponen itu adalah diri kita sendiri, ya, kita ini yang sebagai kader/anggota Karang Taruna.

Komponen-komponen di Karang Taruna itu kuartikan sebagai karakter setiap anggota Karang Taruna. Akan ada anggota Karang Taruna yang punya skill atau karakter layaknya stir, roda, kursi, lampu, dan body pada mobil atau apapaun komponen di dalam mobil. Akan ada juga anggota Karang Taruna yang hanya bisa seperti stir tapi tidak bisa seperti roda. Akan ada juga anggota Karang Taruna yang bisa punya dua skill atau karakter, bahkan lebih. Komponen-komponen itu berbeda, dan harus disatukan. Kita harus sadar bahwa di Karang Taruna itu ada banyak anggota yang punya kemampuan berbeda-beda. Karang Taruna harus mewadahi perbedaan itu dan menjadikannya satu kesatuan yang mampu berjalan bersama-beriringan.

Bayangkan jika beberapa komponen pada mobil itu maunya berjalan sendiri-sendiri, akan jadi apa? Tentu bukan mobil lagi dan tentu tak ada manfaatnya lagi. Begitu juga kiranya di Karang Taruna, kita harus jalan bersama. Apapun karakter dan skill yang dipunya, mari berjalan bersama di Karang Taruna. Kita kuatkan Karang Taruna dengan kebersamaan. Kita beri apapun yang bisa kita beri untuk Karang Taruna. Skillmu apa, tunjukan di Karang Taruna.


Mobil hitam itu membawa alam pikiranku sampai berpikir segitunya. Bahkan menggiringku untuk menulis catatan singkat ini. Entah ini catatan yang berlebihan atau hanya sekedar cerita singkatku yang menjadi teman menghabiskan kopi di samping Notebook. Yang terpenting adalah sebagai pemuda aku cuma mau bilang: Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2018.
___

SUMPAH PEMUDA:
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. 
Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.




0 Response to "Sebuah Catatan atau Sebuah Cerita, Entahlah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel