Indonesia Dalam Satu Ruangan (Thanks for All)

JAKARTA - Terdiam, fokus, menatap sebuah layar digital yang dikirimkan dari proyektor. Pemuda ini mengantongi pena bermotif Batik dan secarik kertas. Matanya fokus ke layar, mulutnya terdiam tapi telinganya fokus mendengarkan sebuah ceramah penghibur dari seorang perempuan cantik di depannya.

Ia tak tergoda dengan paras cantik perempuan itu yang tak lain adalah salah seorang yang telah memberinya kesempatan hadir disini, di Hotel Millenium, Jakarta. Ketika perempuan itu berkata, “Asian Games,” dengan semangat pemuda tersebut teriak, “Dukung Bersama.” Dan lagi, ketika perempuan cantik itu juga berkata, “Writingthon,” pemuda itu lagi berteriak, “Asian Games 2018.”

Rupanya virus euforia kemeriahan Asian Games 2018 yang diselenggarakan di dua kota besar, yakni Jakarta (yang dulu bernama Batavia) dan Palembang (yang dulu bermana Sriwijaya) ini mampu membawanya hadir di ruangan ini. Ruangan yang berukuran persegi panjang, sebuah ruangan yang mampu menampung puluhan manusia dan yang akan membawanya keliling Indonesia.

Tapi kini pemuda itu justru mulai hilang fokus pada sekitarnya ketika sebuah musik Energy18 – Bright As The Sun yang merupakan musik resmi event terbesar kedua setelah Olimpiade tersebut di putar. Musik itu mempengaruhi pikirannya untuk kembali mengingat perjuangannya hingga mampu hadir dan duduk di ruangan ini.

Kala itu (16/07), pukul 23:43 wib, kantuknya tak tertahan, matanya merah setelah seharian tak tidur. Sebuah kopi pahit khas Lampung menjadi kekasihnya malam itu. Dan sebuah musik Energy18 – Bright As The Sun menjadi energi bagi pikirannya yang terus menentang tubuhnya yang lelah itu.

Semakin kuat ia menahan kantuk, pikirannya pun mulai menguasai tubuhnya. Kini jemari tangannya semakin kuat menari diatas sebuah mesin tik modern, mengerjakan tugasnya malam itu. Volume musik Energy18 – Bright As The Sun pun dinaikan dan pikirannya semakin mengalir menuliskan apa yang baru saja terjadi pada kedua teman pemuda dan salah satu tokoh desanya beberapa jam lalu.

Satu jam terlampaui, dua dan hingga tiga jam lebih tak terasa secangkir kopi dan mungkin sudah puluhan kali musik Energy18 – Bright As The Sun yang diputarnya menjadi “racun” yang mengontrol tubuh dan pikirannya. Bahkan ia baru saja mampu menyelesaikan tugasnya tersebut ketika adzan subuh berkumandang.

Mungkin ini tak begitu indah untuk dinikmati, hanya demi sebuah tulisan berjudul Kisah Tiga Pemuda. Tapi ia tak menyangka, sebab tulisan yang dikirimnya di event menulis se-Indonesia pasca bangun tidur dari balas dendamnya ketika semalaman tak tidur membuat text paragraf-paragraf sederhana itu. Kini ia bisa duduk santai di ruangan mewah ini, di sebuah tempat yang akan memberinya nikmat pada indahnya Indonesia.

“Asian Games,” suara perempuan itu mengagetkannya. Menyadarkan pemuda tersebut pada suasana disekitarnya. “Dukung bersama,” sahutnya keras. Mata pemuda itu mulai fokus pada perempuan cantik  yang mengenakan kaos merah bertuliskan Bitread.id. Tangannya mulai meraih pena batik dan kertas di saku kirinya. Ia pun mulai menggoreskan pena tersebut:

***
“Hai pembaca, namaku Ahmad Mustaqim. Malam ini aku berada di Hotel Millenium, Jakarta. Aku adalah pemuda perwakilan provinsi tercintaku, Lampung, sebagai peserta event menulis Bitread.id. Aku adalah pemuda asli Lampung. Sejak lahir hingga aku menjadi manusia yang lebih berakal ini hidup disana. Aku dibesarkan di kota bernama Metro, di sebuah kecamatan bernama Metro Utara, di desa bernama Purwosari, khususnya lingkungan II (RW02). Secuil (Jawa:sepotong) tentang ke-Indonesiaanku adalah bahwa aku orang asli Lampung, tapi suku asli Jawa. "Yo, aku, wong Jowo".

Kutulis ini sebagai ucapan terimakasihku kepada kedua temanku malam itu, Ami dan Alan, dan khususnya pak RW 02 yang memberi Informasi, kegiatan desaku. Tak lupa guru menulisku yang tak bisa kusebutkan semuanya. Dan pihak yang telah mengadakan event dan membawaku hadir di ruangan ini, mulai dari Bitread.id, Kemenkominfo dan semua penyelenggaran Asian Games  2018 lainnya. Aku akan dikarantina mulai tanggal 15-19 Agustus 2018. Bersama semua peserta se-Indonesia akan ikut andil dalam menuliskan sejarah kemeriahan Asian Games 2018.

Sekali lagi terimakasih untuk semuanya, bahkan tak lupa juga untuk semut merah yang tanpa sengaja kubunuh karena mengganggu fokusku pada tugas menulis itu. Juga tak lupa pada angin malam yang membawakan oksigen gratis setiap waktu. Lebih khusus lagi pada Tuhanku yang mengatur semuanya. “Tuhan lihatlah, disini aku duduk, menikmati indahnya Indonesia yang kau ciptakan dan menikmati semua perbedaan dari 34 provinsi yang Engkau satukan.”
***
_____________
Hotel Millenium, Jakarta
15/08/2018 23:03 WIB

#WritingthonAsianGames
#AsianGames2018
#Bitread.id
#PemudaLampung

*Foto-foto:



Bagian Timur

12 Responses to "Indonesia Dalam Satu Ruangan (Thanks for All)"

  1. Selalu support untuk blogger lampung, semoga makin dikenal 👍👌

    ReplyDelete
  2. Aaaah aku suka aku suka.. lampung di hati selalu di hati.

    ReplyDelete
  3. Pengalaman semakin luas bro, mantap bgt .... Salam bro dri blogger Bukittinggi 😆 mampirlah kesini, area Jam Gadangnya lgi direnovasi biar makin cantik 😆

    ReplyDelete
  4. Masya allah,
    Like it, sukses selalu..
    Keren keren kereeenn

    ReplyDelete
  5. Harumkan namamu, keluargamu, daerahmu, provinsimu, @sandallll is the best to asian games.

    ReplyDelete
  6. Mia Ratulangi16/8/18 5:42 PM

    Wagelaseeh, terus nulis jgn puas sampai sini aja.. Fighting ^^

    ReplyDelete
  7. Teruskan semangatmu anak muda...👌👌👌

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel