BLANTERWISDOM101

Kisah Tiga Pemuda - Semangat Meriahkan Asian Games 2018

17 July 2018
PURWOSARI - Karang Taruna, itulah tempat dimana aku dibentuk. Tempat yang membenturkanku pada kehidupan masyarakat, pada problem-problem kehidupan yang membuatku terus berproses dan belajar untuk mengembangkan jiwa sosial. “Karang taruna adalah wadah untuk mengembangkan generasi muda. Seperti kamu, pemuda desa yang nanti harus bisa membangun desa ini,” begitu kata ketua Rukun Warga (RW) Lingkungan II desa Purwosari, bapak Suroso, saat kutemui dirumahnya.

Sesi foto bersama RW02 (Lingkungan II) desa Purwosari, Metro Utara.

Malam itu (16/07), di pinggir jalan aspal yang cukup kecil. Aku dan kedua temanku bersantai menikmati segarnya suasana malam yang tenang. Ditemani dengan jutaan bintang dan nikmatnya seduhan kopi hangat, kami berbagi cerita hingga larut malam. “Piala Dunia 2018 sudah selesai. Next plan, nonton Asian Games 2018, ke Jakabaring?” ujar Ami, salah satu temanku yang juga kader di Karang Taruna desa Purwosari.

Wacana yang sudah lama direncanakan, bahkan ketika pagelaran Piala Dunia 2018 belum dilaksanakan. Kami memang ingin datang dan melihat langsung Indonesia bertanding, khususnya Timnas Sepakbola. Datang dan dukung bersama serta berteriak “INDONESIA!!!”  dengan semangat nasionalisme bersama puluhan ribu penonton di stadion.

Wajar jika kami ingin ke Stadion Jakabaring, Palembang. Meski pagelaran Asian Games 2018 dilaksanakan di dua provinsi, Jakarta dan Palembang. Lokasi kami yang terletak di desa Purwosari, Kota Metro, Provinsi Lampung, yang tak jauh dari Palembang, yang hanya perlu menempuh jalur darat untuk sampai membuat kami ingin kesana.

“Mendukung Indonesia di Asian Games 2018 langsung di arena jauh lebih terasa semangatnya. Sekalian juga kita nanti nonton Oppa Son,” kata Alan, temanku yang juga anggota karang taruna Purwosari mendukung penuh terlaksananya rencana Ami.

Di Asian Games 2018 memang akan ada Oppa Son, sebutan nakal bagi Alan untuk pemain sepak bola asal Korea Selatan, Son Heung Min, yang juga bermain di klub besar Inggris, Tottenham Hotspur. Pemain hebat ini kabarnya akan tampil di Asian Games 2018. Selain sepak bola, Asian Games ke-18 yang diselenggarakan di dua kota besar di Indonesia ini juga akan mempertandingkan 40 cabang olahraga dari sekitar 45 negara yang bertanding.

Tahun ini Indonesia akan menjadi rumah. Rumah bagi sekitar 15.000 Atlet dari seluruh Asia yang akan bertanding, lebih dari 7000 Media dan 30.000 Volunteer. Tentu ini membuat seluruh masyarakat Indonesia bangga. Sebab Indonesia mampu menggelar event terbesar se-Benua Asia.

Di daerahku berbagai media ramai memberitakan, Lampung mendukung Asian Games 2018, berbagai pamflet dinas-dinas di provinsi Lampung juga banyak yang menyebar dukungan bersamanya untuk Asian Games 2018. Termasuk Kotaku sendiri, Kota Metro, melalui event “Walikota Cup: Meriahkan Asian Games 2018” seluruh kota ikut serta berpartisipasi menyambut event terbesar se-Asia ini.

Pemerintah Kota Metro Mendukung Asian Games 2018

Lampung Timur juga mendukung Asian Games 2018

Mengingat Asian Games 2018 yang akan dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus – 2 September 2018, justru membuat obrolan malam kami kian malam kian berubah. Dari rencana mendukung bersama di stadion langsung, berubah menjadi mendukung bersama di lingkungan desa tercinta.

“Di tanggal segitu, lingkungan kita (RW02) jelas ramai kegiatan menyambut HUT RI. Kita punya tugas untuk membuat film pendek kegiatan HUT RI 73 untuk ditonton bersama pada malamnya,” ucap Ami setelah meneguk kopinya.

Seketika itu ide brilian muncul di kepalaku. Seperti tahun kemarin ketika lingkunganku menyambut HUT RI 72, setiap malamnya selalu kami tontonkan film pendek kegiatan kemeriahan HUT RI lingkungan II. Lalu pikiran ini memberi ide untuk bersama mendukung Asian Games lewat nonton bareng (Nobar), khususnya sepak bola. Sebab hampir seluruh masyarakat di lingkungan II tempat kami berada ini cinta dengan sepak bola.

Bagaikan “Bhin Bhin”, salah satu maskot Asian Games 2018, seekor Burung Cendrawasih yang mengenakan rompi dengan motif suku Asmat Papua, yang merupakan representatif dari nilai strategi. Aku langsung memberi kabar ke Pak RW II tentang rencana ini melalui pesan singkat.

Bagaikan “Atung”, yang juga sebagai maskot Asian Games 2018, seekor Rusa Baewan yang mengenakan sarung bermotif tumpal dari Jakarta, yang merupakan representatif dari nilai kecepatan. Pak RW II langsung membalas pesanku 10 menit kemudian.

“Iya, kalau itu bagus dan bisa kondusif untuk warga, ya lakukan saja. Kalian juga nanti yang bakal jadi panitia untuk HUT RI nya,” kata pak Suroso, lewat pesan singkat, Senin (16/07), tepat pukul 23.15 WIB.

Mendengar itu aku langsung bagaikan “Kaka”, maskot Asian Games 2018, seekor Badak Bercula Satu yang mengenakan pakaian tradisional bermotif bunga khas Palembang, yang merupakan representatif dari kekuatan. Aku seakan punya kekuatan untuk mengajak kedua temanku, menggerakkan warga untuk ikut memeriahkan Asian Games 2018, setidaknya lewat agenda Nobar.


“Ide yang bagus, sudah ada lampu hijau dari pak RW. Selain ditontonkan film pendek kemeriahan HUT RI. Kita tontonkan juga event Asian Games,” ujar Ami yang kemudian disambut dengan anggukan kepala oleh Alan.

Dari kami, para pemuda Karang Taruna, dari daerah kami yang kecil, dari lingkungan II desa Purwosari kecamatan Metro Utara Kota Metro. Kami akan dukung bersama, dukung Indonesia mensukseksan Asian Games 2018. Kita harus ingat lirik lagu Meraih Bintang milik Via Vallen, Lagu Resmi Asian Games 2018: “Kalau menang berprestasi, kalau kalah jangan frustasi. Kalau menang solidaritas, kita galang sportifitas”. Jadilah tuan rumah yang baik. Selalu sportif dan jaga solidaritas. Ayo Indonesiaku, yakinlah pasti juara!!!

___
#DesaPurwosari 
#Lingkungan_II 
#KotaMetro 
#PemudaKarangTaruna 
#AkuIndonesia 
Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."