Insomnia

"Imsomnia, kenapa aku seperti ini?" kesahnya di kesunyian malam. Bantal dan guling bukan lagi jadi teman tidur, melainkan hanya alat pelampiasan amarahnya. Sudah satu bulan ini, Mahar tak bisa tidur layaknya orang normal.



Ibu dan Ayahnya tidur sewajarnya, sebelum jam 12 malam. Tapi, dirinya yang sudah stand by sejak jam 11 malam pun hanya bisa memejamkan mata, ya, hanya mata yang terpejam, tapi kesadarannya masih terjaga. Sesekali ia coba dengan lantunan musik penghantar tidur. Tapi tetap tak mempan.

"Hai, tubuh, jasad, ragaku yang kucinta. Kau juga, mataku, otakku. Ayolah, istirahat, tidurlah. Aku perintahkan kalian untuk tidur," ujarnya.

Diliriknya jam di dinding kamar, sudah jam 2 malam, tapi ia masih segar. Akhirnya ia bangun dan berdiri. Wajahnya kesal, tangannya terkepal, lalu dipukulnya dinding kamar hingga jam dinding jatuh kearahnya. Ia pun berteriak dan reflek melindungi kepalanya.

"Tarrr," suara pecah.

Ibunya datang menghampiri, pun Ayahnya juga. Pintu kamar dibuka, sang Ibu langsung menangis melihat jam tersebut. Jam dinding berbentuk lingkaran dengan gambar foto anaknya sebagai background.

"Sudahlah, bu. Mungkin karena ada angin malam," tenang sang Ayah. Sang Ibu tetap menitikan air mata sembari membereskan pecahan-pecahan kaca.

Melihat itu Mahar langsung bersuara, "Bu, kenapa Ibu menangis? Mahar tak sengaja menjatuhkannya, Bu. Mahar kesal karena tak bisa tidur tiap malam."

Ibunya terdiam, tak membalas perkataan Mahar. "Ayah, aku tak sengaja. Kenapa Ibu sampai menangis?" Sang Ayah pun tak juga menjawabnya.

"Ibu, Ayah, kenapa kalian diam?" Mahar linglung. Di dekatilah Ayahnya, "Ayah lihat aku, Ayah!!!" Tak juga ada balasan.

"Ibu, jangan sedih, hanya jam dinding yang rusak, Bu," ucap Mahar tepat di depan wajah Ibunya. Bagaikan angin, Mahar sama sekali tak dianggap malam itu.

Ibunya masih dalam keadaan sedih. Ayah pun berkata lagi, "Bu, semua sudah berlalu." Mahar pun langsung ingin memeluk. Tapi apa daya, ia sama sekali tak bisa menyentuh Ibunya.

"Keee, keee, keeenapa ini?"

Ia mendekat ke Ayahnya, di lambai-lambaikannya tangan tepat di depan wajah sang Ayah. Pun tetap tak ada pengaruh. Dipeluknya sang Ayah, tak juga bisa tersentuh.

"Ada apa ini? Ibu, Ayah? Apa sebenarnya ini? Kenapa kalian tak bisa melihatku? Dimana aku ini?"

Mahar kembali mendekati Ibunya yang masih saja menangis. Entah ia harus berkata apa lagi, melihat satu-satunya bidadari dunia, satu-satunya perempuan tercinta di dunia sedang sedih. "Ibu kenapa? Kenapa, Bu? Jawaaabb, Bu!!!"

Sejenak Ibunya berhenti menangis, "Ibu, dengar apa kata Mahar kan, Bu?"

"Naak, semoga kamu tenang disana, ya," ucap Ibu sambil mengelus foto Mahar.

Mahar langsung menjauhi sang Ibu. "Apa maksudnya semua ini? Disana? Aku ini dimana?"

"Aaaaaaaaaarrrrrrgghhhhh, Ibuuuu, Ayaaaahhhhh," ia teriak sekuatnya.

"Aku masih adaaaaaaaaa!!!!!" teriaknya lagi.

Tiba-tiba sesuatu menghantam kepalanya, cepat, melebihi kecepatan cahaya. Membuat semua menjadi gelap, hitam tak ada cahaya sedikitpun. "Aaaaaaaaaaaaarrrggghhhh," ia kembali berteriak.

"Lee, tangi lee, koe ngopo to yo? Bengak-bengok ngopo, le? Iki ki wes Subuh. Ndang tangi, wudhu, ndang Solat."

Saat itu juga segalanya jadi terang benderang. Tak ada lagi yang tabu. Kegelapan telah usai, bantal yang mengahalangi pandangan Mahar pun disingkirkan.

"Iyo, Bu. Aku wes tangi," dilihatnya jam didinding kamarnya. Terlihat masih jam 2 malam.[]

_
#Sandallll
Malam.
06/07/18 02:47 Wib

0 Response to "Insomnia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel