Singapura Dari Mata Anak Desa (Pengalaman ke Luar Negeri #1)

Ini adalah kisah episode kecil dalam kehidupanku, kisah yang baru saja aku alami. Bulan Maret lalu, kali pertama bagi anak desa sepertiku menginjakan kaki di negeri tetangga. Tiga negara menjadi tujuan, dari Singapura, lalu ke Malaysia dan terakhir ke Negeri yang punya ciri khas iklan inspiratif, Thailand.

Perjalanannya terhitung singkat, dimulai pada tanggal 11 Maret dari Indonesia dan pulang kembali enam hari setelahnya, 17 Maret 2018. Ya, hampir sama seperti Study Tour dalam negeri di masa SMA. Tapi, enam hari adalah waktu yang sangat lama, itupun kalau pikirannya nakal mau mengubah enam hari menjadi hitungan jam.

Ini momen yang langka, bahkan mungkin yang terakhir kali bagiku untuk menjadi seorang Turis. Momen yang langka karena aku bisa kesana lewat modal keberuntungan. Ya, beruntung karena aku penerima beasiswa, andai aku bukan penerima beasiswa, tentu berbeda lagi ceritanya.

Tak mau menyia-nyiakan momen, amunisi (wajib) keberangkatan pun dipersiapkan. Walau hanya membawa Rp.400.000 di dompet sebagai bekal (jika ingin membeli) di negara tetangga, rasanya pun sudah bahagia. Terlebih bisa membawa sebuah kamera (walau sekedar smartphone).

Sadar betul akan pentingnya pengalaman di momen ini, aku pun merekam (video) hal-hal unik yang terjadi. Lewat rekaman amatiran, ku buat jejak digital sebagai bahan kenangan, aku membuat Vlog. Selain itu, aku mulai menulis kisah ini, terlebih sebagai bahan tuntutan, tuntutan oleh-oleh yang selalu menghantui dompetku.

Tulisan ini sederhana, tentang fakta, fakta tiga negara dari sudut pandangku, dari pengalamanku. Aku sadar, pengalaman adalah guru yang terbaik dan guru yang terbaik adalah yang sering berbagi pengalaman. Dan aku akan membagikan "guru terbaikku" ini, semampunya.

Perjalananku dimulai dari Indonesia, dari negeri tercinta, negeri terkaya di dunia, yang kaya akan budaya. Dari kota Metro menuju bandara Raden Inten II (Branti), Bandar Lampung. Sebuah bandara yang namanya diambil dari pahlawan Nasional asal Lampung, Raden Inten II, seorang tokoh keturunan dari Sunan Gunung Djati.

Dari Branti aku menuju kota Batam, pesawat pun mendarat di Bandara Hang Nadim, sebuah bandara yang namanya juga di ambil dari pahlawan. Laksamana Hang Nadim sosok pahlawan kesultanan Malaka, pahlawan Johor(Malaysia)-Riau(Indonesia). Kalau dicari sejarah tokoh tersebut di internet, maka akan banyak tulisan melayu yang membahasnya.

Di Batam, aku menginap semalam. Esok paginya (12/03), aku langsung ke Singapura. Jarak antara Batam dan Singapura sangatlah dekat, dalam hitungan waktu hanya sekitar 40 menit perjalanan dengan kapal Ferry. Ya, setara pergi dari kota Metro ke Natar.

Singapura adalah negara maju, negara modern, negara terkaya di Asia Tenggara, tapi sayang, Singapura adalah negara dengan luas terkecil. Walau kini laut Singapura sudah banyak yang di reklamasi, warga negara diberi aturan tidak diperkenankan memperluas area wilayahnya, namun tetap boleh jika ingin meninggikan (bangunan).

Hal ini terbukti dari bangunan gedung KIM (Kolej Islam Muhammadiyah) University, Singapura. Kalau dilihat-lihat bangunannya, nampak seperti Hotel Family 2 di kota Metro, bedanya KIM ada 13 lantai dan punya kolam renang di lantai puncaknya.

Kunjunganku memang ke KIM, ke kampus Islam. Ya, karena aku sendiri berasal dari kampus Islam. Dari KIM aku belajar, di negeri minoritas Muslim ini, masalah terbesar yang harus dihadapinya adalah melawan kebebasan keyakinan, yakni mengatasi atheisme, sebab angka atheisme di Singapura tiap tahunnya selalu naik.

Fakta unik lainnya di Singapura adalah harga air mineral. Di sana harga setiap satu botolnya sekitar $1 - $2 atau setara lebih dari Rp. 10.000,-. Dan kalau mau membawa rokok ke Singapura, hanya dibolehkan sebungkus dengan syarat sudah dibuka serta berkurang isinya. Di Singapura jangan coba-coba untuk bermain game tebak motor (game zaman old kalau ada jenis motor yang lewat sesuai perjanjian game, maka halal jadinya untuk memukul pemain bersangkutan).

Sangat-sangat jarang ada motor di Singapura, sepanjang jalan isinya penuh dengan mobil, kalaupun ada, jenis motornya sudah pasti berbeda dari miliknya si Dilan. Jangankan Supra, mencari motor jenis Beat atau Jupiter pun susah. Singapura memang negara maju, jalan raya kebanyakan dilalui mobil. Di sana, tidak ada mobil yang pakai kaca film (yang tidak tembus), semuanya kaca normal. Dan peraturan pajak kendaraan di Singapura berbeda dengan Indonesia, kalau di Indonesia kendaraan lama, pajaknya murah, tapi kalau di Singapura sebaliknya, kendaraan lama justru pajaknya berlipat mahalnya. Maka tak heran jika banyak kendaraan baru.

Hal lain yang harus di ketahui dari Singapura adalah Merlion. Merlion adalah pusat wisata wajib yang harus di kunjungi. Itu tuh, patung Singa yang nyemburin air. "Merlion terdiri dari dua kata Mermaid dan Lion, artinya Ikan dan Singa. Dulu memang banyak nelayan, makanya disebut Mermaid, tapi kalau Singa, itu tak ada di Singapura, hanya simbol saja," begitu kata pak Syarif, Tour Guide kami.

Pak Syarif adalah warga negara asli Singapura, sejak lahir ia tinggal di Singapura. Tapi, pak Syarif adalah orang asli suku Jawa, itu terbukti ketika aku dialog bahasa Jawa dengannya, terlebih juga dibuktikan dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya, karena di Singapura, KTP setiap warga negaranya wajib mencantumkan asal suku.

Satu hari aku di Singapura, tak lama, terhitung hanya sekitar 9 jam, sejak pagi hingga sore. Petangnya aku sudah di Malaysia. Walau hanya sebentar, aku pun senang, ya, karena mampu memberiku pengalaman yang tak terlupakan. Terkhusus pak Syarif, orang Jawa asli luar negeri pertama yang ku temui, orang yang membuatku termotivasi untuk mencari lagi orang-orang sepertinya. Dan itu banyak ku temui di Malaysia.

To be continued...

4 Responses to "Singapura Dari Mata Anak Desa (Pengalaman ke Luar Negeri #1)"

  1. Keren kak.yang di malaysia, thailand mana..
    Kunjungi ya kak.
    https://pondokpesantrenwalisongosragenjateng.blogspot.co.id/2018/05/pelatihan-menghafal-mudah-cepat-asmaul.html?m=1

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap. Masih draft. Segera di posting. Hehehehe

      Delete
  2. Ditunggu postingn baruny gan

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel