May (Slamet) Day


Bulan Mei, bulan yang dalam Bahasa Inggris disebut dengan May, tapi dalam bahasa keseharianku orang-orang menyebutnya dengan Limo, ya, bulan Limo (artinya: Bulan Lima–kelima). Bulan Limo adalah bulan favorit, bukan bagiku, tapi bagi temanku. Mei adalah bulan khusus miliknya. Ia lahir di bulan Mei, punya hari jadi dengan kekasih di bulan Mei dan selalu punya hari libur khusus di bulan Mei.

Temanku adalah seorang pekerja lepas di sebuah Pabrik. Pabrik tertua di kotaku. Setamatnya dari SMA ia langsung menawarkan CV ke perusahaan minyak sawit. Tanpa kesulitan, ia pun diterima. Kini ia sudah 2 tahun bekerja, menjadi seorang pegawai pabrik, seorang yang memiliki penghasilan besar, tentunya melebihi diriku.

Namanya Slamet, hanya Slamet, satu kata saja. Itulah nama terbaik pemberian Ayahnya. Nama yang bukan hanya sekedar asal. Slamet itu bahasa Jawa, arti Indonesianya adalah Selamat. Cerita hidup temanku ini memang sesuai namanya. Dulu sewaktu ibunya melahirkan, sang ibu justru kehilangan nyawa dan Slamet lah yang selamat. Maka di bulan Mei saat ia teringat umurnya, ia justru teringat dengan hari kematian ibunya.

"Mei.., ohh.., Mei," ungkapnya sambil menepuk jidat.

"Sudah biasa kan, Slam?" Aku memanggilnya dengan sebutan yang berbeda, teman-teman lain selalu memanggil dengan sebutan, Met, tapi aku lebih enak dengan nama Slam (baca:Slem), biar agak Eropa. "Kekasih memberimu hadiah apa?"

"Ahh, Nyo, agenda tahunan. Bosan aku."

Namaku untuknya adalah Sinyo, dijuluki berdasarkan tokoh kartun favoritnya, Sinyo dalam serial Naruto. Bukan karena aku cerdas seperti Sinyo lantas ia memanggilku begitu, nama itu dipilihnya karena aku suka dengan catur. Lagi pula, semasa SMA aku tak pernah bisa mendapat peringkat lebih tinggi darinya.

"Bosan, Slam? Harusnya bahagia."

"Bagi yang pernah merasakan hal itu, ya biasa saja, Nyo. Kau bilang bahagia karena kau belum merasakan, dan baru tahu dari cerita-cerita temanmu yang lain kan?"

"Kau menyindirku, Slam? Ya ya ya.., tunggu saja, undanganku akan lebih cepat darimu."

"Hahaha.., Ingat, Nyo, kata bijak di lembaran buku polos putih yang biasa kau gunakan untuk menulis, Experience is the best teacher. Dari pengalaman seseorang akan belajar dan menemukan benarnya sendiri," Slamet berubah menjadi motivator. "Hmmm., Keyakinan yang paling benar."

Bukan hal baru yang dikatakan Slamet, senada dengan yang dikatakan guruku. Pengalaman itu penting, dari pengalaman kita belajar makna yang sesungguhnya. Dan darinya kita menemukan keyakinan paling sempurna.

"Ibarat kalian mendengar cerita dari kakek kalian. –Kata kakek, setiap malam Jumat Kliwon jangan sekali-kali kalian lewat di depan kuburan itu, sebab banyak sosok makhluk goib yang akan menganggu. Dan katanya lagi, di kuburan itu pernah ada yang mati tepat pada malam Jumat Kliwon–. Tanpa sengaja, kalian diberi pengetahuan tentang horor, tentang rasa Takut. Karena itu pengetahuan baru bagi kalian, pasti kalian akan menceritakan pengetahuan itu ke orang-orang lain yang belum mengetahuinya. Suatu ketika, ada seseorang yang membantah cerita kalian. Dengan yakin orang itu berkata: Tak pernah ada apa-apa di depan kuburan, malam apa pun semuanya sama. Tahu kalian kenapa orang itu membantah? Karena ia langsung dengan pengalamannya datang ke kuburan. Jadi mau diapakan, mau meyakinkan sehebat apapun lewat cerita-cerita sesepuh lainnya, orang itu akan tetap yakin dengan pengalaman yang didapatnya." Begitulah ingatan tentang cerita guruku. Slamet benar, aku hanya kata teman-temanku lainnya. Mendapat hadiah dari kekasih adalah hal yang membanggakan, tapi pengalaman Slamet hingga ia berkata bosan tak akan bisa ku bantahkan.

"Jadi bulanmu ini hanya banyak di isi liburan saja, banyak cuti?"

"Ya begitulah, bulan Mei. Di Internasional banyak orang mengenal MayDay (Hari Buruh). Aku juga sama, bedanya tanpa huruf A, MyDay. Banyak hari spesial untukku di bulan ini. Seperti semalam, begitu spesial."

"Hahaha.., ya jelas, karena besok kan hari lahirmu, pasti ada kado...,"

"Peringatan hari kematian Ibuku," ucap Slamet memotong kalimatku.

Aku jadi merasa tak enak hati. Belum selesai ucapanku langsung dibalasnya begitu. "Maaf, Slam. Bukan maksudku..."

"Ahh, sudah. Itu sudah biasa. Lagi pula aku tak seberapa rindu lagi dengannya (Ibu)."

"Tak rindu dengan Ibumu? Mana mungkin anak tak rindu Ibunya, apalagi orang seperti dirimu, Slam, yang sama sekali belum pernah bertemu. Setidaknya rindu itu bisa membuatmu untuk selalu mendoakannya."

"Maksudku, semalam aku bertemu dengannya."

"Hah?" Aku terkejut," jadi itu malam spesial yang dikatakannya tadi. "Secara langsung, Slam?"

"Ku kira langsung."

"Kau memeluknya, menangis kau malam itu?"

"Iya, ku peluknya. Tapi aku malu mau menangis."

Aku dibuatnya agak merinding. Ini adalah hari ke empat di bulan Limo, lebih tepatnya malam menuju hari ulang tahun Slamet, dan malam menuju hari kematian Ibunya.

Aku pun teringat dengan kesaksian Ayahnya kala itu, "Slamet lahir tepat pukul 01.12 malam, dan Ibunya tak bisa tertolong, Ibunya meninggal lima menit kemudian." Dan sekarang sudah pukul 23.45 malam.

"Seperti apa ibumu itu, Slam?" penasaranku tak terbendung.

"Cantik, hmm..., ya pasti. Kau tahu apa yang pertama dikatakannya padaku?"

"Memanggilmu?"

"Ya, aku dipanggilnya semasa pulang dari warung bu Mirah. Anakku...., Anakku..., Kemari, nak. Ibu rindu padamu. Ku tengok sekeliling rumah ini, Nyo. Tapi tak ada apa pun kecuali daun-daun pohon Jambu yang bergoyang."

"Lalu?"

Slamet mulai menatapku serius. "Tiba-tiba ibu sudah di depanku. Dan aku langsung memeluknya. Saat itulah aku ingin menangis, tapi tak bisa, aku malu."

"Seperti apa ibumu, Slam?"

"Cantik."

"Maksudku, fisiknya?"

"Tak tahu pasti aku. Mana sempat aku melihat detilnya. Baru semalam aku bertemu dengannya sejak 20 tahun di tinggal. Mataku terpejam, menahan tangis bahagia sembari terus memeluknya. Hingga ibu berbisik lirih padaku. Dia pun bilang..," Tiba-tiba Slamet berhenti bercerita.

Angin malam yang kian semilir membuatku jadi merinding. 20 tahun Slamet di tinggal Ibunya, tapi ia baru saja bertemu malam kemarin. Benarkah? Hanya pertanyaan itu yang ingin ku jawab dengan mendengarkan ceritanya langsung.

"Slamet?" Ia malah memejamkan mata. "Slam, ini sudah malam, jangan kau berbuat aneh.” ia tetap memejamkan mata, sesekali ia menghirup udara dalam-dalam, lalu dihembusnya perlahan.

Angin malam kian kencang. Pohon Jambu di dekat kami mulai berisik. Daun-daun dan ranting-ranting saling bergesekan menambah sedikit nuansa horor malam ini. Slamet pun membuka mata.

"Dia bilang begini, Nyo. Nak, Ibu selalu ada disini. Tak pernah kemana-mana."

"Hanya itu?"

"Ya, dan sejenak aku melepas pelukan itu. Hendak kulihat wajah Ibuku. Tapi, Nyo."

"Apa?" Angin semakian liar. Mendung pun mulai datang. Sekilas kilat juga datang memberi tanda hujan semakin dekat.

"Tapi ternyata yang ku peluk hanya pohon Jambu itu, Nyo," ungkapnya sembari menunjuk pohon di depan kami, sekitar 15 meter. "Aku tak sadar, sungguh, dan aku langsung lari masuk rumah."

"Ayo, sekarang kita masuk rumah!!!" Ajakku spontan.

"Kenapa?"

"Cepatlah!!!! Ini mau hujan," ajakku yang sebenarnya mulai merasa tak nyaman.

Kami pun berlari ke dalam rumah. Sesampainya, langsung ku ucapkan maksud sesungguhnya kenapa aku sengaja di rumahnya. "Slam, selamat Ulang Tahun. Ini sudah waktunya, sudah hari kelahiranmu."

"Nyo, lihatlah, Ibuku ada disini. Dia mendengarnya."

__
Cerpen ini terbit di Qureta.com

0 Response to "May (Slamet) Day"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel