Hari Pertamaku di Malaysia (Pengalaman ke Luar Negeri #2)

Waktu terus berjalan, meninggalkan beberapa kenangan yang tersimpan rapih di memori. Hidup (walau hanya satu hari) di negara termapan di Asia Tenggara sudah ku alami. Singapura, negara yang tertib. Ya, baik dari kendaraan, tata kota (karena tak ada ruang untuk papan iklan), bahkan tata tertib kebersihannya.

Bukan hal baru jika Singapura memiliki aturan yang unik, tentunya tetang denda. Sebelum berangkat ke tiga Negara, pihak travel selalu memberi peringatan: Jangan buang sampah sembarangan di Singapura, karena kalian akan di denda.

Tak tanggung-tanggung, katanya, "Kalian bisa di denda sekitar 2-3jutaan." Tak peduli itu sampah secuil atau segempal, kalau itu sampah dan dibuang sembarangan, maka bersiaplah untuk disanksi. Jadi jangan heran kalau Singapura itu bersih. Pun dengan sungainya, meski sungai kecil sekalipun (baca:tersier/Jawa:galengan).

Lebih ganas lagi kalau membuang sampah di sungai, dendanya bukan main. Kalau dihitung-hitung, insyaallah cukup untuk modal nikah dengan party yang, ya, katakanlah cukup. $5000 atau jika di rupiahkan (dengan kurs SGD Rp.10.000), akan dikenakan denda Rp.50.000.000,-. Wow!!!..., Jadi gimana saksi? Sah? "Syaahh!!!!".

Biaya hidup di Singapura memanglah mahal. Maka, aku hanya diberi waktu seharian oleh pihak travel, dan sorenya langsung menuju Malaysia. Pagi di Batam Indonesia, siang di Singapura dan malam di Malaysia. Tiga negara dalam waktu 24 jam. Luar biasa.

Kalau pembaca masuk di Singapura, maka akan terasa sekali bedanya dengan Indonesia. Secara umumnya, beda jelas antara negara maju dengan negara berkembang. Tapi, ketika masuk di Malaysia, menuruku secara umum sama saja dengan Indonesia.

Begini, ketika aku di imigrasi Singapura, baik masuk sebagai imigran atau keluar, tempatnya sungguh-sungguh bersih dan tertib antrinya. Begitu aku masuk di imigrasi Malaysia, terlihat jelas, sampah kecil berupa tisu dan kertas berserakan. Kukira hal ini sama dengan Indonesia, khususnya di pusat keramaian seperti itu.

Pertama kali di Malaysia, yang menarik perhatianku adalah bahasa Melayunya. Sebab bukan bahasa sehari-hariku, maka aku tertarik, kenapa? Karena unik, kenapa unik? Karena berbeda. Kadang aku mencobanya, tapi sayang lidahku sudah terpateri logat Jawa. Setidaknya, di hari pertamaku itu, aku dapat kosakata baru, yakni Tandas (Toilet). Selebihnya aku sudah tahu, karena aku sering nonton Upin & Ipin.

Malaysia berbeda dengan Indonesia. Perbedaannya sangat jelas: Indonesia punya 34 provinsi sedangkan Malaysia punya 13 provinsi (dan setiap provinsinya punya bendera masing-masing yang selalu berkibar dibawah bendera utama Negara). Kalau Indonesia dipimpin oleh seorang Presiden, maka Malaysia dipimpin seorang Raja (ini umum sekali. Hehehe).

Selain itu perbedaan lain yang wajib di ketahui adalah perbedaan waktunya. Kalau di Indonesia GMT+7, maka Malaysia GMT+8, artinya Indonesia dengan Malaysia selisih 1 jam. Walau berbeda waktu, tapi sebenarnya sama saja. Begini, jika di Waktu Indonesia Barat (WIB) sedang adzan Maghrib, maka di Malaysia juga sedang adzan Maghrib.

Bedanya, kalau di Indonesia adzan (misalnya) pukul 18:30 WIB, di Malaysia juga sedang adzan, saat itu juga, tapi dengan waktu yang berbeda yakni 19:30. Mudahnya begini, secara arloji berbeda 1 jam, tapi secara waktu matahari sama saja. Maka jangan heran kalau di Malaysia, jam 19.00 itu masih nampak petang (terang).

Dalam agenda studi 3 Negara ini, Malaysia lah tempat persinggahan yang paling lama bagiku, selama tiga hari. Kenapa? Karena Malaysia tempat yang aman. Kenapa aman? Karena disini makanan halal banyak dan mudah di dapat, biaya hidup pun juga tak jauh beda dengan di Indonesia.

Tak berani lama di Singapura, jelas karena biaya hidup disana mahal sedangkan peketan studiku terhitung sudah murah. Tak berani lama di Thailand, jelas karena disana susah mencari makanan yang halal, terlebih juga karena disana sering ada konflik, konflik agama (kata tour guidenya).

Maka tulisan-tulisanku tentang 3 Negara ini akan banyak bercerita tentang Malaysia. Seperti pada esok harinya (13/03), hari yang full untuk keliling sebagian pusat penting di Malaysia, mulai dari Dataran Merdeka, Twin Towers, KL Towers, Batu Chaves dan kampus University of Selangor. Terlebih, di pusat oleh-oleh coklat, aku bertemu lagi dengan sosok yang sama seperti pak Syarif di Singapura, orang Malaysia yang sukunya Jawa.

Tapi semua dimulai dari kedatanganku dari Singapura, aku tiba di rest area Malaysia malam harinya (yang aku sendiri lupa nama tempatnya). Aku makan malam disana. Selain itu, di sanalah tempat pertama kali aku belanja di Luar negeri. Ku akui memang di Singapura aku sama sekali tak turun bus untuk pergi ke pusat perbelanjaan dan belanja. Ya, pembaca tentu tahu apa alasannya.

Aku membeli satu kaleng minuman di rest area itu, minuman penyegar. Susu coklat kalau menurut lidahku, tapi kemasan minuman menuliskan namanya dengan Milo. Satu kaleng Milo kubeli dengan harga Rp.10.000, aku membayarnya dengan uang Rupiah. Tempat itu memang menerima Rupiah, tapi kembaliannya dengan uang Ringgit.

Uang Ringgit Malaysia ternyata lebih kecil ukurannya dari Rupiah Indonesia. Kalau dilihat-lihat Ringgit malah mirip uang monopoli, tapi lebih bagus dari Rupiah (mungkin karena aku jarang melihat dan memakai uang Ringgit, jadi sangat terkesan).

Di rest area itu aku istirahat, makan dan santai sekitar 1 jam. Selesainya, bus melanjutkan ke pusat kota Malaysia, ke pusat ibukota negeri Jiran tersebut, di Kuala Lumpur (KL). Aku pun menginap semalam disana, di Hotel berbintang di KL.

Hotel, sebuah tempat yang paling membahagiakan bagiku, dan teman serombonganku. Bukan karena efek kami kelelahan lalu menyegerakan untuk istirahat, tapi karena ada fasilitas free wifi. Perlu diketahui, di luar negeri internetanku hanya lewat wifi, aku tak mau beli paketan lokal disana, karena mahal, Rp.130.000,-. Kupikir rugi karena aku hanya 3 hari di Malaysia.

Sebenarnya bisa internetan lewat kartu bawaan dari Indonesia, tapi pakai paket data Roaming, dan tentu saja aku tak mau mencobanya. Sebab dengan harga Rp.250.000,- hanya diberi kuota ratusan Mb. Ya, ya, pembaca tahu sendiri berapa isi dompetku.

Maka, setibanya di Hotel, langsung ku buka jaringan wifi, dan melihat pesan-pesan WhatsApp (WA) yang mulai terhubung. Ku buka chatting WA milik adikku, ku tanya kabar keluarga, bapak-ibuku di rumah. Aku sudah rindu, walau baru beberapa hari. Wajar, kupikir seindah-indahnya tempat adalah Rumah Sendiri. Walau sebenarnya besok (13/03), aku disuguhi banyak keindahan kota Kuala Lumpur.

To be continued...

0 Response to "Hari Pertamaku di Malaysia (Pengalaman ke Luar Negeri #2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel