Belajar dari Kartini (Refleksi dan Review Film Kartini)


Bukan orang Indonesia kalau tidak mengenal sosok Kartini. Saya, sejak SD sudah diajari tentang biografi tokoh perempuan satu ini. Setiap tanggal 21 April, warga Indonesia (baca juga dengan: warganet Indonesia) akan ramai dengan peringatan-peringatan Hari Kartini.

Kartini adalah sosok revolusioner, khususnya untuk kaum perempuan. Di zaman kolonialisme dulu, perempuan tak lain hanya sekedar hidup di dapur, sumur, kasur. Hanya kaum laki-laki yang punya kuasa penuh, yang bisa sekolah, yang bisa menjabat jadi Bupati dan lain sebagainya.

Kartini (dalam film yang sudah rilis sejak 2017) di ceritakan sedang dalam masa pingitan. Hidupnya hanya dikurung di kamar dan menunggu seseorang melamarnya. Tapi, Kartini punya kakak bernama Kartono (yang tinggal di Belanda), kakak yang sangat peduli dengannya.

Pada film tersebut, ada moment ketika Kartini bertemu dengan Kartono. Mereka berdialog dan membuat saya terkesan, ada ucapan dari Kartono yang kurang lebih seperti ini, "Nil, ragamu boleh saja dikurung, tapi biarkan pikiranmu untuk bebas." Dan saat itulah Kartini diberi banyak buku bacaan oleh kakaknya.

Pikiran Kartini kian bebas dengan membaca karya-karya tulis (Eropa) pemberian kakaknya, bahkan Kartini makin hidup (senang) dengan terus menulis artikel-artikel pembelaan terhadap perempuan. Namanya terus menjadi sorotan bagi orang-orang Belanda yang terkesan dengan tulisannya.

Dari kebebasan berpikirnya inilah, ia mulai berani untuk bergerak, bergerak dalam artian mengaplikasikan apa yang sudah dibacanya. Intinya, Kartini sangat terpengaruh dengan kehidupan perempuan Eropa yang bebas dan setara dengan laki-laki.

Dalam sejarahnya, Kartini selalu curhat, berkirim surat dengan Stella di Belanda. Mereka saling curhat tentang kehidupan dari masing-masing dan hak-hak perempuan di negaranya. Hingga kini, surat-surat itu telah dibukukan dalam buku berjudul: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan, terkhusus untuk diri saya pribadi. Dari Kartini saya belajar, bahwa untuk di kenang dalam sejarah kita harus menulis. Kartini tidak akan dikenang dan diketahui pasti tentang gagasan tanpa seluruh curhatan dan artikel-artikelnya. Menulis adalah bukti sejarah, bahwa kita pernah hidup. Bukan hanya mati meninggalkan nama, tapi mati meninggalkan karya.

Maka jadilah seperti Kartini, jadilah berani sepertinya. Jadilah penulis hebat sepertinya dan jadilah seorang penggerak layaknya dirinya. "Kau boleh dikurung, tapi jangan sampai pikiranmu juga terkurung".

"Orang besar, harus bisa bijak sejak dalam pikirannya."

Metro, 21 April 2018
Ditulis di Rental PS Harvy.

#KartiniDay
#Sandallll 

0 Response to "Belajar dari Kartini (Refleksi dan Review Film Kartini)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel