Studi Tiga Negara: Antara Biasa dan Derita


Sudah bukan kabar khusus lagi, hampir seluruh mahasiswa di kampusku mengetahuinya. Tentang agenda Studi Tiga Negara yang akan dilaksanakan oleh mereka, para mahasiswa “miskin yang terkaya”. Tahun lalu (2017), kami dikumpulkan di sebuah ruangan yang dingin, ruang khusus yang lebih bagus dari ruang perkuliahan.

Bagaikan Konferensi Meja Bundar (KMB), kami duduk melingkar di sebuah bangku nan empuk dengan speaker yang tersedia di setiap mejanya. Bedanya, kalau KMB di tahun 1949 membahas tentang kedaulatan Republik Indonesia Serikat, kami di tahun 2017 lalu hanya diskusi dan menerima kabar yang mungkin bisa dibilang membahagiakan, “Kalian adalah mahasiswa (kampus ini) S1 pertama yang akan studi ke Luar Negeri.”

Kabar lain yang diterima dari ruangan itu adalah tentang keberangkatan kami yang akan dilaksanakan awal tahun 2018. Sontak saja, ada beberapa mahasiswa yang takut agenda ini bertabrakan dengan agenda wajib kampus lainnya. Sebut saja Field Trip (Studi Lapangan) yang juga akan diselenggarakan di awal tahun, terkhusus jurusanku. Bahkan Studi Lapangan jelas lebih dahulu terjadwal ketimbang Studi Tiga Negara yang baru terdengar.

Ini kabar bahagia, kukatakan mungkin, nyatanya harus ada dukanya juga. Memang awal tahun 2018 penuh dengan Studi Lapangan, penuh dengan agenda jalan-jalan, ya, agenda jurusan maupun agenda dari sekumpulan mahasiswa “miskin yang terkaya” ini. Bahagia memang, karena akan menemukan pengalaman baru dari lapangan. Tapi menyedihkan juga, karena semua tak semudah sekedar berkata, “Oke, aku ikut semuanya.”

Sebagai mahasiswa yang selalu menerima “gaji” semesteran, rincian pengeluaran pun mulai kuperhitungkan. Pengeluaran awal tahun: bayaran Semesteran, Field Trip jurusan, agenda Studi Tiga Negara dan setoran (tiap semester ketika tiba masa “gajian”), serta tagihan utang. Dan yang terjadi adalah pengeluaran lebih besar dari penerimaan atau dalam bahasa ekonomi disebut defisit. Oh my god.

Di awal bulan Januari, datang info baru, “gajian” kami semester ini akan dipercepat. Dan di akhir bulan pun “gaji” kami cair. Bahagia? Iya bahagia, tapi sesaat, “gaji”ku hanya lewat begitu saja bagai air yang di masukan di ember bolong. Semua habis untuk keperluan pembayaran: Field Trip jurusan habis jutaan, storan (wajib) habis jutaan, bayaran semesteran habis jutaan, untuk Studi Tiga Negara nambah lagi jutaan, dan sisa tinggal ratus ribuan, Ehh, tapi habis juga untuk nyarutang. Habis sudah, tapi alhamdulillah bisa ikut semuanya. Ditanya, bahagia? Ya sedikit. Kenapa? Sebab kalau begini, aku punya sangu dari mana. Jadi? Mungkin ngutang lagi. Ya, begitu, seperti biasanya, *Biasa saja.*

Itu pun masih dari sudut pandangku yang untung bisa ikut semuanya. Iya, untung, karena cukup. Meski sebenarnya tetap harus ngoyo karena habis tak ada sisa untuk harian. Tapi diantara kami ada yang menderita bukan main. Sebelum kuceritakan sebaiknya kalian mengetahui dulu sekilas tentang Studi Tiga Negara itu.

Studi Tiga Negara adalah program wajib yang diselenggarakan lembaga kampusku, terkhusus untuk kami mahasiswa yang selalu menerima “gaji” semesteran. Program ini wajib karena sesuai dengan petunjuk teknis beasiswa, dana harus di kelola untuk peningkatan kualitas pendidikan. Karena program ini wajib, maka mau tak mau harus mengikuti, dan jadilah sebuah kewajiban.

Kalau sudah menjadi kewajiban, jika melanggar maka akan ada ganjarannya. Tidak tanggung-tanggung: “Yang nggak ikut program ini, maka siap-siap saja untuk digantikan,” begitu info tegas yang tersebar. Hingga membuat sebagian dari kami jadi was-was. Padahal, mungkin hanya gertakan. Mengingat, segala hal bisa selesai dengan komunikasi.

Yang sudah menyatakan ikut program tentu biasa saja, tapi bagi mereka yang awalnya menyatakan belum mau mengikuti atau pasif tak mau berkomunikasi, buyarlah pikirannya. Di perkumpulanku ini, isinya bukan hanya mahasiswa-mahasiswa sepertiku yang bisa seenaknya berkata *”Biasa Saja”*, tapi bermacam-macam.

Beberapa syarat untuk mengikuti program Studi Tiga Negara ini adalah dari golongan kami, sudah melakukan storan wajib (tiap “gajian”) dan menambah pembayaran sebanyak 1,7 juta, serta memiliki paspor (jika belum punya, maka butuh lagi 350 ribu untuk biaya pembuatan). Bukan uang sedikit tentunya, tapi mau apa lagi jika sudah menjadi kewajiban.

Ada diantara kami yang di tahun 2018 ini memiliki “gaji” banyak, ya gaji dari prestasi-prestasi yang diraihnya, meski gaji yang diterima sempat menunggak lama. Meski begitu, tentu ia enak, punya pandangan dana yang terang benderang. Barangkali dengan mudah temanku satu ini bisa mengikuti program wajib tanpa kesulitan mengakali uang masuk dan keluar, mungkin uangnya sisa. Ya, mungkin. Kenapa mungkin? Karena yang tahu pasti hanya dirinya.

Yang lebih parah lagi, jika ada di antara kami yang menunggak setoran wajib tiap “gajian”, pasti akan berlipat bayarannya. Bayangkan, setoran wajib itu 1,3 juta, kalikan saja. Defisit super, pasti. Belum lagi mereka yang hidup bergantung pada “gajian” itu, dengan adanya program Studi Tiga Negara, berat sudah pilihannya. Kalau ikut uangnya habis dan harus hidup lewat apa? Mungkin begitu. Seperti cerita salah satu temanku ini, teman seperjuangan yang sama-sama dilabeli “mahasiswa miskin terkaya”:

“Aku hidup di (tempat yang banyak orang menyebutnya) kota pendidikan, hidup sebagai seorang mahasiswa sekaligus murid pondok. Bapakku adalah satu-satunya orang terkuat yang kumiliki. Ibuku adalah bidadari surga yang paling cantik yang pernah kutemui, tapi kini ia berada di alam yang berbeda denganku, ia sudah tenang disana. Keluargaku adalah keluarga miskin, punya rumah tapi berdiri diatas tanah numpang area irigasi. Bukan hanya keluarga yang lemah (miskin) secara ekonomi, tapi juga secara fisik. Bapakku seorang pekerja keras, tapi sayang tubuh tuanya tak mampu menerima kerasnya pekerjaan. Ia jatuh sakit, sakit yang biasa, hanya sakit batuk, tapi berdarah. Akibatnya, kini bapakku tak lagi bisa bekerja, terlalu lemah fisiknya untuk melakukan itu, pernah dicobanya lagi, tapi akhirnya jatuh sakit. Sebenarnya aku punya kakak yang bekerja seadanya untuk hidupnya yang sederhana. Tapi tak mungkin aku hidup bergantung padanya. Maka beruntunglah aku bisa menjadi mahasiswa yang tiap semester bisa menerima ‘gaji’. Hidupku bergantung pada ‘gaji’, membiayai segalanya dari ‘gaji’: biaya kampus, biaya pondok, biaya kehidupan sehari-hari, bahkan biaya kehidupan bapakku tercinta. Sayang, kudengar kabar tentang Studi Tiga Negara itu. Aku pun bingung, pikiranku buntu, karena (uang yang kumiliki) tak cukup. Benar tak cukup. Bingung nanti aku harus membayar pondok lewat apa? Bapakku tak kerja, kakakku punya uang hanya untuk hidupnya. Hanya tinggal satu benda berharga yang menjadi harta satu-satunya keluarga kami, satu motor tua. Mungkinkah harta itu akan menjadi tumpukan kertas demi kehidupanku semata? Ahh entahlah, pikiranku buntu.”

Cerita diatas hanya satu dari beberapa temanku yang memiliki kesulitan dari kabar Studi Tiga Negara. Banyak cerita yang tidak cukup kutuliskan disini, tapi setidaknya ini bisa memberi sedikit gambaran, bahwa golongan kami bukanlah sekumpulan mahasiswa yang generik. Karena setiap mahasiswa jelas tidak memiliki problem kehidupan yang sama.

Kami jelas berbeda, berbeda problemnya, dan berbeda pula cara mengalokasikan “gaji”nya. Pun dengan kabar Studi Tiga Negara, beda pula sikapnya, entah itu *Biasa Saja* atau *Menderita*. Loh, kok nggak ada *Bahagia*? Bahagia itu kan bonus dari bersyukur.

http://www.sandallll.xyz/2018/02/studi-tiga-negara-antara-biasa-dan.html?m=1 

0 Response to "Studi Tiga Negara: Antara Biasa dan Derita"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel