D(H)ilan(G), Antara Dilan dan Wiji Tukul



Kalau kata Dilan, "Rindu itu berat, kau tak akan kuat, biar aku saja".
Kalau kata Wiji Thukul, "Perjuangan itu berat, kau tak akan kuat, biar aku saja yang menjadi korban aparat".

Kalau kata Dilan, "Kamu Milea ya?
Aku ramal nanti kita akan bertemu di kantin".
Kalau kata Wiji Thukul, "Kamu subversif ya? Aku ramal nanti kita akan diburu oleh rezim otoriter yang membungkam suara-suara kritis di negara yang katanya demokratis".


Kalau kata Dilan, "Selamat Ulang Tahun, Milea. Ini hadiah untukmu, cuma TTS. Tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya".

Kalau kata Wiji Thukul "Selamat Ulang Tahun, Indonesia. Ini hadiah untukmu, cuma puisi.
Tapi puisi penuh dengan peringatan tentang kesengsaraan rakyat dan ketidakadilan. Aku sayang negara ini. Aku tidak mau rakyat sengsara dan melarat karena pemimpin negaranya otoriter.

Dilan menghipnotis kawula muda untuk romantis dalam percintaan, Wiji Thukul menghipnotis para buruh dan petani untuk berani mengorganisir dan menyuarakan ketidakadilan yang dialami melalui puisi.
Dilan dipuja karena romantis tapi Wiji Thukul harus diingat sebagai pejuang tegaknya demokrasi. Dilan hanya fiksi, tapi Wiji Thukul adalah bukti sejarah kelamnya penegakan HAM di negara ini.

#Dilan1990 #WijiTukul1998

0 Response to "D(H)ilan(G), Antara Dilan dan Wiji Tukul"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel