Tentang Cinta


Hai Kertas, sudah lama aku tak bercerita lagi denganmu. Kau tak bosan kan denganku? Kau tak marah kan denganku? Maafkan aku jika terlalu lama meninggalkanmu sendiri diatas lemari hingga kau berselimutkan debu. Maafkan aku yang baru sadar tergerak untuk mau lagi bercerita denganmu.

Kertas, izinkan aku bercerita lewat goresan pena hitam ini. Aku harap kau mampu menyimpan goresan-goresan ini selamanya. Kertas, tak banyak yang ingin kuceritakan. Aku tahu mungkin kau akan bosan jika aku terlalu banyak bercerita, pun kau pasti membatasinya.

Cerita ini hanya sekilas curahan hati yang paling dalam, untuk dia bidadari yang kucintai. Sebelum aku melanjutkan, apa kau pernah merasakan cinta wahai Kertas? Ya cinta sejati? Pernahkah? Aku harap kau menjawab pernah.

Cinta itu indah, aku suka ungkapan itu. Meski aku tak tahu seperti apa bentuk fisik dari cinta, tapi aku bisa merasakan indahnya. Apapun yang kulakukan karena cinta, sungguh, itu nikmat sekali. Seberat apapun yang kulakukan tak sedikitpun aku merasakan lelah.

“Hahahaha..” kadang aku suka tertawa sendiri karena cinta. Cinta sering membuat seseorang menjadi gila. Ya, setengah gila tepatnya. Tak perlu aku perjelas lagi, kau pasti paham maksudku. Pun kau juga pasti tahu kan, cinta itu butuh pengorbanan. Dari pengorbanan itulah hal setengah gila bisa terjadi.

Kertas, seseorang pernah berkata padaku, “Orang yang berbicara tentang cinta, cenderung sedang merasakan cinta”. Tapi kali ini aku sedang rindu, rindu dengannya yang entah dia rindu juga padaku atau tidak. Orang bilang rindu itu karena cinta, ya, aku rindu karena aku cinta padanya.

Ingin rasanya ku sampaikan sepenggal puisi karya WS. Rendra untuknya:

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur mainan
anak-anak peri dunia yang gaib.
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah
Wahai, Dik Narti,
aku cinta kepadamu!

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya.
Wahai, Dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku!

Ingin ku ubah nama Narti itu dengan namanya, tapi aku mulai bertanya:

Dulu kita punya cinta yang sama,
dari jalan yang berbeda.
Kita selalu saling menunggu dari matahari di timur
hingga di barat
Kita bersama melewati musim yang terus berganti
Namun, kini..
Dikala aku ingin kembali ke hatimu,
masihkah kau seperti yang dulu?

Wahai Kertas, hanya ini ceritaku, cerita tentang cinta, tentang rinduku untuknya. Sampaikanlah ceritaku ini padanya, padanya yang kucinta.
___
Metro, 22/12/2017

0 Response to "Tentang Cinta"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel