(Ebook) Muhammad Baqir al sadr - Falsafatuna


Buku ini awalnya saya dapatkan dari sebuah grup whatsapp (Rumah pecinta filsafat). Seseorang mengirimi buku ini kemudian saya download dan membukanya. Ini pertama kali saya menemukan buku ini hingga saya pun tertarik. Saya penyuka filsafat, saya dan teman-teman lainnya pun punya komunitas filsafat (terbentuk November lalu).

Dalam setiap diskusi di pelatihan filsafat itu saya menemukan berbagai macam aliran filsafat dan dominasi akal dalam memahami dunia. Dan dalam karya yang saya dapatkan ini (Falsafatuna), wawasan pemikiran filsafat barat di kolaborasikan dengan Islam. Luar biasa.

Sebelum membaca bukunya, ada baiknya membaca resensi ini. Sebuah resensi yang saya temukan di laman nukyanuari.

*
Sebagaimana pembahasan dalam ilmu filsafat lainnya, filsafat gaya Baqir as-Sadr juga masih berkutat dalam permasalahan pokok filsafat yakni tashdiq dan tashowwur atau pembenaran dan konsepsi. 

Konsepsi menjelaskan tentang bagaimana manusia berfikir mendalam tentang suatu peristiwa yang terjadi dengan kapasitas akalnya dan dengan mengakumulasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah lalu dalam sebuah tatanan sistematis sehingga menghasilkan out put yang memiliki tingkat kredibilitas dan validitas yang tinggi. Pembenaran atau tashdiq ialah suatu pandangan seorang manusia dalam menentukan bagus dan yang buruk; yang salah dan yang benar; dan yang baik dan yang jahat.

Dalam karyanya, Baqir as-Sadr pertama-tama menunjukan beberapa pandangan tokoh-tokoh filosof dari berbagai aliran, mulai dari filosof yang murni berpegang pada akal sebagai postulat seperti kelompok empirik sampai filosof yang melakukan kombinasi antara peran akal dan peran wahyu. Mengenai konseptualitas dia berada pada posisi tengah dengan tidak begitu bercorak rasional dan juga tidak terlalu bercorak konservatif walaupun juga tampak bahwa tingkat porsi akal as-Sadr lebih tinggi. 

Dia menolok pendapat kaum empirik yang terlalu berpedoman pada konsep kausalitas yang menyatakan bahwa segala sesuatu pasti ada sebabnya, dalam hal ini dia menyerang mereka dengan mengajukan beberapa pertanyaan tentang kehendak, kesukaan seseorang yang bersifat relatif, dan hal-hal lain yang bersifat intuisi yang kesemuanya tidak ditemukan sebab yang mendasari munculnya hal-hal di atas. 

Dia juga tidak begitu sefaham dengan kelompok yang terlalu konservatif dengan mengemukakan bahwa bagaimanapun bentuk pemrosesan suatu hal yang terjadi masih saja dibutuhkan panca indera sebagai pitnu depan dalam melakukan pembacaan terhadap suatu perso’alan, dia menyebut hal itu sebagai konsepsi pirmer. Pandangan Baqir as-Sadr juga mengarah pada permasalahan tashdiq atau pembenaran dimana persoalan ini memprioritaskan bagaimana manusia mampu memahami yang baik dan yang buruk dan memilih mana yang benar dan meninggalkan yang salah. 

Dia memahami bahwasanya tashdiq itu bisa diperoleh atau dalam artian manusia itu dapat mengetahui yang baik dan yang buruk itu melalui dua hal. Yang pertama ialah secara intuitif atau alamiah nurani dimana manusia dengan penjiwaanya mampu mengetahui benar dan salah tanpa harus melalui pemikiran panjang, seperti dua merupakan sebagian dari empat; lawan dari barat ialah timur; lawan atas ialah bawah; dan lain sebagainya.

Beberapa contoh diatas dimengerti oleh akal secara langsung. Kedua, ialah secara teoritis, dalam buku falsafatuna baqir as-sadr mengemukakan suatu metode dimana suatu kebenaran itu tidak dapat diperoleh kecuali dengan pengalaman yang telah ada yang merupakan hasil penelitian dan pemikiran sebelumnya. Seperti pernyataan bahwa bumi itu bulat; bumi itu mengelilingi matahari; bulan adalah satelit bumi; dan sebagainya yang kesemua itu dapat diketahui melalui jalan empiric atau pembuktian.

Terlepas dari itu semua islam memposisikan dirinya pada puncak kitab diantara berbagai kitab lainya dalam artian pembuktian yang dilakukan secara historis yang diyakini kebenaranya menempatkan islam dengan al-Qur’anya sebagai kitab yang paling otentik. Tapi kelemahan doktrin ini, sebagaimana yang dijelaskan as-Sadr ialah tidak memercayai suatu presepsi masa depan yang belum terjadi karena sesuatu yang belum terjadi merupakan sesuatu yang belum memiliki bukti.

Pemikiran-pemikiran Baqir as-Sadr di atas memberi sinyal bagi manusia dalam berfikir mencari kebenaran haruslah tidak melupakan aspek kejadian yang telah terjadi sebelumnya dan bagaimana metode penyelesaian dari persoalan tersebut yang kesemuanya merupakan pengalaman yang dijadikan pijakan dalam memutuskan sesutu. Kiranya benar kata plato bahwa pengetahuan baru didapat dari pengetahuan lama yang difikirkan terus-menerus. Lebih lanjut rosulullah bersabda “Hikmah merupakan sesuatu yang hilang dari jati diri seorang mu’min” maka dari itu hikmah harus terus dicari.
*
____

0 Response to "(Ebook) Muhammad Baqir al sadr - Falsafatuna "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel