Mata Hati

Disebuah jembatan yang penuh dengan semilir angin, duduk seorang pria berkumis tebal di kursi santai tepat di pojok jembatan. Ia duduk santai mengenakan sebuah kacamata hitam, kaki kirinya diangkat dan ditumpangkan di lutut kanannya, begitu santai pria itu. 

Sebuah lampu pijar berdiri tepat di pojok sebelah kanan ia duduk. Ada banyak kendaran simpang siur saling melintas, baik itu di sungai tepat di bawah jembatan atau pun lalu lintas di jembatan itu sendiri.

Sebuah kotak berwarna hitam ia keluarkan dari jaketnya, kotak rokok rupanya. Diambillah sebatang rokok dari kotak itu dan dinyalakannya, suasana yang menambah nikmat santainya hari ini. Satu batang rokok habis, diambilnya lagi sebatang. Sebatang itu habis lagi, diambilnya lagi, begitu terus hingga tak terasa pada batang yang terakhir.

"Nikmatnya kau ini," katanya sambil memlintir rokok terakhirnya itu.

Tak disangka selembar koran yang tertiup angin datang menghampiri dan menghantam jemarinya yang sedang memlintir-mlintir rokok itu. Terlemparlah rokok terakhirnya itu beserta koran ke sungai.

"Jancuk!!!" katanya reflek.

Seseorang yang lewat tepat di depannya pun langsung menegur, "Dosa, bang, ngomong kotor begitu!"

"Jangan sok tahu anak muda, kau ini masih berumur SMA," balasnya sambil menenteng kerah orang yang menegurnya.

"Bagi rokokmu!" kali ini ia mengancam.

"Eng..., enggak punya aku, bang," jawabnya down ketakutan.

"Ku lempar kau ke sungai ini !!!!" pria itu mulai membentak.

Begitu takutnya akan amarah pria itu, si bocah SMA langsung mengambil sisa uang saku dari kantongnya. Tak tanggung-tanggung, uang Rp.50.000 diberinya dan ia pun langsung berlari.

"Hahahaha...," tawa pria itu girang.

Setelah mendapatkan hasil palakan, pria itu pun pergi.

**
Kini pria itu tiba disebuah tempat bertemunya puluhan penjual dan pembeli, di sebuah pasar. Pasar yang tak jauh dari jembatan itu. Ia berjalan, mencari sebuah tempat untuk melampiaskan uangnya.

Sesaat ia berhenti tepat di depan sebuah toko, toko yang besar, bisa dibilang itu sebuah toko serba ada. Apa pun yang dicari orang pasti ada disana. Tapi ia tak masuk di toko itu, hanya berdiri, seakan menunggu sesuatu.

Sepuluh menit sudah ia berada di depan toko serba ada itu, wajahnya kini mulai terlihat bingung. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, entah siapa yang ditunggu. Dan akhirnya ia pun mulai bergerak lagi, ke arah kiri, menuju ke pusat sayur-sayuran.

Ia mempercepat jalannya, mengejar seseorang yang menggendong sebuah kotak kecil, kotak dagangan. Ternyata seorang anak kecil penjual rokok.

“Dek, rokoknya 50 ribu ya,” pria itu langsung menggenggamkan uangnya ke anak kecil penjual rokok itu.

“Ohh, iya mas, kembaliannya silakan ambil sendirinya di kaleng,” jawab anak itu.

“Ok. Seperti biasa aja kok.”

“Terimakasih banyak, mas. Jangan lupa besok beli lagi ya, mas,” ucap anak itu dengan senangnya.

“Pasti saya beli terus, tapi jangan lupa untuk terus sekolah, ya, dek.”

“Iya, mas,” jawabnya sambil melangkah pergi meninggalkan pria itu.

“Dek, tongkatmu,” kata pria itu menghentikan langkah si anak kecil. “Nanti susah loh, jalannya kalau tanpa tongkat.”

“Mata boleh buta, tapi mata hati masih bisa melihat kok, mas, terutama kebaikanmu, mas. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu, mas.”

“Juga untuk orang-orang yang membantuku untuk membahagiakanmu, dek,” kata pria itu.

"Aamiin."

.....
By: #Sandallll (17-11-2017)


0 Response to "Mata Hati"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel