Kebenenaran Mana Lagi yang Kau Dustakan?

Mahasiswa sering disebut Agent of change, kalangan pemuda yang disebut salah satu tonggak perubahan. Terpatri dalam jejak sejarah bahwa pemuda selalu hadir dalam sebuah perubahan besar, baik di dalam lingkungan lokal maupun global.

Idealis merupakan sandangan mutlak dalam darah mahasiswa. Namun perlu ditebalkan garis idealisme pada darah mahasiswa. Kebenaran dan idealisme bukanlah dua garis yang selalu dapat dipastikan kesejajarannya dan kelinierannya.

Klasifikasi antara kebenaran dan idealisme adalah: Kebenaran merupakan dasar penilaian yang mutlak bersumber dari tuhan, dan akal manusia tidak dapat memaksakan kehendak untuk menentukan arah tepatnya kebenaran, apalagi memaksakan kebenaran pada realita lapangan. 

Sedangkan idealisme merupakan penilaian yang bersumber dari pemikiran salah satu tokoh yang berpengaruh atau bisa jadi bersumber dari pemikiran salah satu kelompok yang menyebar di dunia. Sehingga, idealisme juga berkonsekuensi dapat diterima oleh akal sebagian manusia atau mungkin tidak dapat diterima oleh akal sebagian manusia yang lain.

Selain sikap idealis, sikap kritis adalah suatu sikap yang harus dimiliki oleh seorang yang mengaku mahasiswa. Namun bukan hanya sekedar sikap kritis tanpa arah, tetapi harus kritis yang transformatif. Artinya bahwa sikap kritis itu diperlukan, tetapi juga harus memberikan solusi dari setiap permasalahan. 

Melihat realitas yang terjadi di kampus tentang pemilihan Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) IAIN Metro yang diselenggarakan oleh panitia bentukan SEMA Institut, pada 15 November 2017, menimbulkan banyak kontroversi dari berbagai pihak/kalangan mahasiswa.

Inti permasalahannya adalah pada era sebelumnya, pemilihan DEMA Institut dilakukan dengan sistem Pemilihan Raya (PEMIRA) dan dianggap sah setelah melakukan Kongres. Namun, sebenarnya hal ini tidak diberlakukan lagi dengan adanya peraturan baru. Yakni tentang teknis pemilihan yang telah diatur dalam keputusan Direktur Jendral Pendidikan Tinggi Islam No.4961 tentang pedoman umum Organisasi Kemahasiswaan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang kemudian tertuang dalam “Surat Keputusan Rektor IAIN Metro No.484 Tahun 2017 tentang pedoman umum dan pembinaan Organisasi Kemahasiswaan IAIN METRO yakni pada poin B Hal 16 tentang tata cara pemilihan ketua Dema”.(**)

Inilah yang menjadi poin penting dalam berita aktual di kampus. Banyak mahasiswa yang tidak mengetahui dan gagal paham dengan keputusan tersebut yang mengakibatkan banyak kontroversi, karena sebelum aturan ini dikeluarkan, pemilihan ketua DEMA dilakukan secara demokrasi yang dipilih oleh seluruh mahasiswa yang ada di IAIN METRO. Kemudian hal ini berubah setelah adanya peraturan diatas.

Sehingga pemilihan Ketua DEMA, berdasarkan aturan tersebut dilakukan secara perwakilan dari masing-masing jurusan yang kemudian diwakilkan melalui HMJ yang ada. Setiap utusan HMJ menjadi suara penuh untuk menentukan pemilihan. Ada pun suara penuh HMJ di IAIN Metro berjumlah 11. Hal ini perlu diklarifikasi agar tidak terjadi kontroversi yang berkelanjutan. 

Dari sedikit paparan diatas, penulis mengajak kepada seluruh mahasiswa IAIN METRO untuk dapat membuka mata terhadap peraturan baru ini. Tentunya sebagai mahasiswa yang berpikir global dan bertindak lokal wajib mengikuti peraturan “Surat Keputusan Rektor IAIN Metro No 484 Tahun 2017 tentang pedoman umum dan pembinaan organisasi kemahasiswaan IAIN METRO yaitu pada poin B Hal 16 tentang tata cara pemilihan ketua Dema” yang berbunyi “Semua organisasi kemahasiswaan pada Institut Agama Islam Negeri Metro harus mengikuti ketentuan yang diatur dalam keputusan ini”. Penulis berharap dengan sedikit informasi ini, pembaca terkhusus mahasiswa IAIN Metro dapat meredamkan kontroversi yang sedang berkembang di kampus.

Penulis: Cahyani 
(**)

0 Response to "Kebenenaran Mana Lagi yang Kau Dustakan?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel