(Ebook) Manifesto Wacana Kiri - Buku Panduan Pelatihan Basis PMII


Minimnya kelompok radikal- transformatif di kampus-kampus merupakan kegelisahan sendiri apakah transformasi sosial dapat mungkin terjadi lagi. Padahal keyakinan untuk menciptakan perubahan itu justru diharapkan terjadi lewat gerakan mahasiswa  ini.  Tragisnya,  justru pada level gerakan sosial ini muncul fragmentasi dalam gerakan-gerakan reaksioner yang elitis. Hal ini mungkin terjadi karena keringnya ruang mediasi intelektual sebagai basis dialektika-refleksi atas sekian aksi yang dilakukan. Sebuah hal yang mustahil kerangka kerja revolusioner itu akan tercipta tanpa adanya sebuah transformasi wacana yang massif dan tradisi dialektis yang tertuang dalam narasi kaderisasi yang sistemik.

PMII sebagai komunitas ideologis yang berbasis kaum tradisionalis-radikal, harus mampu menjawab tantangan-tantangan zaman atas sekian proses eksploitasi, dehumanisasi, ketimpangan dan sekian persoalan lain yang tidak saja membutuhkan alat analisa yang jeli, tetapi juga proses itu bergulir tidak secara terlihat dengan kasat mata. Mustahil kita dapat menganalisa aras sosial apabila tanpa gagasan dasar kaderisasi formal dan informal yang memiliki bobot pengetahuan dan pembacaan yang jelas. Sehingga issue apapun yang sedang diusung, merupakan issue actual,  strategis dan populis, bukan issue elitis, usang dan hanya menjadi tunggangan kepentingan politik pragmatis.

Pertanyaannya adalah apakah PMII sudah mampu mengusung sekian mandat sosial yang diembannya? dan apakah PMII sudah mampu memposisikan organisasi dalam proses transformasi sosial? ataukah hanya menjadi bagian dari reproduksi sosial? Beberapa kegelisahan ini harus bisa dijawab dengan kaderisasi sistemik dengan wacana-wacana yang dikembangkan dengan melihat kebutuhan kader, organisasi dan bangsa.

Pelatihan Basis di PMII merupakan upaya pembentukan kader yang tangguh dan mampu menjawab tantangan zaman. Prinsip dasar dalam melakukan pengkaderan adalah upaya liberasi sebagai manifestasi kebebasan manusia dalam bertindak dan berpikir, sehingga ada kesesuaian antara kebenaran berpikir dan kebenaran bertindak. Basis kebenaran itu sendiri tertuang dalam ideologi PMII, paradigma gerakan dan platform gerakan sosial. PMII harus mengedepankan nilai- nilai indepedensi dalam arti bahwa PMII jauh dari kepetingan politik sesaat.

Ruang mediasi intelektual bagi kader merupakan hal yang sangat signifikan, kebutuhan ini menjadi mendesak untuk dilakukan karena pada dasarnya seluruh kegiatan PMII berorientasi pada pemberdayaan intelektual. Ketika ruang pengetahuan kader kosong, nisbi, nihil, bahkan tidak ada tradisi dialektika, maka yang terjadi adalah stagnasi gerakan pemikiran dan gerakan sosial. Tidak mungkin ketika ruang pengetahuan kosong akan terjadi gerakan revolusioner, yang terjadi hanyalah gerakan reaksioner yang elitis. Organisasi sebagai suatu sistem yang menyeluruh, membutuhkan basis kontitue yang militant dan ideologis, hal ini tidak akan terwujud tanpa ada gagasan dasar kaderisasi formal atau informal yang mempunyai bobot pengetahuan.

Pertanyaan fundamental bagi sebuah ruang mediasi intelektual adalah; pengetahuan apa yang ditransformasikan kepada kader? Hal ini penting untuk dijawab karena tidak semua pengetahuan bisa dijadikan kerangka kerja revolusioner, sebagaimana terjadinya Revolusi Rusia 1917 yang menuntut keadilan dimana tidak ada penghisapan manusia oleh manusia lain, juga mempunyai dasar pengetahuan dan tidak lain adalah ajaran marxisme. Nah, ruang gerak sosial juga membutuhkan dasar pengetahuan sosial yang jelas. Fragementasi gerakan diaras sosial misalnya, sangat mungkin terjadi karena gerakan dilevel sosial politik tidak memahami posisi masing-masing dan apa pengaruhnya.

Apakah mungkin kader yang tolol dan dungu dengan segudang kemiskinan pengetahuan dalam otaknya mampu melakukan perubahan! Nampaknya suatu hal yang mustahil. Dapat kita refleksikan statemen Seorang tokoh komunis, Nyoto—bahwa pengetahuan akan menuntun kepada gerakan nyata—dalam Makalah Kulianya “Filsafat Proletariat” di Universitas Rakyat, Jakarta,  29 Juni

1961: “Permasalahan revolusi sama sekali tidak mudah dan tidak sederhana. Hanya dengan senjata filsafat yang benar-benar revolusionerlah permasalahan revolusi itu bisa dijawab dengan tepat”. Jelaslah dari statemen tersebut, semua gerakan revolusioner membutuhkan dasar pengetahuan. Dan mudah-mudahan—untuk tidak mengatakan tidak mungkin—bahwa pelatihan ini bisa menciptakan kader yang bisa mengawal perubahan, mengawal segala bentuk penindasan kemanusiaan, penghisapan ekonomi rakyat, pemasungan kebebasan bertindak, eksploitasi kelas sosial—menuju keadilan hakiki.

Pengantar Nur Sayyid Santoso Kristeva

___
Inilah salah satu buku wajib yang harus dikunyah habis oleh kader-kader PMII. Salam Pergerakan...
Silakan download bukunya disini.

0 Response to "(Ebook) Manifesto Wacana Kiri - Buku Panduan Pelatihan Basis PMII"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel