Terharu

Hari ini aku begitu terharu, bahkan hampir menangis. Bukan karena aku sosok yang cengeng, bukan pula sosok yang mudah untuk merasakan haru. Tapi entahlah, mungkin karena aku menggangap diriku ini seperti mereka, merasakan seperti apa yang mereka rasakan, hingga aku pun menjadi seperti mereka. “Mereka adalah aku dan aku adalah mereka”, barangkali kalimat itu yang sesuai.

Aku mengendarai sepeda motor tua milik bapakku melewati pusat kota, sebuah jantung ekonomi wilayah yang biasanya terlihat ramai, tapi kali ini begitu sepi. Pusat kota yang sepi, bagaikan kota mati padahal masih pagi (07.03 wib). Tak ada satupun penghuni. Kukelilingi pusat kota itu, pun hanya kutemukan satu lembar kertas, bertuliskan, “Pasar tutup, PKL sedang demo!”

Bergegas aku menuju ke sebuah tempat, tempat yang tak asing bagiku, bahkan bisa dikatakan rumah kedua untukku. Aku menuju sekretariat PC PMII Metro, sekitar lima menit perjalanan. Disana aku berkumpul bersama mereka, para mahasiswa yang tak biasa, para mahasiswa kaum pembela.

Puluhan mahasiswa berkumpul, berasal dari berbagai jurusan di kampusku, bahkan dari kampus tetanggaku juga. Sebagian dari mereka ada yang rela meninggalkan perkuliahan, ada yang alasan izin dan ada pula yang memang libur tak ada jadwal. Hari ini memang hari yang efektif untuk perkuliahan, hari Senin (23/10), hari yang selalu dibayangkan sebagai full day activity. Tapi inilah kami, hak kami untuk memilih harus berbuat apa.

Pagi ini kami adalah kaum pembela. Para mahasiswa yang akan belajar, belajar bersama para kaum pasar. Kami bergerak untuk membela, membela para pedagang kaki lima (PKL) yang tertindas. Mereka tertindas, sebab akan direlokasi dari tempat dagang biasanya, tempat yang sudah nyaman mereka tempati. Bahkan ada yang sudah dilarang dengan adanya surat larangan berdagang dari Dinas Perdagangan Kota (Nomor: 053/398/D.18.03/2017).

Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan mereka, “Kami ini pedagang kecil, rakyat miskin yang harus di bantu. Bukankah kemiskinan itu yang harusnya diberantas, tapi kenapa yang miskin seperti kami ini mau diberantas,” sesal mereka. “Jangankan pindah tempat diatas sana (sembari menunjuk lokasi tempat mereka akan dipindahkan), orang dagang pindah posisi saja bisa berpengaruh ke penghasilan. Sebagian dari kami sudah ada yang pindah ke atas sana dan hasilnya sangat jauh sekali.”

Kabarnya, tempat mereka berdagang saat ini akan diganti menjadi lahan parkir pasar kota. Sebab itu mereka harus pindah ke ruko atas dengan aturan membayar biaya sewa. Meski diberikan gratis sewa selama tiga bulan, mereka pun tetap menolak keras.

“Sudah dipastikan disana tak akan laku, sepi pembeli,” kata ketua Himpunan Pedagang Kaki Lima Metro.

Para pedagang kaki lima yang terhimpun dalam Himpunan Pedagang Kaki Lima Metro (HPKLM) ini sudah beraudiensi dengan pihak Pemerintah Kota (Pemkot), (19/10). Mereka meminta langsung kepada Walikota Metro agar bermurah hati mengizinkan PKL berdagang di tempat biasanya: di Jl Agus Salim, Jl Cut Nyak Dien, antara Kopindo dan Cendrawasih, antara Kopindo dan Metro Mega Mall, antara Metro Mega Mall dan Pasar Cendrawasih (lokasi ex kebakaran) dan sekitaran terminal kota serta Nuban Ria di malam hari.

Mereka juga meminta agar Walikota mengganti Kepala Dinas Perdagangan Kota Metro. Menurut mereka Kepala Dinas yang sekarang terlalu arogansi, tidak manusiawi karena menggusur tanpa solusi, tidak berpihak kepada pedagang kecil, terindikasi berpihak pada pengembang (pengusaha), dan merugikan PAD (Pendapatan Asli Daerah) Pemkot. Dari data rincian yang mereka buat dan dilihatkannya padaku, ada 2 miliyar kerugian yang bisa dicapai.

Satu hari dari audiensi para PKL itu, Walikota pun membalas. Balasannya tak banyak dan tak bertele-tele, mungkin hanya copy paste dari apa yang sudah dinyatakan oleh pihak PKL. Dalam bahasa yang mudah dipahami seluruh manusia, cukup satu kata, “Menolak”. Ya, Walikota menolak permintaan para PKL. Dan saat itu juga, mereka berkata, “Kita tuntut, kita harus demo. Kita lawan!”.

Itulah yang menggerakkan semua para puluhan mahasiswa ini, termasuk diriku. Mereka itu pahlawan, pahlawan yang memberikan sumbangan dana terbesar untuk pembangunan di kota ini. Mereka itu pejuang, para pejuang yang harus terus menghidupi keluarga. Merekalah para pedangan kecil yang perlu kami bela. Mereka tertindas, oleh aturan yang terkesan membela para pemodal (investor).

“Untuk apa pasar terlihat ramai, menghasilkan banyak uang, terlihat rapih, tapi hasilnya hanya masuk ke kantong-kantong investor dan pihak-pihak penguasa yang tak baik? Bukankah lebih baik dikuasai mereka saja, mereka para PKL yang hidupnya tak seenak para investor itu?” begitulah kata hatiku.

Waktu pada jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 08.06 wib. “Siapkan amunisi, ayo berangkat sahabat!!! Salam Pergerakan!!,” ucap korlap. Dan kami pun berangkat.

Puluhan sepeda motor yang membawa bendera biru kuning bertulis PMII melaju menuju pasar kota Metro. Sebuah pusat kota yang sepi, sepi bagai kota mati, sunyi, tapi itu pagi tadi. Pusat kota yang tadi terlihat sepi, kini ramai, bagaikan lautan manusia. Satu komando, satu aksi. Mereka berbaris rapi, bersuara siap aksi.

Sungguh, inilah momen yang membuatku merasa haru, bahkan hampir menangis. Aku melihat seorang wanita tua seumuran seperti ibuku (51 tahun) mengenakan caping dan berpakaian seadanya. Ia berjalan membawa sebuah karton menuju keramaian. Karton itu bertulikan, “Kami bukan kambing, kami manusia.” Lalu kulihat sekeliling, begitu banyak ibu-bapak PKL yang harusnya mencari nafkah untuk keluarga, tapi rela datang ikut aksi menuntut haknya. Tak ada kata rugi menurutnya.

Kini pasar semakin ramai, ratusan manusia memenuhi area jalan terminal kota. Ku ambil kamera dalam kantong almamater biru kebanggaan ini. Satu, dua, tiga, sampai sepuluh detik kamera ini merekam video suasana pasar, tiba-tiba timbul satu pertanyaan, "Hanya kami disini? Dimana kalian para mahasiswa? Apakah kalian sedang sibuk, duduk santai diruangan mendengarkan pembacaan materi, menikmati wi-fi gratis, live sosial media, lalu kau menyebut itu belajar? Lain kali kemarilah, mari kita belajar bersama mereka, mereka yang memiliki solidaritas tinggi, para kaum kecil yang hari ini perlu kalian bela." (23/10). []

___
#Sandallll


0 Response to "Terharu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel