(Ebook) Buku Menjadi Kader PMII - Ahmad Hifni


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sebagaian besar anggotanya merupakan pemuda Nahdliyin sudah memiliki usia yang tak lagi muda. Sejak pertama kali berdirinya 17 April 1960, PMII ikut berperan dalam sejarah kehidupan politik, sosial, budaya dan pendidikan di Indonesia. Sebagai komunitas mahasiswa, PMII menjadi bagian dari simpul-simpul gerakan mahasiswa yang mampu memberikan andil baik pemikiran maupun gerakan dalam pembangunan nasional.

Di awal terbentuknya, PMII berhasil memainkan peran yang sangat penting di kalangan mahasiswa. PMII mulai menunjukkan gerakan-gerakan politik maupun sosial yang sangat cepat dan berpengaruh. Hal ini terbukti di usianya yang baru beranjak satu tahun, PMII sudah menjadi anggota forum pemuda sedunia di Moskow (Contituente Metting for the Youth Forum). Pada tahun-tahun selanjutnya PMII memimpin Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), berpartisipasi dalam pembentukan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), bergabung dengan kelompok Cipayung serta berbagai gerakan-gerakan berpengaruh lainnya.

Pada wilayah pengembangan intelektual, PMII sebagai ormas mahasiswa yang berbasis kultural pesantren mampu membangun dan mewujudkan perangkat basis intelektual yang kuat. Para warga PMII mencurahkan perhatian keilmuannya pada tema-tema pokok sekitar liberasi, civil society, pluralisme dan literatur-literatur epistemologi filasafat modern. Baik teori wacana open societynya

Karl Popper, sosialismenya Karl Marx, masyarakat komunikatifnya Habermas dan pemikiran filosof lainnya dijadikan sebagai acuan diskusi di dalam forum-forum PMII. Di bidang keislaman, PMII tidak menjadikan pemikiranpemikiran para pembaharu Islam seperti Jamaluddin al-Afghani, Rasyid Rida, Yusuf al-Qordlowi sebagai landasan studi keagamaan, apalagi kitab-kitab salafi yang dijadikan tradisi keilmuan oleh kelompok-kelompok Wahabi. Akan tetapi, PMII menjadikan pemikiran-pemikiran liberasi penuh pembebasan seperti Muhammad Arkoun, al-Jabiri, Muhammad Thoha, dan Samir Amin sebagai acuan disukusi keislaman dengan tidak meninggalkan tradisi keilmuan pesantren yang menekankan aspek fikih dan tasawwuf.

Begitu juga dalam kebangsaan. PMII senantiasa berkomitmen untuk menjadi komunitas yang nasionalis. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, PMII menjadi elemen penting dalam mengemban tanggung jawab berbangsa dan bernegara. Kecintaannya terhadap negara Indonesia membuat PMII tak ragu untuk menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi, dan bukan Islam. Sehingga PMII tidak pernah memaksakan panji dan simbol keislaman pada wilayah kebangsaan dan struktur kekuasaan negara.

Pada selanjutnya, PMII akan tetap setia mewarnai sejarah panjang bangsa Indonesia, baik dalam sektor politik, budaya, agama maupun pendidikan. PMII akan tetap menjadi gerakan pemuda Nahdliyin yang mengemban misi intelektual dan berkewajiban serta bertanggung jawab mengemban komitmen keislaman dan keindonesiaan demi meningkatkan harkat dan martabat umat manusia dan membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Buku ini hadir di tengah-tengah pembaca sebagai sebuah ikhtiar saya untuk mendokumentasikan berbagai refleksi, gagasan dan pemikiran tentang ke-PMII-an. Fokus buku ini diarahkan pada perkembangan kondisi zaman mutakhir yang pada gilirannya diejawantahkan ke dalam sikap dan langkah yang harus diambil kader PMII untuk menjawab dan merespon isu-isu kontemporer, baik dalam ranah keagamaan, politik kebangsaan, dan sosial masyarakat.

Di samping itu, buku ini juga membicarakan aspek historis dinamika perjalanan PMII semenjak kelahirannya sampai eksistensi keberadaannya di era ini. Buku ini terdiri dari 5 bab. Bab pertama membahas PMII dalam dinamika sosio-historis, baik dalam ranah gerakan, intelektual dan kedinamisan organisasi. Bab kedua membahas perihal keislaman, terutama mengenai Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai landasan teologis dan manhaj al-fikr PMII. Bab ini juga membahas bagaimana PMII menyikapi persoalan Sunni dan Syiah, terorisme, radikalisme, fundamentalisme serta isu-isu keagamaan yang berkembang mutakhir.

Bab ketiga membahas tentang komitmen kebangsaan PMII yang tercermin pada pilihannya untuk menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi. Bab ini akan menjelaskan jiwa nasionalisme PMII terutama pada rumusan Pancasila sebagai ideologi dan falsafah bangsa. Bab keempat membahas tentang PMII dan keilmuan serta bagaimana seharusnya warga PMII sebagai intelektual yang pernah mengenyam pendidikan pesantren dalam mengejewantahkan keilmuannya pada ruang akademis kampus.

Bab kelima membahas tentang filosofi gerakan PMII dalam membaca dan menjawab persoalan-persoalan yang berkembang mutakhir. Bab ini akan membicarakan peran PMII di kalangan mahasiswa Indonesia, rumusan baru paradigma PMII, komitmen untuk menjadi organisasi yang tetap independen, liberasi pengkaderan, strategi pengembangan PMII di kampus, gerakan di media sosial serta merefleksikan kepemimpinan para kader PMII.

Buku ini ditulis kurang lebih selama dua bulan lamanya, tepatnya sejak 17 Februari 2016 sampai pertengah April 2016. Inisiatif untuk menulis buku ini berawal dari diskusi-diskusi kecil bersama teman-teman aktifis Ciputat baik di kedai-kedai kopi, kampus maupun di forum-forum kajian akademis. Mereka banyak memberi inspirasi bagi saya dengan berbagai gagasan, refleksi dan masukan. Tekad dan komitmen mereka terhadap keilmuan memberi saya semangat untuk menulis buku ini.

Pada 17 April 2016 ini, PMII memasuki usianya yang ke 56. Dalam usianya yang tidak lagi muda ini, saya persembahkan buku ini khususnya untuk PMII, dan umumnya untuk khalayak umum yang ingin mengetahui dan memahami tentang PMII. Hal ini saya rasa penting, mengingat masih minim buku-buku tentang ke-PMII-an yang mewarnai literatur khazanah keilmuan Indonesia. Padahal PMII sebagai salah satu kekuatan gerakan mahasiswa Indonesia, apalagi sebagian besar anggotanya merupakan warga Nahdliyin yang sejak dulu menjadi komunitas masyarakat muslim yang terbuka, toleran dan ramah terhadap perbedaan, sejatinya harus dikenal dan dijadikan inspirasi bagi mahasiswa dan khalayak umum.

PMII hadir sebagai gerakan mahasiswa idealis yang tidak didirikan hanya untuk bertahan selama sepuluh atau dua puluh tahun semata, tetapi PMII didirikan untuk melakukan perubahan tata struktur dan sistem yang buruk, mempertahankan tradisi lokal budaya masyarakat Indonesia yang baik dan mengambil langkah yang lebih baik dari berbagai kemajuan di berbagai sektor yang berkembang mutakhir. Oleh karena itu, diusianya yang ke-56 ini PMII tetap hadir untuk menjadi tembok dari berbagai ancaman yang mengancam bangsa Indonesia menjadi lemah.

Ciputat, 17 April 2016
Ahmad Hifni

Silakan download bukunya disini.

0 Response to "(Ebook) Buku Menjadi Kader PMII - Ahmad Hifni"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel