BLANTERWISDOM101

Disini (MAPABA Rayon PGMI)

27 September 2017
Aku berada disini, tepat di depan puluhan mahasiswa. Duduk diatas kursi plastik berwarna hijau, mengenakan almamater biru dan sepatu pantopel. Di depanku, tepat diatas meja ada hidangan yang nikmat, buah-buahan segar yang menggiurkan. Buah yang pas untuk penyegaran di hari yang cuacanya sangat terik seperti ini.

Disebalah kananku ada dua bendera simbol kebanggaan, bendera negara dan bendera organisasi. Disebelah kiriku ada tiga orang hebat yang duduk satu barisan denganku, mengenakan almamater yang sama dan sepatu yang juga sama, hanya saja merknya berbeda.

Di belakangku, sebuah banner besar menghiasi, ukurannya 3m x 1,5m, warnanya biru dengan logo besar organisasi. Disamping logo itu tertulis, “Masa Penerimaan Anggota Baru” atau banyak orang disini menyebutnya MAPABA.

Dibawah tulisan itu tertulis, “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia” atau orang-orang se-Indonesia mengenalnya dengan sebutan PMII, sebuah organisasi kemahasiswaan tempat dimana aku selama ini berproses.

Dibawah PMII, tertulis “Rayon Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah” dan “Komisariat Jurai Siwo Metro”. Semua tulisan itu tersusun urut tepat disamping logo besar organisasi, sebuah tulisan yang mampu menjelaskan spesifik siapa diriku sebenarnya.

Hari ini, Jumat 22 September 2017, adalah momen yang kedua kalinya untukku. Momen yang membuatku bangga, berada di depan sini, di depan orang-orang hebat dan duduk bersama orang-orang yang hebat.

Teringat pertama kali aku berada di sini, di tempat yang sama, di hari yang sama dan pakaian yang sama, hanya saja waktu yang membedakan. Di gedung NU 16C Metro Barat, Jumat 30 September 2016, aku berdiri disini sebagai ketua pelaksana MAPABA Rayon PGMI, menyampaikan beberapa kalimat laporan kegiatan. Dulu aku melaporkan ada 35 mahasiswa mengikuti agenda MAPABA, dan kini aku akan menyampaikannya lagi, tentu berbeda dari itu.

Setelah sekitar lima menit menunggu persiapan hingga orang-orang di ruangan ini saling mengobrol, sejenak suasana dikondisikan untuk tenang dan datanglah penampilan Tari Sigeh Pengunten, tanda bahwa acara dimulai. Setelah tarian selesai, formal acara dilakukan, dibuka dengan basmalah, dibacakannya ayat suci Al-Quran dan Shalawat Nabi, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PMII, hingga tiba waktuku untuk memberi laporan.

Tak banyak kalimat yang tersampaikan, hanya ucapan terimakasih dan maaf dariku mewakili segenap panitia, hingga pada point penting, laporan tentang banyaknya peserta yang mengikuti MAPABA, “Peserta yang mengikuti ada 21,” ucapku, yang ternyata ada 22 peserta.

Dua puluh dua peserta, memang lebih sedikit dari tahun lalu. Bagiku tak masalah, mengingat "hukum alam" yang sering terjadi, membuatku berpikir lebih penting kualitas kader ketimbang kuantitas kader. Di depanku inilah, puluhan mahasiswa yang siap menjadi kader-kader mu’takid, kader-kader hebat, kader-kader yang kreatif dan loyal di PMII. Aamiin. []

#Sandallll






Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."