BLANTERWISDOM101

Sepenggal Kisah di Dunia Kampus

27 August 2017
Disebuah kampus Universitas Negeri ternama di Indonesia terdapat seorang dosen yang menurut para mahasiswanya adalah dosen paling "keren". Dosen tersebut bukanlah dosen seperti biasanya. Walaupun sama bergelar Magister dengan dosen-dosen lainnya di kampus, tapi ia memiliki teknis dan cara yang menarik dalam pengajarannya selama diperkuliahan.

Jika ke kampus, dosen tersebut datangnya selalu lebih awal, mendahului dosen-dosen yang lain. Begitu disiplinnya terhadap waktu, jika waktu belum menunjukan pukul 16.00 WIB (waktu selesai bertugasnya) ia belum mau untuk pulang. Terhitung jadwalnya ke kampus dimulai sejak pukul 07.30 WIB hingga pukul 16.00 WIB, tapi seringnya, ia sudah berada di kampus sejak kumandang adzan subuh terdengar.

Suatu hari sang dosen ada jadwal perkuliahan untuk mengajar para mahasiswa baru. Seperti biasa, ia datang tepat waktu, tapi kemudian terkejut melihat baru ada beberapa mahasiswanya yang hadir, hanya tujuh orang. Ditengoklah arlojinya, pukul 07.32 WIB.

“Yang lain kemana, mbak?” tanyanya ke salah satu mahasiswi.

“Banyak yang masih OTW, pak,” serobot ketua kelas.

Sang dosen pun melanjutkan langkahnya menuju meja, “Yasudah kita tunggu sebentar ya.”

Sembari menunggu, dosen tersebut menyiapkan segala bahan ajarnya. Walau hanya sebatas buku catatan kecil seukuran 15 x 10cm dan spidol warna hitam. Hingga waktu menunjukan pukul 07.45 WIB, sudah banyak mahasiswanya yang berada di kelas itu.

“Mari kita berfilsafat,” ucap sang dosen mengawali perkuliahan.

Setelah perkuliahan berjalan selama 30 menit, tiba-tiba datang seorang mahasiswa, terengah-engah lalu berkata,

“Maaf, pak telat,” ucapnya sesudah membuka pintu kelas dan menyalami sang dosen.

“Huuu..,, dasar terlambat. Nggak malu sama dosen yang datengnya lebih cepat!” ucap beberapa teman dari mahasiswa tersebut.

Mendengar ucapan itu, sang dosen langsung menyuruh mahasiswa yang terlambat untuk segera duduk di bangku kosong bagian belakang, "Duduk disana, ya nak."

Setelah itu, sang dosen malah mengganti pembicaraan.

“Tak sadarkah kalian wahai mahasiswa,” ucapnya lantang, “Beraninya kalian berasumsi buruk pada teman kalian sendiri. Kalian berani meneriaki seakan teman kalian ini salah, salah karena datang terlambat, lebih lama daripada dosennya? Begitukah? Lantas apakah kalian tahu jika dia terlambat karena menolong manusia yang sedang kesusahan di pinggiran kota sana? Bagaimana jika dia harus membantu orang tuanya dahulu untuk pergi mencari nafkah? Apa kalian tahu? Pun kalau memang dia terlambat, bapak bangga, karena dia masih sadar akan pentingnya ilmu. Dia berani datang meski dalam keadaan terlambat. Siapa yang bisa menjamin mahasiswa yang datangnya lebih awal bisa menyerap banyak ilmu melebihi yang datang terlambat? Tahu apa kalian tentang orang lain, kalian itu hanya bisa menilai dari sudut pandang kalian, yang sebenarnya kalian sendiri tak bisa tahu pasti seperti apa orang yang kalian nilai itu sendiri. Sadarlah!!”

Saat itu juga suasana kelas menjadi hening.

“Rileks, saja, nak. Rileks. Ini masih pembukaan perkuliahan, santai saja, karena untuk belajar filsafat, kalian harus terus berpikir,” lanjut sang dosen.

....

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."