BLANTERWISDOM101

Catatan Maryani (Sarjana) #3

21 August 2017
Bukan orang yang sepandai Sthepen Hawking. Bukan juga orang yang sekaya Bill Gates. Sederhana, tak banyak tingkah dan kaku, itulah sedikit deskripsi tentang diriku. Tak banyak teman yang kumiliki, hanya beberapa, mereka adalah orang yang mengatakan bahwa aku adalah sahabatnya. Dan sahabatku itulah yang membawaku kesini, salah satu daerah di Jambi, di pelosok desa yang minim teknologi.

Hidup di daerah orang lain itu tak bisa seenaknya seperti hidup di rumah sendiri, tentu harus banyak beradaptasi karena kultur yang berbeda. Tapi aku tak terlalu sulit untuk beradaptasi, sebab banyak orang yang sesuku denganku, suku Jawa. Setiap pagi berangkat mengajar, aku selalu bertemu dengan bu lurah yang sibuk bersih-bersih rumah. “Sugeng Enjing, bu” salamku setiap pagi untuknya.

Dua minggu sudah aku berada disini, menjadi pengajar untuk sekolah yang Bayu dirikan. Aku tinggal di rumah kontrakan dekat dengan rumah bu lurah. Setiap pagi hingga sore aku pergi untuk mengajar dan malamnya aku menyiapkan segala materi atau peraga yang dapat memudahkanku untuk pengajaran besok. Tapi kadang aku juga punya banyak waktu untuk menulis diary, bahkan waktu untuk bertamu ke rumah bu lurah, walau hanya sekedar berbagi cerita.

Suatu malam aku bertamu kerumah bu lurah, seperti biasa pak lurah sedang tak ada dirumah. Hampir setiap malam memang aku tak pernah menemui pak lurah, kecuali jika waktu sudah menunjukan pukul 23.00 WIB, itulah waktu ketika ia pulang kerumah setelah berbaur dengan warganya. Dirumah hanya ada bu lurah dan anaknya. Tapi anak bu lurah mulai pukul 20.00 WIB sudah berada dikamar menikmati komik kesukaannya, dan kalau sudah nikmat dengan komiknya, ia tak mau di ganggu. Malam itu pukul 20.34 WIB, maka hanya ada aku dan bu lurah yang saling mengobrol.

“Sehat, bu lurah?” sapaku seperti biasanya saat dibukakan pintu setelah sebelumnya aku mengetuk dan mengucap salam secara islami.

“Alhamdulillah. Sini dek, Yani, masuk, duduk senyamannya ya,” ia menyuruhku masuk, “Bagaimana tadi mengajarnya, murid-murid banyak yang nakal?” pertanyaan awal darinya yang sudah kuhapal. Hampir setiap malam bertemu, awal pembicaraanya pasti kalimat itu.

“Ya, biasa, bu. Nakal ya wajar, mereka kan suka bermain. Makanya saya sering ajak mereka untuk bermain saja, bu. Tapi bermain sambil belajar”.

“Anak-anak disini memang begitu, beda dengan anak-anak biasanya. Susah diatur itu pasti. Tapi saya bangga dengan pengajar seperti kamu disini. Dulu saya sangat prihatin dengan Bayu, ia mengayomi semuanya sendirian. Tapi kini ia bisa membawa kalian (sahabat-sahabatnya) untuk bersama membangun desa ini. Setidaknya membangun generasi muda yang akan membanggakan,” ucapnya padaku seakan serius, “Duuh lupa, dek Yani mau minum apa? Saya buatkan kopi saja ya.”

Aku tersenyum mendengar ungkapan bu Lurah, seakan aku dianggap malaikat penolong untuk desanya. Ahh., andai aku tak diajak Bayu kesini atau aku bisa diterima kerja di sebuah perusahaan pasti tak akan kudengar pujian seperti itu. Walau sebenarnya, tujuanku kesini hanya untuk melampiaskan sifat pedagogis, tak lebih, bahkan sampai membangun peradaban generasi muda seperti yang di bilang bu lurah.

“Yang sama dengan ibu saja lah. Biar nikmat kita sama, bu”.

Dua menit aku ditinggal ke belakang oleh bu lurah. Ia membuat kopi, kopi hitam seperti biasa. Selera bu lurah adalah kopi pahit, aku pun diberinya kopi yang sama. Nikmat pahit yang sama.

“Saya bangga ada generasi muda seperti kalian ini mau aktif membangun desa,” pujinya lagi setelah menyeruput kopi pahitnya.

Aku agak heran, “Bangga kenapa ya, bu?”

“Sarjana-sarjana seperti kalian inilah yang harusnya ditiru, sarjana membangun desa. Banyak loh, dek, para sarjana yang maunya hanya hidup nikmat. Menjadi pengusaha, pedagang, dan lain sebagainya yang pada intinya mereka tak mau melek untuk masyarakat. Ia kuliah hanya untuk hidup yang berfoya-foya, lulus hanya untuk kenikmatan dirinya saja”.

Aku merasa pujian itu tak pantas untukku, “Saya hanya sarjana biasa kok, bu, bahkan mungkin tak layak ditiru,” andai bu lurah tau cerita masa kuliahku. Mungkin ia akan menarik ucapannya.

“Bukan hal buruk darimu yang perlu ditiru, dek. Tapi niat baikmu itulah. Katanya mahasiswa adalah agen perubahan, tapi perubahan apa yang bisa dilakukannya? Kuliahnya lulus lalu bergelar sarjana hanya untuk bekerja saja? Tinggal jadi pengusaha pun bisa kan, lihat Bob Sadino. Atau kuliah hanya karena tuntutan sosial saja, melihat kiri-kanannya kuliah semua, maka harus kuliah agar tetap ada eksistensinya?”

Setelah meminum seceguk kopi, aku merespon, “Tapi, bu. Para sarjana kan tak harus mampu mengajar seperti saya ini untuk membangun?”

“Ya, benar. Tapi coba tanyakan, apakah mahasiswa sekarang itu sadar bahwa keberadaan dirinya itu ada untuk membangun? Coba tanya apa tujuan mereka kuliah?”

Sejenak aku berpikir, dan mencoba menjawab pertanyaan bu lurah itu, dulu aku kuliah hanya di tuntut untuk sukses. Bahkan aku tak tahu sukses yang mana, kuliah amburadul tak jelas. Menghabiskan uang orang tua sampai lulus dengan predikat (dalam pernyataanku sendiri) sangat buruk. Untuk apa aku kuliah? Aku pernah bertanya pada temanku, katanya agar bisa bekerja dan menerima gaji yang layak, menambah wawasan dan ilmu yang banyak. Tapi hanya untuk itukah memburu gelar sarjana?

“Kebanyakan, agar mudah bekerja dan mendapat penghasilan yang layak untuk hidupnya, atau menambah wawasan, bu,” jawab setahuku saja.

“Ya, memang benar begitu, tapi semua itu sebenarnya bisa dilakukan tanpa kuliah. Wawasan atau ilmu bisa dicari dimana pun. Yang terpenting adalah ilmu kehidupan, ilmu bermasyarakat,” jelasnya kemudian menyeruput kembali kopinya, "Coba ibu tanya, dibayar berapa kamu sama Bayu disini?” pertanyaan darinya yang baru ku sadari saat itu juga.

Bayu tak pernah memberiku pernyataan berapa aku akan dibayar di sekolah yang didirikannya itu. Ia hanya mengajakku, agar aku bisa melampiaskan kemampuanku. Menerimaku sebagai pengajar yang kecewa tak mampu mengajar di (perkotaan) daerahku, tak mampu melanjutkan S2 dan apalagi untuk menjadi seorang PNS. Pertanyaan untukku pun timbul, apakah hanya karena nafsu (kecewa) itu aku berada disini?

“Saya tak tahu, bu. Bayu mengajak kesini agar saya bisa mengajar dan ia juga yang menyadarkan saya agar senantiasa memberi ilmu ke mereka yang memang perlu diberi. Bahkan disaat pemerintah pun tak mau memedulikannya.”

“Luar biasa. Lalu apa yang kamu rasakan disini, dek, bahagiakah?”

“Saya bahagia, bu. Saya bahagia bisa mengajar dan menemukan mereka, murid-murid yang unik. Saya senang bermain dengan mereka, dan mereka pun senang saya ajak bermain,” jawabku sejujurnya.

“Beruntung, dek, jika demikian. Berarti kamu bisa betah untuk lama disini. Semoga kamu mau membangun desa ini. Ibu sangat bangga.”

Entah apa yang perlu dibanggakan dariku. Aku pun kadang merasa tak perlu dibanggakan. Mungkin hanya karena kesenanganku itu yang dilihat oleh bu lurah. Walau demikian, pujiannya itu menambah semangatku. Andai aku bertemu beliau sejak lama. Mungkin aku tak hanya di banggakan oleh dirinya seorang.

“Suka membaca karya tulis apa, dek, Yan?” tanyanya mengganti obrolan.

“Hampir semuanya suka, bu. Tapi novel saya lebih suka. Kalau ibu? Jangan bilang baca koran ya, Bu. Hheehee..,,” candaku mencoba membuat suasana yang berbeda.

Ia tersenyum, “Ya, sama, juga suka semua. Saya ada saran karya untukmu nih, dek.”

“Apa itu, bu?”

“Coba renungkan karya WS. Rendra, Sajak Seonggok Jagung”.

Rasanya aku baru mengenal nama itu, “Seorang penulis puisi, bu?”

“Ya demikian, bacalah, kamu akan sadar.”

Tak terasa memang jika aku berbicara dengan bu lurah, bahkan waktu tiga jam saja bisa terasa seperti setengah jam. Bu lurah memang temanku berdiskusi. Teman berbagi cerita dan pengalaman serta sebagai penasehat hidup, terutama agar hidup beradab di daerah orang lain.

Malam itu aku harus segera pulang, menyiapkan beberapa mainan baru untuk pengajaran besok pagi. Aku tak bisa lama-lama bercerita bersamanya. Kurasa memang sudah cukup obrolan malam itu. Pikirku nasehat bu lurah hanyalah mengingatkanku untuk senantiasa menjadi sarjana yang peduli bagi sesama, peduli bagi lingkungan dan masyarakat. Aku mantan mahasiswa yang disebut agen perubahan, kini aku sudah lulus dari agen perubahan itu, mungkin maksud bu lurah tadi, “Aku sarjana dan aku adalah sang revolusioner. Jadilah sarjana yang membangun desa, bukan malah kikuk ketika di desa”. Begitu yang kudapat.

Segera ku habiskan kopi yang disediakan, lalu aku berpamitan.

“Bu, pamit dulu ya. Ada yang mau disiapkan untuk besok. Terimakasih nasehatnya, terimakasih kopinya.”

“Loh, buru-buru...,” jawabnya basa-basi yang biasa, “Yowes, tetap semangat terus ya mengajarnya. Jangan lupa sabar kalau murid-muridnya pada nakal.”

Aku menyalami tangannya sembari tersenyum, “Hhhe.., njeh, Bu. Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam”.

“Ohh.., iya bu. Besok malam pak Moko ada dirumah tidak?”

“Ada perlu apa? Nanti ibu sampaikan saja.”

“Biasa, bu. Bayu mau ketemu katanya,”

“Yowes, besok ibu tahan biar tetap dirumah saja. Tenang saja ya, suami ibu pasti nurut kok. Dia kan takut istri, hhaahhaaa..”

“Ahh...,, bu Laksmi bisa saja,” bu lurah memang suka bercanda, bahkan sering. Kami bisa dibilang sudah akrab, kadang kami saling meledek. Dia gendut aku kurus, dia umur 35 aku baru akan berumur 25, kita adalah wanita yang beda-tipis, “yawes saya pamit, bu.”

“Oke dek, Yani.”

***

Sesampainya dikontrakan aku justru penasaran dengan saran karya yang diberikan bu lurah, WS. Rendra-Sajak Seonggok Jagung. Baru setelah dua hari dari pertemuanku dengan bu lurah saat itu, aku menemukannya:



Sajak Seonggok Jagung

WS. Rendra



Aku bertanya:

Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran atau apa saja, bila pada akhirnya, ketika pulang ke daerahnya, lalu berkata:
“Di sini aku merasa asing dan sepi!”

___
Full Catatan Maryani
  1. Perubahan
  2. Sandal Jepit
  3. Sarjana
To be continued....


Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."