BLANTERWISDOM101

Pesan Misterius

21 July 2017

Baru saja aku tertidur dua jam yang lalu, tapi rasanya seperti sudah lebih dari delapan jam. Dalam mimpi aku sudah pergi keliling eropa, ke Spanyol, kota Cordoba. Aku melihat berbagai keindahan di kota itu, seperti Mezqueta, stadion Nuevo Arcangel, bahkan patung seorang tokoh paling bersejarah di jagat eropa, Ibnu Rusyd (Averroes). Baru ingin ku foto patung Averroes itu, tapi aku malah terbangung.

Sebuah getaran membangunkanku, bukan gempa bumi yang tentu itu akan membuatku panik. Hanya smartphone, bergetar diwaktu yang jarang terjadi, dini hari, masih pukul 02.10 pagi. Saat yang mataku masih sulit untuk dibuka, “Siapa ini menggangguku?”

Sial. Hanya sebuah notifikasi pesan singkat, tapi ini membuatku heran. Nomor pengirim tak ku kenal dan tak terlihat pula profilnya. Siapa dia aku pun tak tahu, bahasa tulisannya juga tak ku kenal. Awalnya malas untuk ku buka, tapi awalan pesan itu membuatku penasaran. “Hai, Ahmad Mustaqim, tahu siapa aku?”

Akhirnya kubaca sampai tuntas:

***
Hai, Ahmad Mustaqim, tahu siapa aku?

Biar kutebak, pasti tak mengenalku sama sekali. Aku adalah dirimu, sisi lain dari dirimu yang tak pernah kamu pikirkan. Jangan heran, apalagi bingung. Mungkin kamu merasa aneh dengan pernyataanku, tapi memang begitulah seharusnya, aku adalah dirimu, kamu adalah aku. Cobalah bercermin dan katakan yang baru aku katakan itu. Jika kamu masih penasaran dengan siapa aku, maka coba tanyakan sendiri tentang siapa itu “kamu”?

"Siapakah kamu? Apa yang menjadikan ‘kamu’ adalah dirimu?” Akankah kamu jawab dengan namamu, “Aku adalah Ahmad mustaqim”? Boleh saja kamu jawab seperti itu, tapi kalau seandainya namamu adalah Al-Farabi bukan Ahmad Mustaqim, akankah kamu menjadi orang lain, bukan dirimu yang sebenarnya?

Mungkin nama tak menentukan siapa kamu. Jadi apa jawabannya? Akankah kamu jawab keseluruhan yang ada dalam dirimu itulah yang kamu sebut “kamu”, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, tak peduli seperti apa sifat dan perilakumu? Tapi seandainya kamu potong rambut dan kukumu, apakah kamu merasa kurang dari “kamu”? Dan bagaimana jika suatu saat kamu harus amputasi dan transplantasi organ seperti ginjal (diganti dengan ginjal orang lain), apakah kamu merasa kurang dari “kamu” dan akankah kamu merasa menjadi sebagian dari orang lain? Lalu seandainya kamu harus transplantasi seluruh organ tubuh yang ada pada dirimu, apakah kamu akan dianggap mati atau tiada?

Kalau kamu terlalu Saintis, mungkin kamu akan jawab DNA lah yang menjadikan siapa kamu. Meskipun kamu mengganti hampir semua tubuhmu, DNA akan tetap bertahan dan meninggalkan blueprintmu. Tapi, bukankah kembar identik berasal dari antitelur yang sama (memiliki DNA yang identik), maka hampir pasti kamu bukanlah kembaranmu. Jadi, bukan DNA lah yang menjadikan “kamu” itu dirimu.

Bagaimana dengan otakmu, apakah otak yang menentukan siapa dirimu? Kalau kamu bilang, ya, bagaimana jika kamu di culik dan otakmu ditukarkan dengan otak orang lain serta setelah ditukarkan, kamu lupa siapa dirimu. Apakah kamu masih dirimu? Apakah orang lain akan menganggap kamu bukan dirimu? Mungkin akan kamu jawab, ya, karena itu otak orang lain. Tapi bagaimana jika otakmu tidak ditukarkan, melainkan hanya seluruh informasi yang ada diotakmu yang ditukar, masihkan dirimu itu adalah kamu?

Aku kenal dengan seorang filsuf, namanya John Locke, dia berkata, “Yang menjadikan ‘kamu’ dirimu adalah pengalamanmu”. Jadi kamu bukanlah tubuh fisikmu, tapi pengalamanmulah yang menjadikanmu itu dirimu. Menariknya lagi, otak adalah sumber memori pengalaman dan otak itu terbagi menjadi dua bagian: bagian kiri dan kanan serta keduanya memiliki fungsi berbeda. Ada yang bilang, jika salah satu bagian otak dilepas, bagian yang tersisa bisa mempelajari bagian yang dilepas.

Lantas bagaimana jika suatu ketika kamu punya saudara kembar yang di diagnosis penyakit otak fatal dan kamu akan memberi sebagian otakmu untuknya. Setelah transplantasi selesai, saudara yang kamu beri otak itu mengetahui sebagian rahasiamu (momen-momen pengalamanmu). Kalau dia sudah memiliki pengalamanmu, bukankah dia itu adalah dirimu?

Jadi ku ulang lagi pertanyaanku, Siapakah kamu? Teruslah berpikir!!!

Salam,
Dari dirimu sendiri, 
Ahmad Mustaqim
***

Selepas kubaca pesan itu, aku langsung terduduk di kamar tidur, menyandar di dinding dengan sejumlah pertanyaan, “Siapa dia sebenarnya yang mengaku diriku?”. Belum tuntas memikirkan siapa yang memberi pesan itu, timbul lagi pertanyaan, “Siapa aku sebenarnya?”. Benar juga katanya. Seandainya aku lahir dari lain rahim dan dengan nama yang lain, apakah aku masih bisa merasakan apa yang sampai saat ini aku rasakan? Atau bagaimana jika aku tidak menjadi (manusia) seperti saat ini?”

Aku benar-benar merasa aneh, kujawab pesan singkat itu, “Hei, kamu itu siapa, apa maksudmu pagi-pagi seperti ini membuat orang merasa aneh?”

Tak lama kemudian ia membalas pesanku, “81161625 29182084125”. Aku terdiam lalu berpikir lagi, apa maksudnya? Dan ia mengirimiku pesan lagi, “Apa bedanya huruf dengan angka?”.

Kini aku tak sabar, segera ku telfon nomor itu. Tak lama kemudian terdengar suara wanita, “Nomor yang anda tuju tidak terdaftar”.

“Sial, siapa sebenarnya dia? Dia adalah diriku? Hah? Lalu siapa aku ini?”

___
Cerita ini hanya fiktif belaka, terinspirasi oleh novel (filsafat) Dunia Shopie karya Jostein Gaarder dan wacana dari Numbers ID. Selamat berpikir.

By: Sandallll

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir. Yang jelas, yang kamu lihat saat ini adalah Aku yang versi numpang di jasad bernama Ahmad Mustaqim."