Kenapa Banyak Serangan Hama Wereng?

Saya pernah mengirim tulisan di laman facebook pribadi, "Mohon bantuannya, tips, atau solusi untuk mengatasi masalah pertanian hama wereng. Kalau bisa yang hemat dana ya. Kasihan nih bapak-bapak disini".

Lalu saya menemukan jawaban menarik. Jawaban ini sekaligus ulasan panjang. Dari senior organisasi saya di PMII, beliau juga sebagai pendiri PMII di kota Metro ini, Ahmad Haryono.

Begini jawabannya:

“Ketika pertanian menjadi industri itulah resikonya. Yang namanya industri pasti dikendalikan oleh yang punya modal. Dan rakyat adalah pasarnya. Pemilik modal ini bukan hanya lokal tapi sudah transnasoinal (multi nasoinal corporate). Contoh, segala merek obat-obat pertanian yang dipakai bapakmu seperti sevin, gramason, roundap dan lainnya, diproduksi oleh Bayer pusatnya di Amerika, ada lagi merek lain diproduksi oleh Mozantoo pusatnya di Jerman.

Pertanian konvensional mulai dikenalkan di Indonesia tahun 1971 dengan istilah revolusi hujau. Mulai saat itulah kearifan lokal terberangus, seperti pranoto mongso hilang, bibit2 padi lokal dicuri ke Philipina sana. Indonesia pernah kehilangan 150 jenis varitas padi local, lalu diganti dengan bibit padi IR, dulu sangat terkenal itu. Begitu juga pupuk, semua pabrikan.

Pertanyaannya adalah kemana pupuk kandang, obat-obat sejenis tembakau, jenis padi lokal perginya? Jawabannya adalah disumputkan oleh penguasa berkolaborasi dengan pengusaha multinasional tadi. Pertama kaum tani Indonesia dicuci otaknya dengan konsep intensifikasi pertanian melalui para ppl. Kedua sistem mekanisasi pertanian yang dengan sukses membrangus kegotongroyongan, karena tenaga manusia diganti dengan mesin pertanian. Maka sukseslah menjadikan petani Indonesia sebagai pasar potensial industri pertanian dunia.

Apa akibatnya? Ledakan hama tak terkendali. Inilah simbiosis mutualisme.. Kalo bamyak hama maka obat laku. Saya pribadi dari dulu sudah curiga, jangan-jangan disela-sela bibit unggul yang dibeli petani itu terselip sel-sel hama wereng dan lainnya. Akibat lain adalah hasil peetanian saat ini tercemar residu pestisida yang sangat membahayakan tubuh. Lihatlah penyakit yang diderita petani saat ini kan aneh-aneh. Dampak lainnya; secara ekonomis usaha peetanian tidak pernah untung.

Kehidupan petani begitu-gitu saja dari dulu. Dan anak-anak petani tak pernah bangga menjadi petani. Anak-anak petani yang sekolah tak pernah mau kembali jadi petani, karena tak menguntungkan. Beda dengan anak petani Amerika, Jimmy Carter seorang petani kacang sukses dan menjadi prediden Amerika.

Lalu apa jawabannya? Sadarkan petani untuk go organik. Kembalikan marwah peetanian Indonesia sebagai upaya memakmurkan bumi , bukan mencemarkan bumi. Tanam tanaman yang dibutuhkan keluarga, bukan yang dibutuhkan oleh negara. Bangun kembali tradisi gotong-royong dan sistem pranoto mongso. Ingatlah kerusakan yang terjadi baik didaratan maupun dilautan adalah akibat ulah tangan-tangan manusia.. Sadar, sadar dan sadar wahai kaumku. Kaum petaniku, yang aku bangga denganmu.”


0 Response to "Kenapa Banyak Serangan Hama Wereng?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel