The Moment of MK (Sains SD/MI)

Pagi kali ini tak seperti biasanya. Aku masih terjaga. Kulihat jam sudah menunjukan pukul 03.00 wib. Suasana luar rumah pun kian ramai dengan gemuruh toa membangunkan orang-orang tidur, "Sahurr.., sahurrr.., bangun.., bangun..".

Satu persatu seisi rumah pun terbangun, pertama Ibu, kedua Bapak kemudian kedua adikku. Semua terbangun. Dan pagi ini adalah momen yang tak seperti biasanya. Kami berkumpul dan makan bersama. Sesuatu yang jarang terjadi.

"Dari tadi nggak tidur, nak?" tanya ibuku saat sahur bersama. Ini wajar, karena saat ia terbangun, aku sedang berada didepan TV menulis cerita ini.

"Nanti aja tidurnya, buk, habis subuhan".

"Lah, nggak kesiangan bangunnya? Hari ini ngampus tho?"

"Iyo, buk. Tapi jam 9 kok ngampusnya".

Dan setelah subuh, aku harus tidur, memberi ruang istirahat untuk tubuh dan otakku. Tidur yang tak wajar, tidur dikala orang-orang yang seharusnya terbangun.

*

"Sialan!" ucapku spontan setelah melihat jam di smartphone. Pukul 9 pagi. "Telat nggak ini yaa, duuh jan".

Tanpa pikir panjang aku langsung bangun. Lari mengambil handuk yang tergantung di paku tembok, lalu masuk ke kamar mandi. Ya, pagi ini aku layaknya orang dikejar teroris. Glagapan kalo kata orang jawa.

Durasi aktivitas pasca bangun tidur itu kulakukan secepat kilat. Mandi secepatnya, orang jawa bilang "mandi bebek". Aku juga lari sana-sini mencari sesuatu yang perlu kubawa untuk ke kampus.

Saat semua aktivitas pasca bangun tidur itu selesai, aku langsung menyalakan motor. Motor butut keluaran tahun 2000 milik bapakku. Kebetulan pagi ini tak ada orang kecuali aku. Ibu pergi ngurusi PAUD, Bapak kerja, dan kedua adikku sedang sekolah.

Saat motor sudah siap, dan pengemudinya sudah tampak begitu tampan, kemudian helm sudah dipasangkan, seketika itu langsung ku gas motor tua ini menuju kampus tercinta, IAIN Metro.

"Lima menit perjalan harus bisa kutempuh," gumamku ketika melirik waktu yang sudah menunjukkan pukul 09.06 wib.

*

Semua diluar dugaan. Motor tua yang kuharap mampu membawaku dengan cepat dalam waktu lima menit malah terlambat tujuh menit. Ya, dua belas menit perjalanku dari rumah ke kampus. Aku makin khawatir.

"Duuh, gimana ini kalau udah masuk?" pertanyaan mengganjal itu timbul saat kulihat waktu sudah menunjukkan pukul 09.18 wib.

Harusnya aku masuk MK pukul 09.10 wib. Aku telat delapan menit. Dan akhirnya ketelatanku bertambah menjadi tiga belas menit. Lima menit kugunakan untuk berfikir, mencari alasan logis agar bisa masuk MK yang ketat ini. Pikirku, tak akan logis jika aku harus berasalan "Bangun kesiangan", yang ada dosennya pasti menyuruhku keluar. Dan kalau benar aku keluar, itu tandanya aku alfa (tanpa keterangan). Aku sudah dua kali alfa, jika satu lagi kena alfa maka aku sudah memasuki masa kritis di MK ini, "Batas maksimal alfa telah tercapai!".

Saat narasi alasan yang akan kusampaikan telah siap, aku memberanikan diri mendatangi kelas. Menaiki puluhan anak tangga hingga sampai di lantai tiga gedung O. Dan ternyata,

"Alhamdulillah, belum masuk". Ku tarik nafas sedalamnya, dan ku hembuskan.

Ternyata teman-temanku masih menunggu masa pergantian MK. Terlihat, masih ada rombongan kelas B di dalam kelas dengan kegiatannya. Dan kini kulihat lagi waktu, sudah pukul 09.24 wib.

Selang beberapa menit, pergantian kelas pun dilakukan. Kini giliran kelas kami yang masuk, kelas C PGMI. Masuk di MK yang banyak dikatakan temanku berdosen agak "Killer".

*

Sebenarnya aku merasa aneh, aku terpikir, kenapa aku bisa begitu khawatir bahkan gelisah untuk masuk MK ini? MK yang bagiku tak begitu sulit di pahami materinya. Mungkin karena aku sudah terlalu banyak alfa? Kurasa ada benarnya. Tapi, juga karena aku kehabisan kuota data internet, hal itu yang membuatku sulit berkomunikasi dengan teman sekelas. Yasudah lah. Semua sudah berlalu.

Kami pun masuk ke kelas. Melakukan aktivitas seperti biasanya. Menyelesaikan tugas kolektif yang belum terselesaikan. Ada kelompok terakhir, kelompok tiga yang beranggotakan lebih dari lima orang. Mereka maju, memresentasikan dan melakukan eksperimen di depan kelas dengan sebaik mungkin. Tentu demi sebuah nilai yang mungkin diharapnya nilai yang perfect di MK yang menarik ini.

MK ini adalah Eksperimen Sains di SD/MI. MK wajib jurusan PGMI semester empat. Tak ada yang sulit dari MK ini menurutku. Semua kegiatan MK banyak diisi dengan eksperimen. Eksperimen-eksperimen yang sebenarnya sudah pernah kupelajari di SMA bahkan SMP dulu. Tapi, aku pernah punya rasa heran dengan MK ini.

Begini, dulu aku diberi tugas Eksperimen tentang Roket Cuka. Tak ada yang aneh memang untuk suatu Eksperimen Sains, tapi keherananku itu datang ketika terpikir dalam benak, "Ini MK Eksperimen Sains di SD/MI, tapi kenapa yang harus ku presentasikan dengan gaya mengajar khas SD/MI adalah Eksperimen Sains SMA?" Roket Cuka itu penuh dengan reaksi kimia yang menurutku akan sulit di pahami anak-anak SD/MI.

Akibatnya, aku mencari materi simpel yang sekiranya ada kaitan dari eksperimen roket cuka itu. Kutemukan, Gaya, dengan fokus materi "Tekanan udara mempengaruhi Gaya".

Memang terlalu simpel, bahkan mungkin aneh. Roket cuka yang seharusnya penuh materi hebat reaksi kimia, dikaitkan dengan materi Gaya. Aku pun agak sulit menarasikan dengan gaya mengajar MI. Alhasil, penampilanku begitu buruk. Seburuk-buruknya dari yang lain.

Satu komentar dosenku pengampu MK ini yang masih teringat dari buruknya penampilan mengajarku itu adalah: "Ibu tau materi ini untuk kelas atas (SMA), tapi Ibu disini mengajari kalian untuk paham lebih dari sekedar anak SD/MI". Ku kira memang aku yang bodoh. Kenapa aku tak terpikir seperti itu? Semua kegiatan ini kan untuk belajar. Harusnya aku bisa mendapatkan lebih, tapi aku menyederhanakan dan mengolah materi roket cuka yang malah membuat penampilanku makin buruk dan garing.

Selain tentang keherananku dengan MK yang membuatku terus teringat dengan suasana kelas, kesan lain dari MK ini adalah tentang dosennya. Harus ku katakan dengan jujur, ada temanku yang mengatakan dosennya agak "killer", dosennya terlalu ribet, dan ada yang menganggapnya sebagai "ibu periku" . Bagiku sendiri, dosennya sangatlah "cerewet", selalu saja bercerita. Cerewetnya bukanlah cerewet yang biasa, melainkan cerewet yang banyak manfaatnya, yaitu bercerita tentang pengalaman pribadinya menjadi seorang guru dalam proses mengajar. Aku sadar, pengalaman adalah guru terbaik. Dan akan lebih baik lagi ketika pengalaman terbaik itu didapat dari seorang guru yang sudah berpengalaman.

Dosenku ini juga sering memberi para mahasiswanya tips untuk menjadi seorang guru yang hebat. Satu tipsnya yang begitu melekat di otakku adalah: "Jangan sampai seorang guru melakukan miskonsepsi!!". Ini yang luar biasa. Guru memang harus menguasai materi agar proses penyampaian ilmunya bisa benar. Miskonsepsi adalah kesalahan konsep yang disampaikan seorang pengajar ke peserta didiknya. Misalnya, pengajar yang harusnya memberi materi tentang Gaya, tapi karena ketidakpahamannya akhirnya mengajar sebisanya, padahal apa yang diajarkan itu salah total dari materi Gaya yang sebenar. Bukankah itu hal yang fatal bagi seorang guru?

Sungguh, MK ini sekaligus dosennya memberiku banyak kesan. Seperti hari ini, kesan MK yang mampu membuatku khawatir. Padahal tak perlu ada yang dikhawatirkan. Namun setelah ku berpikir ulang. Satu hal yang menjadi inti ke khawatiranku adalah: Hari ini adalah pertemuan terakhir MK Eksperimen Sains di SD/MI. Pertemuan terakhir dalam proses perkuliahan dengan dosen yang banyak memberiku kesan dan pesan. Alangkah rugi jika aku sampai tak bisa hadir. Bertemu langsung dengannya. Sosok yang memberiku banyak ilmu. Terutama bekal bagi seorang pengajar. Seperti satu pesan lagi dari dosenku MK ini yang begitu melekat,  "Ibu disini berusaha memberi yang terbaik, karena apa yang terbaik itu akan menjadi amal jariyah untuk ibu". Satu pesan yang bisa ditarik maknanya menjadi, "Guru yang baik akan terus didampingi pahala jariyah".

Rasanya ingin ku ucapkan banyak terimakasih di hari terakhir ini. Tapi, tak mungkin hanya sekedar ucapan sederhana itu. Maka terciptalah karya sederhana ini. Maafkan jika terlalu jujur, buk dosen. Sebab ibu sendiri yang mengajarkan aku untuk selalu jujur. Ibu bilang, "Kunci kesuksesan yang utama adalah kejujuran". Terima kasih dosenku, dosen yang unik, menarik, dan yang mampu memberiku inspirasi menulis kisah ini. Just for my special lecture, Supriyati, M.Pd. Doakan aku menjadi pengajar yang hebat buk. Aamiin.[]

___
Selasa, 30 Mei 2017
#Mustaqim 


2 Responses to "The Moment of MK (Sains SD/MI)"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel