Sol

Aku berjalan menyusuri pasar, melewati gerumunan manusia penikmat diskon. Aku bukan seperti mereka, untuk apa aku tergiur diskon sedang uang saja aku tak punya.

Aku pergi ke tempat yang paling kusuka. Tempat yang mungkin hanya aku sendiri yang menyukainya. Aku menuju ke tempat biasanya, untuk duduk disamping tukang sol sepatu. Bukan mau membantu tukang sol itu, hanya duduk saja, duduk santai sembari menulis catatan kecil.

Aku tak tahu siapa nama Tukang sol itu. Aku hanya bocah pendiam yang tak bisa membuat suasana percakapan jadi menarik. Tukang sol itu pun juga sama sepertiku. Yang sering terjadi sepanjang hari hanya omongan itu-itu saja, dia bilang "Makan, dek" padaku.

Dengan sopan selalu ku tolak tawarannya itu, aku masih puasa. Memang tukang sol itu bukanlah beragama Islam. Maka sering dia menawariku makanan. Mungkin dikiranya aku tak kuat berpuasa, atau aku dikira seagama dengannya. Mungkin karena aku anak bule Canada yang nyasar ke negeri ini.

Aku sering melihatnya tertidur pulas. Itu karena dia lelah menunggu orang-orang yang mau memakai jasanya. Tak jarang, dari siang sampai sore hari hanya satu orang saja yang datang ke lapaknya dengan bayaran jasa 10rbu. Terlalu murah bagiku. Tapi dia masih saja sabar dengan kondisinya.

Sebenarnya tukang sol itu hanya satu dari sekian banyak hal menarik dari aktivitas anehku. Duduk santai bagaikan pengemis, lesehan dibawah dengan lutut menyangga buku cacatan kecil ini. Bersamanya, si tukang sol yang malang.

Mungkin sebaiknya tukang sol itu jualan sandal/sepatu saja. Apalagi di momen seperti ini, momen yang banyak orang lebih memilih untuk membeli barang-barang baru ketimbang yang sudah ada. Ya, yang terlalu konsumtif.

#Sandallll

0 Response to "Sol"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel