BLANTERWISDOM101

Soekarno dalam Peristiwa 1 Juni

01 June 2017
"Soekarno dalam Peristiwa 1 Juni"
Oleh: Ahmad Mustaqim, Mahasiswa PGMI IAIN Metro

Berdasarkan penelusuran sejarah, Pancasila tidaklah lahir secara mendadak pada tahun 1945, tapi melalui proses panjang yang didasari oleh sejarah perjuangan bangsa dan dengan melihat pengalaman bangsa lain. Pancasila terilhami oleh gagasan-gagasan besar dunia, tapi tetap berakar pada kepribadian dan gagasan besar bangsa Indonesia sendiri.

Pancasila diperingati hari lahirnya pada tanggal 1 Juni 1945. Meskipun gagasan dasar negara itu sudah dikemukakan sejak tanggal 29 Mei 1945 oleh M. Yamin, kemudian 31 Mei 1945 oleh Mr. Soepomo, dan terakhir 1 Juni 1945 oleh Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI.

Kenapa 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila, bukan 29 Mei? Diperingati tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila bukan berarti bahwa gagasan Ir. Soekarno diterima keseluruhan dan ditetapkan sebagai dasar negara. Melainkan karena lewat pidatonya pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945, Soekarno mengemukakan lima dasar negara dan mengenalkan nama Pancasila ke seluruh rakyat Indonesia.

Dalam proses perumusan dasar negara, Soekarno memainkan peran yang sangat penting. Dia berhasil menyintesiskan berbagai pandangan yang telah muncul dan dialah orang pertama yang mengopseptualisasikan dasar negara ke dalam pengertian "dasar falsafah" atau "pandangan komprehensif dunia" (Weltanshauung) secara sistematik dan kohoren.

Dikutip dari buku Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara (29 : 2012), dalam usaha merumuskan dasar negara (Philosofiche Grondslag) Soekarno mengatakan: "Bahwa kita harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama mencari persatuan Philosofiche Grondslag, mencari satu Weltanshauung yang kita semuanya setuju. Saya katakan lagi setuju! Yang Yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang saudara Abikoesno setujui, yang saudara Lim Koen Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus."

Setelah mengatakan itu, Soekarno langsung menawarkan lima rumusan dasar negara menurutnya: 1.Kebangsaan Indonesia, 2.Internasionalisme atau Peri kemanusiaan, 3.Mufakat atau Demokrasi, 4.Kesejahteraan Sosial, 5.Ketuhanan yang berkebudayaan.

Soekarno membatasi hanya cukup lima dasar negara, karena menurutnya kelima unsur itulah yang memang berakar kuat dalam jiwa bangsa Indonesia. Selain itu juga karena Soekarno suka dengan simbolisme angka lima, karena angka lima memiliki nilai keramat dalam antropologi masyarakat Indonesia.

Misal Soekarno menyebutkan: lima rukun islam, lima jari tangan, lima panca indra, ada pandawa lima, juga hal terpenting dalam lima larangan etika adat Jawa (Mo-Limo: maling, madat, main, minum, dan madon). Selain itu, istilah Pancasila juga sudah dipakai dalam buku "Sutasoma" karya Empu Tantular.

Selain lima dasar negara itu, Soekarno juga menawarkan alternatif jika ada yang tak suka dengan jumlah lima. Dengan tanpa membuang semua nilai gagasan yang sudah disampaikannya, lima sila menurutnya bisa diperas menjadi Trisila bahkan Ekasila.

Trisila itu adalah: Socio-nationalisme, socio-democratie, dan ketuhanan. Adapun jika Trisila itu dikerucutkan menjadi satu atau Ekasila akan menjadi sila gotong royong. Bagi Soekarno semua dasar atas Pancasila adalah semangat gotong royong.

Prinsip ketuhanannya harus berjiwa gotong royong (berkebudayaan, lapang dan toleran). Kemanusiaan berjiwa gotong royong (adil dan beradab bukan menjajah). Persatuannya harus berjiwa gotong royong (menghargai perbedaan). Demokrasinya harus berjiwa gotong royong (musyawarah mufakat). Dan Keadilannya juga harus berjiwa gotong royong (semangat kekeluargaan demi kemaslahatan bersama).

Begitulah alur perjalan Soekarno dalam mengemukakan pemikirannya tentang Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945. Pemikiran yang tak sepenuhnya dijadikan dasar negara, tapi melalui apa yang sudah dikatakan, itulah yang menjadi konsep dasar dalam perumusan dasar negara selanjutnya, yakni rumusan Panitia Sembilan dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945, dan rumusan pada Pembukaan UUD 1945 yang akhirnya disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

___
Pustaka: Buku Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Terbitan MPR RI 2012.

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."