BLANTERWISDOM101

Penipu

23 June 2017
“Ayah!!, wanita itu harus selalu berpenampilan menarik, dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Wanita itu ingin terlihat sempurna di mata orang lain, Yah, terutama lelaki. Aku ini sudah besar, pakaian-pakaian ini sudah gak cukup lagi,” ucap Laila kasar ke Ayahnya.

Ayahnya keheranan,“Lho, Ayahkan sudah belikan baju baru kemarin?”

“Baju apa? Itu kekecilan lagi, Yah. Kubuang saja, gak mau aku pakai.”

“Yasudah Ayah belikan lagi nanti siang ya. Sudah jangan marah-marah lagi,” Ayah mendekat ke Laila dan memeluknya.

“Ayah mau belikan lagi?”

“Kenapa tidak? Untuk kebahagiaan putri semata wayangku, apapun akan Ayah lakukan”

“Ayah bohong!!!”

Ayahnya terdiam. Ia menatap putri tercinta yang matanya mulai berkaca-kaca. “Jangan menangis, sayang. Ayah tak mau melihatmu sedih.” Ia pun memeluknya lagi.

“Ayah tak pernah peduli dengan Laila. Sejak ibu meninggal, ayah hanya menitipkanku pada pengasuh. Ayah kerja pagi pulang sore, bahkan sering sampai malam hari. Belum lagi pekerjaan lembur yang Ayah lakoni, waktu untuk Laila hanya sedikit. Apalagi jika harus keluar kota. Pekerja seperti apa Ayah ini? Katanya pegawai tapi kenapa kerjaan Ayah seperti kerja rodi yang ku pelajari di sekolah? Tak kenal waktu. Mungkin bedanya, Ayah di gaji dan mereka (pejuang) tidak.”

“Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu, sayang?”

“Lupakan, Yah! semua terlintas begitu saja. Laila mau jujur, semua baju-baju yang ayah berikan tak pernah Laila pakai. Semua Laila berikan ke teman-teman Laila yang tak punya Ayah.”

“Teganya kamu tipu Ayahmu ini, Lai!”

“Lebih tega siapa, Yah? Penipu sepertiku, atau penipu seperti Ayah,” ucap Laila sembari menunjuk berita harian 'Buronan KPK'."

___
Penulis: Ahmad Mustaqim


Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."