BLANTERWISDOM101

(Muswil 1 IMPI) Never Give Up #1

15 May 2017
Gadis itu, wajahnya begitu kusam dan kusut. Matanya menunjukan kelelahan. Mungkin beberapa malam ini ia terjaga, atau sering tidur terlalu pagi. Tapi, ia berusaha menutupi semuanya. Ia selalu tersenyum seakan baik-baik saja. Sungguh tipuan yang sangat menarik.

"Hai, hai, hai, Taqim. Alhamdulillah sudah datang," sapanya padaku sore itu di depan GSG. Ia menyalamiku, kemudian menyuruhku masuk ke GSG. Aku pun menurut saja.

Di dalam GSG sudah banyak mahasiswa PGMI, mulai dari semester rendah sampai yang semester tinggi sekalipun. Aku menyapa mereka, kemudian duduk di bangku dekat pintu GSG, menikmati nyanyian merdu rombongan paduan suara yang sedang gladi.

Mataku melirik keluar ruangan. Kulihat lagi dirinya. Gadis kusut itu. Sungguh kasihan aku melihatnya yang tampak cemas, tak tenang. Aku pun mendekat ke arahnya yang sedang menyandarkan diri di tugu penyangga GSG. Sendirian.

"Butuh sandaran? Hha," tawarku sedikit bercanda. Berharap ia akan tersenyum. Menenangkan pikirannya yang tak tenang untuk acara besok.

"Huft, kamu, hari ini kamu harus minep. Temenin pesertanya."

"Nggak nemenin kamu aja? Hha." aku tertawa sejenak.

"Hellehh, maunya."

"Hahaha.., pesertanya ada berapa?"

"Dua puluh. Ehh, iya, ini peserta dari Jambi udah dateng loh. Kamu temenin aja mereka di kost Wuri."

"Iya, nanti aku kesana. Ini masih nunggu Arypin dateng," jelasku untuk mengiyakan maksudnya.

"Pokoknya kamu kabari Anwar sama Khoirul. Mereka harus dateng. Nggak boleh telat."

"Iya, iya, santai aja. Sudah beres itu. Tenang yo."

"Nggak bisa tenang. Hhuu. Hhuu. Udah besok acaranya." ungkapnya bernada manja.

"Kalo nggak tenang, malah buyar kamu nanti. Butuh Aqua nih kayanya?"

"Coklat aja!"

"Jiahh..., requestnya."

"Aku mau nemuin bu Isti dulu ya. Tak tinggal. Bye," ia pergi meninggalkanku. Kembali pada kesibukannya sebagai panitia.

"Hmm, oke, oke. Semangat! Stay calm and Success!" ucapku yang entah mampu memberinya semangat atau tidak.

Tak lama kemudian Arypin pun datang. Juga beberapa panitia lainnya yang tadi belum ada. Aku mendekat ke Arypin, menyapa dan mengajaknya masuk ke GSG. Kami pun sedikit membantu kesiapan teknis untuk acara besok. Mulai dari belanja alat-alat yang kurang, pasang banner di area GSG, angkat sound system dan angkat-angkat beberapa kardus minuman kemasan.

Setelah selesai membantu semuanya, aku naik keatas GSG. Membaca banner besar yang sudah terpasang beberapa jam yang lalu. "Musyawarah Wilayah 1 ke 3 Ikatan Mahasiswa PGMI Se-Indonesia" begitu tulisannya. Acara musyawarah nasional PGMI pikirku. Tapi ini hanya wilayah 1, kawasan Sumatera. Musyawarah menentukan para pengurus baru. Sesaat terlintas sebuah pertanyaan, Akankah musyawarah ini pesertanya kebanyakan kaum hawa, seperti realita jurusan PGMI?

"Qim, sini," seseorang memanggilku dari pintu GSG. Aku pun mendekat ke sumber suara itu.

"Ada apa?" tanyaku memastikan.

"Sekarang kamu sama Arypin ke kostku, temenin peserta dari Jambi. Ada dua orang. Sana berangkat!" Ketua Pelaksana acara memerintahkanku untuk segera ke kostnya. Ya, Wuri, si gadis mungil nan gempal yang imut-imut. Mungkin begitu.

"Woke, siap," kataku nurut perintahnya. Segera ku ajak Arypin yang masih duduk santai mengetik sebuah pesan di smartphonenya.

Aku dan Arypin langsung mengangkat barang bawaan yang terkemas dalam tas. Kemudian keluar dari GSG dan mendekat ke kendaraan yang akan kami tunggangi. Motor tua milik Arypin.

Tiba-tiba mataku kembali fokus pada gadis kusam itu lagi. Ia sedang berbincang dengan teman laki-lakinya. Kali ini ia sedikit marah, bingung dan entah apa yang pas untuk menggambarkan ekspresi wajahnya. Kudengar dari kejauhan ia sedikit membentak.

"Kamu tuh dari tadi ngapain aja, udah jam segini nih. Besok kamu pagi-pagi harus temuin pak Prayit!! Bilang ke dia!" suaranya meninggi, mungkin kecewa.

Gadis itu mengajarkanku akan arti ketekunan. Si gadis kusam, ketua kami. Ketua HMJ kami, HMJ PGMI IAIN Metro. Novian Shinta Kurnia, gadis yang hari ini kulihat tak secerah biasanya. Terlihat kusut, kusam dan kelelahan.

Nia adalah satu diantara yang lainnya yang terlihat olehku. Hari ini, sebenarnya ada begitu banyak wajah-wajah kelelahan. Hebatnya tak ada satu pun kata menyerah yang diungkapkan. Never give up for IMPI. Sungguh semua berusaha demi suksesnya acara itu.[] 

Share This :
Ahmad Mustaqim

- "Aku bukan apa yang kamu lihat, bukan pula apa yang kamu baca bahkan mungkin bukan pula apa yang kamu tafsir."