Mengapa Harus Menulis?

1. Menulis mengabadikan gagasan Masih ingat games/permainan penyampaian pesan berantai yang sering didemonstrasikan di pelatihan-pelatihan kepemimpinan, dan sekarang dipentaskan sebagai reality show lucu-lucuan di tivi? Pesan dari sumber informasi -- yang dibisikkan secara lisan -- biasanya melenceng jauh dari aslinya. Pesannya terdistorsi atau malah berubah total. Dalam komunikasi lisan, informasi bersifat transien. Tidak berjejak, umurnya singkat. Mudah dilupakan atau dirubah. Setelah mengarungi belantara ruang dan waktu, pesan atau gagasan lisan menjadi kehilangan otentisitasnya. Sebaliknya, mengambil terminologi dunia komputer, menulis senada dengan upaya membuat data menjadi persisten: memiliki jejak yang kokoh dan tahan lama. Informasi jadi memiliki rujukan yang sahih dan otentik. Bayangkan kalau kitab suci, prasasti, sejarah, buku-buku ilmu pengetahuan tidak pernah ditulis tetapi hanya didongengkan? Mungkin kualitas isinya -- setelah meniti rentang yang panjang -- tidak lebih baik ketimbang dongeng.

2. Menulis memfokuskan tema Alfathri Adlin , karib saya penyuka filsafat, mengilustrasikan dengan pas tentang ini. Dalam komunikasi lisan, orang terbiasa menyampaikan banyak gagasan dalam satu kesempatan bcara. Kalau kita ngobrol selama sejam di kedai kopi, isi obrolan kita spektrumnya luar biasa beragam. Dari rumor geopolitik kekinian; kunjungan Donald Trump ke Arab Saudi; Indonesia yang naik kelas sebagai tujuan investasi; tarif listrik yang melonjak; isu virus "ingin menangis"; sampai dengan tangisan hati karena Raisa dilamar. Semua terjadi dalam satu jam saja. Sayangnya, bejibun tema yang disampaikan dalam waktu singkat itu identik dengan kedangkalan. Berbeda dengan menulis. Satu tulisan umumnya hanya membahas satu tema. Dan karena hanya sedikit tema, maka tulisan lebih memiliki kedalaman.

3. Menulis mensistematisasikan pikiran Berbeda dengan berbicara, menulis membutuhkan proses yang lebih rumit dan berjarak. Ketika menulis, kita memerlukan waktu lebih lama dalam merumuskan gagasan, mencari rujukan, menyusunnya dalam kerangka tutur yang teratur tapi memikat, serta menuliskannya dengan kaidah berbahasa yang tertib. Karena prosesnya yang panjang, menulis melatih kita untuk berpikir secara runut. Ini berbeda dengan berbicara, yang sifatnya lebih spontan.

4. Menulis membuat kita terbuka terhadap pandangan lain Demi menulis, kita pun mau bersusah payah mengumpulkan rujukan. Ini memberikan kesempatan kita untuk menggali seluas mungkin pandangan, baik yang sejalan maupun yang tidak. Karena prosesnya yang relatif lebih lama, kita jadi memiliki kesempatan untuk mempertimbangkan pandangan- pandangan lain secara lebih terbuka.

5. Menulis mengakibatkan gemar membaca, vice versa Mengutip lagi Alfathri, "Makanannya penulis itu bacaan. Tidak mungkin menjadi penulis yang baik jika malas membaca." Indikator literasi memang bisa diukur dari kegemaran membaca. "Kalau mau berlatih menulis, lebih dulu harus 'berlatih' membaca." Lebih jauh lagi, orang yang gemar menulis dan membaca biasanya mencintai ilmu pengetahuan. Lebih mencintai buku, ketimbang piranti sepeda, misalnya.

Lalu, bagaimana dengan kegemaran saya menulis di medsos, chatting di WA dan BBM? Apakah itu menunjukkan budaya literasi saya sudah tinggi? Ups tidak, maaf ya. Menulis di medsos, chatting di WA itu oleh Pak Bambang Sugiharto -- profesor filsafat di Universitas Parahiyangan Bandung -- disebutnya sebagai bagian dari kelisanan residual. Bukan literasinya tinggi, melainkan sekedar memindahkan budaya lisan -- mendongeng, ngobrol, cangkrukan -- dari cara lama ke media digital.

Budaya literasi tinggi, seperti terjadi di negara-negara besar, ditunjukkan oleh berbagai indikator. Misalnya masifnya publikasi buku atau jurnal oleh lembaga pendidikan maupun komersial; tingginya minat baca masyarakat; besarnya penghargaan masyarakat kepada insan buku; banyaknya gedung-gedung perpustakaan publik maupun swasta; dan lainnya. Bukan sekedar riuhnya status facebook dan kiacuan twitter.

By: Fb Agus Kurniawan

0 Response to "Mengapa Harus Menulis?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel