Dalam Kegelapan

Ruangan itu begitu gelap. Tak ada sedikit pun cahaya. Disitulah kita terasa buta. Mungkin hanya spesies kucing yang betah tinggal disana. Tapi nyatanya, ada satu ekor gajah dan empat manusia.

Entah bagaimana mereka bisa tinggal. Tentang bagaimana mereka saling mengenal pun aku tak tahu. Semua keanehan itu hanya kudengar lewat cerita. Cerita dari seseorang yang juga ku tak tahu.

Malam itu aku tertidur pulas. Menikmati malam lelahku. Paginya baru aku tersadar, ternyata semua hanya mimpi. Orang yang menceritakan padaku hanyalah bunga tidur.
.
"Hai, nak, diam saja dari tadi," sapa orang itu. Tampak tua dan berjanggut panjang. Kulitnya khas suku Jawa (sawo matang).
.
Aku yang sedang duduk memegangi kamera di area penampungan satwa langka ini tiba-tiba kaget. Dari mana dia datang? Tadi hanya ada aku sendirian.

Adat jawa yang selalu mengajarkan untuk menghormati yang lebih tua membuatku langsung menyalami dan mencium tangannya, "Ohh, Kek. Maaf kalau dari tadi nggak liat kakek ada disebelah."
.
Entah obrolan apalagi yang kami bicarakan. Selepas terbangun dari tidur semua tampak samar-samar untuk diingat. Tapi tentang cerita darinya, begitu tertanam dalam benak. Mudah kuingat lagi.
.
"Kau tahu nak, ada sebuah ruangan yang begitu gelap. Tak ada yang tahu seberapa besar ruangan itu. Disana ada empat manusia dan satu ekor gajah. Kau tahu apa yang dikatakan empat manusia itu tentang gajah?"
.
"Apa, kek?" kutanya untuk memperjelas.
.
"Manusia pertama mengatakan, gajah itu keras layaknya batu. Manusia kedua mengatakan, gajah itu kecil layaknya ular. Manusia ketiga mengatakan gajah itu besar, besar melebihi manusia. Dan manusia keempat mengatakan, gajah adalah hewan yang memiliki telinga besar."
.
"Hmm, kukira gajah seperti ular itu tak benar, Kek."
.
"Semuanya benar. Sebab manusia pertama, hanya memegang bagian gading. Manusia kedua, hanya memegang bagian ekor. Manusia ketiga, hanya memegang bagian perut. Dan manusia keempat, hanya memegang bagian telinga."
.
"Apa yang salah kek kalau semuanya benar?"
.
"Keempat manusia itu selalu mengatakan pendapatnya lah yang paling benar. Tak peduli dengan pendapat lain dari temannya. Hanya karena mereka merasakan langsung apa itu gajah. Ia begitu mudah mengklaim dirinya benar."

Ku ambil kamera. Ku fokuskan pada satwa (gajah) langka itu. Ku ambil gambarnya untuk dokumen pribadi.

Aku menoleh ke arah kakek itu, "Mungkin karena mereka belum...," sejenak terhenti penjelasanku. Pergi kemana Kakek itu?

"Loh, Kek? Kek?" kulihat sekeliling, "Pergi kemana kamu kek?"

Saat itulah aku langsung terbangun.

0 Response to "Dalam Kegelapan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1 (Link)

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel